Dewi Penglipuran Bangli Siap Digelar Juli 2026, Dorong QRIS dan Homestay 100%

0
40

 

Balinetizen.com, Denpasar

 

Desa Wisata (Dewi) Penglipuran yang terletak di Kabupaten Bangli, Bali, terus mematangkan persiapan menjelang perhelatan akbar Penglipuran Village Festival ke-13. Festival tahunan yang sangat dinantikan ini dijadwalkan berlangsung pada 9 hingga 11 Juli 2026 mendatang.

​Guna menyambut lonjakan wisatawan, pihak pengelola melakukan berbagai pembenahan dari sisi manajemen dan tata kelola. Salah satu langkah strategis yang diambil tahun ini adalah dengan terbentuknya Baga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) untuk memperkuat kemandirian ekonomi desa.

​Pengamat Ekonomi dan Pariwisata, Trisno Nugroho, menegaskan komitmennya untuk terus mewujudkan destinasi yang regeneratif bagi Bali, khususnya di Desa Wisata Penglipuran. Festival tahun ini juga akan menjadi momen bersejarah dengan pemanfaatan teknologi modern.

​”Pada saat festival, kita akan melakukan launching logo baru Desa Wisata Penglipuran dan merilis video dokumenter berbasis AI. Ini penting karena akan menjadi peta sejarah Dewi Penglipuran,” ujar pria yang pernah menjabat sebagai Direktur Bank Indonesia Perwakilan Bali ini, saat acara simakrama bersama media di Denpasar, Senin (22/6/2026).

​Sebagai desa yang mempertahankan 78 rumah adat berstyle Bali yang unik dan kebersihan yang terjaga, Penglipuran dinilai memiliki akar budaya yang sangat kuat. Hal ini menarik dukungan penuh dari Bank Indonesia (BI) selaku sponsor utama dalam mendorong pertumbuhan UMKM setempat.

​Dukungan terhadap keberlanjutan ekonomi desa juga ditegaskan oleh Kepala Humas Bank Indonesia, I Gede Panca Sutresna. Pihak BI terus memperluas ekosistem pembayaran digital di area wisata untuk mempermudah wisatawan.

​”Untuk alat pembayaran kini sudah menggunakan cashless (non-tunai). Kami terus mendukung setiap desa wisata dengan optimalisasi penggunaan QRIS,” jelas I Gede Panca Sutresna.

​Meskipun data spesifik transaksi digital belum dipaparkan secara rinci, BI berkomitmen untuk mendorong perluasan kanal pembayaran digital ini ke seluruh pelosok destinasi wisata di Bali demi kelancaran transaksi UMKM dan pengunjung.

Baca Juga :  Mantan Gitaris Gigi Aria Baron Meninggal Dunia

​Masalah lingkungan, khususnya pengelolaan sampah, juga menjadi fokus utama pada festival tahun ini. Kepala BUPDA Dewi Penglipuran I Wayan Sumiarsa, mengungkapkan bahwa Penglipuran tidak hanya sekadar mengolah sampah, tetapi juga membangun kesadaran lingkungan lewat edukasi.

​”Sesuai arahan dan komitmen kami dengan Bank Indonesia, sampah di Penglipuran akan diselesaikan di dalam desa. Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sampah plastik akan didaur ulang menjadi produk souvenir yang bisa dibawa pulang oleh wisatawan,” kata I Wayan Sumiarsa yang juga didampingi oleh pengamat kebijakan publik Umar Ibnu Alkhatab yang merupakan mantan Kepala ORI Bali.

​Ke depan, pengelola akan menyediakan paket wisata edukasi khusus. Melalui paket ini, wisatawan dapat belajar langsung cara mengolah sampah sekaligus membawa pulang hasil kreativitas daur ulang tersebut.

Terlebih pelaksanaan festival yang berada di masa libur sekolah, pihak pengelola optimis antusiasme wisatawan khususnya Nusantara akan tetap luar biasa seperti tahun-tahun sebelumnya.

​Festival ini diharapkan memberikan multiplier effect (efek berganda) yang nyata bagi perekonomian masyarakat, terutama bagi sektor UMKM dan penyedia akomodasi.

​”Dari pengalaman tahun lalu, ketika festival berlangsung, tingkat hunian homestay selalu melonjak mendekati 100%, berbanding terbalik dengan hari biasa yang berada di bawah 50%. Kami optimis festival tahun ini akan kembali menjadi magnet utama kunjungan wisatawan,” tutup Wayan Sumiarsa seraya mentargetkan nilai transaksi acara ini mampu meraup sekitar Rp3 miliar seperti capaian tahun sebelumnya.

(Jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here