Jika Gedung Komersial Setinggi 45 Meter Berdiri di Pulau Bali

0
33

 

Oleh : Dr. Ir. I Wayan Jondra, M.Si.

Ketua Umum Paiketan Krama Bali

Berdasarkan simulasi perhitungan dengan asumsi pembangunan gedung komersial setinggi 45 meter di atas 10% lahan Hasil Reklamasi di Pulau Serangan, diperoleh gambaran bahwa dampak yang ditimbulkan tidak lagi berada pada skala sebuah bangunan biasa, melainkan setara dengan sebuah kota baru berkapasitas hampir setengah juta orang. Dengan luas lantai mencapai sekitar 5,65 juta meter persegi, membutuhkan listrik 565 MW setara tiga kali PLTG Pesanggaran, kebutuhan air bersih sekitar 94.250 m³ per hari dengan debit 1.090 liter per detik air danau mana yang akan disedo? Serta menghasilkan air limbah lebih dari 80.000 m³ per hari membutuhkan IPAL dua kali IPAL suwung. Emisi karbon yang dihasilkan diperkirakan mencapai 4,64 juta ton CO₂ per tahun untuk mengkonversi secara alami dibutuhkan sekitar 415.000 hektare hutan tropis, atau mendekati 80% luas daratan Pulau Bali. Yang paling masalah saat ini adalah urusan sampah yang dihasilkan oleh gedung ini diperkirakan mencapai 471 ton perhari, bagaimana mengolahnya?. Perhitungan ini merupakan simulasi berbasis sejumlah asumsi teknis mungkin perlu penelitian lebih detail lagi. Hasil sementara yang perlu dicek kembali oleh para ahli, menunjukkan bahwa wacana pembangunan gedung tinggi 45 meter di Pulau Bali atau mungkin Pulau Serangan atau lahan Pusat Kesenian Bali Klungkung perlu dikaji secara sangat hati-hati melalui analisis daya dukung Bali. Artikel ini baru menimbang dari aspek teknis, belum lagi dampak-dampak lain seperti kependudukan, keamanan, sosial, budaya dan agama.

Sebagai contoh, saya gunakan luas lahan reklamasi di sekitar pulau Serangan yang sering disebut sekitar 435 hektare (dari total Pulau Serangan pascareklamasi sekitar 481 ha sumber: https://www.semanticscholar.org/paper/PEMANFAATAN-LAHAN-PRA-DAN-PASCA-REKLAMASI-DI-PULAU-Darmawan/5f8600bb3d512c888f8fe0ccda3dbb7d8697e181), kalau pun dibangun di Lahan PKB Klungkung yang luasnya kurang lebih 325 hektare dengan luas hektare yang sama kira-kira perhitungannya akan sama.

Baca Juga :  Atas Putusan PTUN, Partai Beringin Karya Segera Lakukan Upaya Banding

Jika Luas lahan yang dibangun gedung setinggi 45 meter saya asumsikan 10% dari lahan yang dikuasai, sehingga   atau setara dengan . Jika diasumsikan tinggi lantai komersial (mall/kantor/hotel) ≈ 3,5 m, maka Jumlah lantai di atas tanah (asumsi tidak ada basement), maka jumlah lantainya :  ≈ 13 lantai. Jika seluruh area menjadi tapak bangunan, maka luas lantai bangunan menjadi :  = 5.655.000 m². Jadi luas lantai total: ±5,65 juta m².  Untuk bangunan komersial, standar kepadatan berbeda-beda: Mall/retail: ±3–5 m²/orang, Kantor: ±8–12 m²/orang, Hotel: tergantung jumlah kamar, Convention/exhibition: bisa lebih padat, dalam perhitungan ini kita ambil asumsi paling luas 12m2/orang = 471.250 orang mendekati angka setengah juta orang, dengan luas lantai: .

Kebutuhan Listrik untuk 1 gedung tersebut belum termasuk fasilitas penunjang seperti instalasi pengolahan limbah, pengadaan air bersih (sumur/pengolahan air laut),  jika diprediksi: Skenario Sedang (100 W/m²), maka kebutuhan listriknya dapat dapat dihitung: luas lantai dikalikan dengan prediksi kebutuhan listrik 100 Watt/meter persegi, akan sama dengan :    , dibutuhkan 1 unit pembangkit sedang untuk memenuhi kebutuhan listriknya, kira-kira besarnya 3x Pembangkit di Pembangkit Listrik Tenaga Gas di Pesanggaran yang mempunyai daya mampu 200 MW.

Kebutuhan air bersih, dalam perencanaan standar kawasan komersial dan perkotaan biasanya: 100–150 liter/orang/hari (minimum) atau 200–300 liter/orang/hari (hotel, restoran, pusat wisata). Jika sebagaimana asumsi di atas terdapat , dan konsumsi kita ambil yang moderat: , maka kebutuhan air untuk satu gedung komersial lantai 13 di kawasan BTID:   . Jika satu hari sama dengan detik, maka untuk melayani kebutuhan air tersebut dibutuhkan sumber air dengan Debit rata-rata  , jika kecepatan air 1 meter per detik, maka dibutuhkan pipa dengan diameter 1,2 meter, bisa dibayangkan betapa besar pipanya. Trus airnya dari mana? Apakah dari danau batur? Atau Danau Beratan? Punya kemampuan danau itu mensuplaynya?

Baca Juga :  Internasional Jembrana Bali Chocolate Festival, Kenalkan Jembrana Sebagai Kota Cokelat Ke Mancanegara 

Belum lagi air limbah yang dihasilkan dari air bersih sebesar , jika diasumsikan biasanya:  menjadi limbah, kita ambil data moderat 85%, maka limbah yang dihasilkan adalah sebesar:   Jadi diperlukan instalasi pengolah air limbah IPAL dengan kapasitas: ±80.112,5 m³/hari,  dibutuhkan IPAL sebesar dua kali lipat IPAL Suwung yang direncanakan memiliki kapasitas 51.000 meter kubik per hari yang memakan lahan seluas 10 hektar. Dimana mau dibuat IPAL itu? Apa mau dibuang ke laut?

Kebutuhan kapasitas AC / Cooling Load, untuk gedung komersial di daerah tropis, kebutuhan pendinginan tipikal: Mall/retail: 120–180 W/m² Kantor: 80–120 W/m² , Hotel: 100–150 W/m². Dalam hal ini  Kita ambil nilai tengah: , Maka:  = 847,5 MW thermal Ini adalah beban pendinginan (cooling capacity). Jika dikonversi ke TR (Ton Refrigeration): , maka beban pendingin menjadi =  = ±241.000 TR.  Jadi kebutuhan AC kira-kira:  ±240.000 TR

Total emisi karbon kawasan  dihitung berdasarkan Listrik seluruh gedung: ±3,7 juta ton CO₂/tahun, ditambahan aktivitas manusia:   471.250 orang dikail  2 ton karbon yang dihasilkan perorang pertahun dibagi 1.000.000 setara dengan  juta ton karbon dioksida pertahun. Maka total emisi karbon yang dihasilkan: setara dengan kurang lebih 4,6425 juta ton karbon dioksida pertahun.

Luas hutan yang dibutuhkan untuk menyerap karbon tersebut, dapat dihitung dengan memperhatikan kinerja hutan tropis. Kemampuan hutan tropis menyerap karbon bervariasi, kisaran yang sering digunakan: ±5–20 ton CO₂/ha/tahun untuk hutan tropis. Jika kita gunakan nilai konservatif kinerja hutan tropis sebesar 10 ton karbondioksida per hektar pertahun , maka luas hutan yang dibutuhkan dapat dihitung sebesar  kurang lebih sebesar 415.000 hektare hutan atau setara dengan  4.150 kilo meter persegi hutan. Jika luas pulau Bali sebesar 5.590,15 kilo meter persegi, maka 80% Pulau Bali harus dihutankan. Begitu besar dampak yang dihasilkan oleh ide bangunan dengan tingngi 45 meter.

Baca Juga :  Bareskrim Polri Ungkap Grub Facebook Penyebar Pornografi Anak, Enam Tersangka Ditangkap

Kita dapat menghitung perkiraan timbulan sampah dari gedung komersial 45 meter tersebut berdasarkan asumsi sebelumnya: untuk kawasan komersial, timbulan sampah sangat bergantung pada aktivitas. Standar pendekatan yang umum digunakan: Perkantoran: ±0,3–0,5 kg/orang/hari; Mall/pusat perdagangan: ±0,5–1,5 kg/orang/hari; Hotel/restoran/wisata: bisa >1 kg/orang/hari, dalam perhitungan ini kita ambil nilai moderat untuk kawasan komersial campuran: , maka Timbulan sampah harian mencapai:  = 471.250 kg/hari atau: ±471 ton sampah/hari. Mau dibuang kemana sampahnya?  Saya berkeyakinan ada permasalahan teknis lain yang perlu diperhitungkan misalnya transportasi, dan akomodasi dan lain-lain, perlu kajian yang panjang dan sabar untuk ide ini.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here