Refleksi Raina Anggarkasih Medangsia, Tantangan Keras untuk Merawat Kesucian Pulau Dewata

0
28

Ilustrasi

Oleh : Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan.

Hari ini, 7 Juli 2026, raina Anggarkasih Medangsia, sasih Kedasa Icaka 1948, pujawali, piodalan ring Pura Kahyangan Jagat: Luur Andakasa, di Selatan Pulau Bali, pemujaan Tuhan Brahma dengan “pengurip” 9, Pura Goa Lawah di Tenggara Pulau Bali, pemujaan Tuhan Maheswara dengan “pengurip” 8, Luur Uluwatu di Barat Daya Pulau Bali, pemujaan Tuhan Rudra dengan pengurip 3.
Pujawali di Sisi Selatan, Tenggara, dan Barat Daya Pulau Bali, dalam perspektif sastra rokhani, Bali yang disimbolikkan dengan PADMA BHUWANA, “diayomi” oleh kekuatan Tuhan Ciwa di delapan penjuru angin Bali.
Keyakinan dan nalarnya, Bali akan mampu menghadapi tantangan dan musuh dari luar, tetapi amat rentan dari “musuh” dari dalam, kualitas intelektual, moral dan spiritual dari manusia manusia Bali dalam menjaga dan merawat: Alam, Kebudayaan dan Kesuciannya.
Kualitas Manusia yang teguh hati, penuh ketulusan (lascarya), kerelaan penuh mengabdi (nuking tuwas), prestasi yang “metaksu” dan sikap “jengah” dalam merespons perubahan yang keras.
Menyebut saja beberapa perubahan keras yang dimaksud, malapetaka datang pelan mematikan -on off disaster-, pertama, materialisme yang menggerus spiritualisme, kehidupan yang menjadi serba boleh, “gabeng” yang dapat “menabrak” kawasan kesucian Pura yang seharusnya disakralkan. Kedua, tradisi untuk setia untuk mengikuti keteladan para leluhur dengan tradisi hukum karma, sekarang dimanipulasi untuk kepentingan jangka pendek, kekhausan akan kesenangan, kenikmatan dengan melanggar habis “sesana” etika kehidupan.
Ketiga, keteladan kepemimpinan yang sirna, kalau tidak mau dikatakan punah, kejujuran, dharma pengabdian untuk masyarakat berubah wujud menjadi “dasa muka” prilaku: demogogi politik (pintar membuat janji yang kemudian diingkari), tipu muslihat dan kelicikan dalam prilaku, dengan “menyuap” rakyat melalui uang negara yang pada dasarnya diselewengkan, lengkap dengan pamer mewah aksesori seharga Rp.5,2 M – Rp.8 M.
Sejumlah tantangan keras untuk merawat kesucian Pulau Dewata, melalui kemampuan dalam mengendalikan musuh dalam diri, terutama bagi tuan-puan yang sedang berkuasa.

Baca Juga :  OPM dan Hari HAM Internasional

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here