Refleksi Raina Tumpek Kuningan, Momentum Menyelamatkan Pulau Serangan dari Investasi yang Tidak Bertanggung-jawab

0
37

Jro Gde Sudibya

Sabtu, 27 Juni 2026, raina Tumpek Kuningan, pujawali ring Pura Sakenan dan prasanaknya. Pulau ini, kaya sejarah spiritualitas yang membatin bagi krama Bali khususnya yang bermukim di Denpasar dan Badung. Setiap raina Kuningan pralingha Ida Bhatara-Bhatari “keiring nyaksi” pujawali ring Pura Sakenan.
Jejak spiritualitas pakulun Dang Hyang Dwijendra dan Mpu Astapaka nyata di Pulau Sakenan. Jika merujuk sastra yang lebih tua, Prasasti Blanjong 914 tentang kepemimpinan Cri Kesari Warmadewa, relasinya dengan Pura Dalem Pengembak dan “bebaruran” ring Serangan menggambarkan adanya peradaban tua di Pulau Serangan.
Dalam sejarah mutakhir, Pulau Serangan di “serang” oleh kekuatan modal yang berkolusi dengan penguasa semenjak awal dasa warsa 90’an. Terjadi pemaksaan dalam pembebasan tanah warga, reklamasi yang dimulai tahun 1996 yang merusak bentang alam, mencemari kesucian, sampai pengempon Pura Sakenan melakukan upakara “Mlabu Gentuh”, penyucian kembali alam.
Pulau Serangan “karang” suci, sebagai mana ditunjukkan oleh tradisi di desa-desa Bali suci lainnya, tidak diperkenankan upakara pengabenan dengan membakar Sawa.
Ketidak-adilan berlangsung massif berkepanjangan lebih dari 30 tahun, “hasil”nya: sejumlah Pura dan Pelabanya diterbitkan SHGU yang dimiliki oleh investor, pemedek menemui hambatan “tangkil” ke Pura, ruang hidup para nelayan menjadi semakin menyempit. Krama Serangan nyaris putus asa dalam derita lahir batin berkepanjangan, dan kehilangan harapan di tanah leluhurnya.
Di Tengah derita ini, Semesta mengirimkan “utusan” para “kesatrya” Pansus TRAP DPRD Bali yang dipimpin oleh putra terbaik Bali Made Supartha, yang mengungkap secara terang benderang berbasis fakta lapangan dan didukung oleh argumentasi hukum yang kuat, telah terjadi pelanggaran hukum serius dari proyek ini. DPRD Bali telah menerbitkan rekomendasi ke Gubernur Bali atas temuan Pansus TRAP.
“Dauh Ayu” untuk menyelamatkan Pulau Serangan dari “kekejaman” investasi dan mengembalikan Serangan ke jati dirinya, Parhyangan, Pawongan, Palemahan, Sekala lan Niskala.
Sekarang “bola panas” ada di Gubernur Bali sebagai pimpinan ekskutif sekaligus ex officio Ketua Dewan Pengarah KEK Pulau Serangan. Publik menunggu sikap “Satya Wacana” Gubernur Bali tentang Etika Kehidupan Tri Hita Karana, Visi Sad Kerthi Loka Bali dan Sat Kerthi Loka Bali.
Dalam pengertian sederhana Sat Kerthi Loka, menghadirkan sorga di dunia. Momentum bagi Gubernur untuk menghadirkan sorga di Pulau Serangan seperti yang telah diwariskan Cri Kesari Warmadewa, Dang Hyang Dwijendra, Mpu Astapaka.
Semoga “pujawali” Tumpek Kuningan, 27 Juni 2026, Ida Bhatara-Bhatari ring Pura Sakenan “mecihna”,Pulau Serangan memasuki era baru sejalan dengan sejarah panjang peradabannya.
Rahayu.

Baca Juga :  Bertemu Presiden Jokowi, AHY Harapkan Semua Pihak Dewasa Sikapi Hasil Resmi KPU

Jro Gde Sudibya, penasehat Forum Pemerhati Pembangunan Bali, For HATI Bali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here