Balinetizen.com, Denpasar
Dari sastra otentik Bali Mula, sasih Jiestha dan Sadha, yang berasal dari agama Alam, “Alas panggungan nyembah Widhi”, dua bulan ini dikategorikan sebagai bintang “ngerem”, Ida Bhatara-Bhatari meyasa, semestinya tidak “diganggu” termasuk dengan bhakti “panjakke”.
Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan, Selasa 28 April 2026.
Dikatakan, tradisi yang pantas “ditengok” kembali, di tengah upakara yang begitu semarak, “mengharu biru” menguras energi sumber daya, tetapi transformasi diri untuk menjadi: lebih jujur, “manut ring sesana”, “suci ning nirmala” justru secara umum tidak terjadi.
“Lahir kritik menohok, sebagian orang “mabuk” agama, termasuk mereka yang sepatutnya menjadi panutan,” katanya .
Tahu hasilnya? Menurut Jro Gde Sudibya, Agama sosial (agama rame-rame), menggerus dan bahkan “menghajar” agama spiritual.
Menurutnya, Gumi Baline “benyah latig”, dari: Segara, Danu, Wana dan juga Gunung. Kerusakan alam yang nyaris tak terpulihkan. Ingin buktinya?
Menurut Jro Gede Sudibya, Gunung Tampurhyang, lingha Bhatara Wisnu rusak parah, penguasa membiarkannya. Penguasa yang secara sengaja melakukan deskralisasi Pura-Pura kita, menyebut beberapa: Besakih, Sakenan, Uluwatu, Goa Lawah, Dalem Nusa, bahkan dipuja-puji.
Dikatakan, Gambaran nyata zaman Kali Yuga, orang memuja kekuasaan, uang, keserakahan tanpa batas.
“Kesadaran baca consiousness dalam bahasa teo-filosofi Veda/Vedanta, pindah dari kepala ke kaki, akibatnya prilaku pemimpin formal dan informal “ngandang nganjuh” untuk memuaskan egonya, ahamkara termasuk nafsu besar (maaf) di bawah puser,” kata Jro Gde Sudibya.
Gelising cerita, akhli psikologi, psikiatri cum filosofof ternama Jerman Sigmund Freud menyatakan dalam teori Bawah Sadar nya, motivasi utama dalam prilaku manusia untuk memuaskan nafsu libidonya.
“Hipotesis Sigmund Freud benar adanya pada bagian masyarakat Bali yang doyan (maaf) “memuduh”,” katanya.
Dikatakan, Tetua Bali sejak lama mengingatkan dengan keras bahaya dari prilaku “memuduh” karena: kekayaan, kekuasaan dan juga tampilan fisik.
“Semoga krama Bali segera sadar JAGRA dalam kondisi sosial yang mengancam. Dengan glamor kehidupan di sana sini, dengan fakta “keras”: utang semakin menumpuk, tanah milik leluhur sebagian besar telah “terbang”, “penyama-brayaan”hancur lebur,” kata Jro Gde Sudibya.
Dikatakan, dalam krisis multi dimensi ini, semestinya pemimpin secara kesatrya mengundurkan diri dan atau “dimundurkan” oleh pemimpin partai yang memberikan dia amanat, amanat untuk menjalankan konstitusi, membela “wong cilik” dan menyelamatkan Bali untuk 100 tahun ke depan.
Rahajeng nyanggra raina Anggarkasih Kulantir, sasih Jiestha, Icaka 1948.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

