Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026: Pasabhan Kabudayaan Jawa–Bali Menyusuri Jejak Peradaban Nusantara

0
70

 

Balinetizen.com, Gianyar

Yayasan Puri Kauhan Ubud kembali menyelenggarakan Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026, sebuah perjalanan budaya lintas Jawa dan Bali yang menghadirkan pementasan Tari Topeng Sakral Sri Aji Dalem Jawi dan Wayang Wong Tantri di lima situs budaya dan spiritual bersejarah di Pulau Jawa.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan kebudayaan Jawa–Bali melalui Pasabhan Kabudayaan Jawa–Bali, sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai luhur ajaran para leluhur melalui media seni dan budaya.

Rangkaian perjalanan budaya tersebut akan dimulai pada 13 Juli 2026 di Pura Agung Blambangan, Banyuwangi, dilanjutkan 14 Juli 2026 di Wihara Padepokan Dhammadipa Arama, Batu, Malang, 15 Juli 2026 di Candi Tegowangi, Kediri, 17 Juli 2026 di Pendhapa Ageng Pura Mangkunegaran, Surakarta, dan ditutup pada 18 Juli 2026 di Utama Mandala Candi Prambanan, Yogyakarta.

Sastra Saraswati Sewana Yatra bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi merupakan perjalanan kebudayaan yang membawa pesan persatuan, harmoni, dan kebijaksanaan Nusantara. Tari Topeng Sakral Sri Aji Dalem Jawi merepresentasikan visi besar para leluhur dan raja-raja Nusantara dalam membangun persatuan serta menjaga keluhuran peradaban. Sementara Wayang Wong Tantri mengangkat ajaran moral yang bersumber dari kisah-kisah Tantri tentang kepemimpinan, kejujuran, kebijaksanaan, toleransi, serta hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, mengatakan bahwa Sastra Saraswati Sewana Yatra merupakan ikhtiar kebudayaan untuk merawat ingatan kolektif bangsa.

“Pasabhan Kabudayaan Jawa–Bali merupakan ruang perjumpaan antarnilai, antarsejarah, dan antarsaudara sebangsa. Melalui seni, kita tidak hanya merawat warisan budaya, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai moral yang diwariskan para leluhur sebagai fondasi membangun Indonesia yang beradab, rukun, dan berkepribadian.”

Baca Juga :  Polda Metro tingkatkan kasus laporan Luhut Pandjaitan ke penyidikan

Menurutnya, pemilihan lima lokasi tersebut memiliki makna simbolik yang kuat. Masing-masing merupakan simpul penting perjalanan sejarah, spiritualitas, dan kebudayaan Nusantara yang memperlihatkan bagaimana peradaban dibangun melalui dialog, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman.

Penyelenggaraan Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 terlaksana berkat dukungan penuh dari Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Yayasan Dhammadipa Arama, Pura Mangkunegaran, serta Tim Kerja Pemanfaatan Candi Prambanan. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga, mengembangkan, dan memanfaatkan warisan budaya Nusantara sebagai sumber inspirasi bagi kehidupan berbangsa.

Melalui Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026, Yayasan Puri Kauhan Ubud berharap seni budaya tidak hanya menjadi media pelestarian tradisi, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter, penguatan identitas kebangsaan, serta jembatan yang mempererat hubungan kebudayaan Jawa dan Bali. Di tengah dinamika zaman, nilai-nilai luhur para leluhur tetap menjadi sumber inspirasi untuk membangun masa depan Indonesia yang berakar kuat pada budaya dan menjulang tinggi dalam peradaban dunia. (rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here