Kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Candi Prambanan: Momentum Menapak Jejak Peradaban dan Mewarisi Nilai Luhur Leluhur Nusantara

0
56

 

Yayasan Puri Kauhan Ubud menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kunjungan Perdana Menteri India, Narendra Modi, ke Candi Prambanan. Kunjungan ini merupakan sebuah peristiwa bersejarah yang semakin mempererat hubungan persahabatan Indonesia–India yang telah terjalin selama berabad-abad melalui ikatan kebudayaan, peradaban, dan spiritualitas.

Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah dan Rakyat India atas dukungan serta kerja sama yang telah diberikan dalam membantu proses restorasi Candi Prambanan. Kontribusi tersebut merupakan wujud nyata semangat persahabatan kedua bangsa dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya dunia bagi generasi mendatang.

Kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi bukan sekadar kunjungan kenegaraan, melainkan juga sebuah perjalanan simbolik yang menapak kembali jejak sejarah panjang hubungan kebudayaan antara India dan Nusantara. Dari hubungan tersebut lahirlah proses kreatif yang melahirkan peradaban Nusantara dengan identitas dan kejeniusannya sendiri.

Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa Candi Prambanan adalah mahakarya genius para leluhur Nusantara yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia. Candi Prambanan bukan sekadar situs arkeologi, melainkan sebuah ensiklopedia peradaban yang menyimpan pengetahuan, nilai, dan pesan luhur.

Pertama, dari perspektif arsitektur dan teknologi, Candi Prambanan dibangun dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi konstruksi terbaik pada zamannya. Dibandingkan dengan banyak kompleks candi di dunia, Prambanan memiliki keistimewaan dalam kemegahan bangunan, ketinggian struktur, kualitas seni pahat, serta kedalaman pesan moral yang dituangkan dalam relief-reliefnya. Hal ini membuktikan bahwa para leluhur Nusantara memiliki kemampuan luar biasa untuk membangun karya monumental yang megah, indah, dan bertahan melintasi zaman.

Kedua, tata ruang Candi Prambanan menempatkan Candi Siwa sebagai candi utama yang didampingi oleh Candi Brahma dan Candi Wisnu. Konsep ini menunjukkan bahwa para leluhur Nusantara telah mengembangkan tradisi penghormatan terhadap keberagaman dalam harmoni. Nilai tersebut memiliki kemiripan dengan konsep Kahyangan Tiga di Bali yang memuliakan Tri Murti sebagai satu kesatuan dalam kehidupan spiritual masyarakat.

Baca Juga :  Kapolri ungkap niat menarik pegawai KPK tak lulus TWK jadi ASN Polri

Ketiga, Kompleks Candi Prambanan dibangun berdampingan dengan Kompleks Candi Sewu yang bercorak Buddha. Kedekatan kedua kompleks suci ini menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk hidup berdampingan secara harmonis. Nilai tersebut sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, yang telah hidup dalam peradaban Nusantara sejak masa lampau.

Keempat, Candi Siwa di Prambanan merupakan salah satu representasi paling lengkap dari konsep pemujaan kepada Siwa Mahadewa. Walaupun tidak ditemukan lingga-yoni, ruang utama diisi oleh Arca Siwa Mahadewa yang menghadap ke timur dan dikelilingi oleh Arca Durga Mahisasuramardini, Arca Ganesha, dan Arca Maharsi Agastya. Susunan ini menunjukkan bahwa pemujaan kepada Siwa dipahami sebagai satu kesatuan ajaran bersama sakti, kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, dan tradisi keguruan.

Kelima, para leluhur Nusantara menitipkan pendidikan moral melalui relief-relief candi. Kisah Ramayana, Krisnayana, serta relief Kalpataru bukan sekadar karya seni, melainkan media pendidikan karakter yang mengajarkan kepemimpinan, kebajikan, pengabdian, keberanian, kasih sayang, dan keseimbangan hidup.

Keenam, relief-relief Candi Prambanan juga merekam kehidupan masyarakat Nusantara pada masa itu, mulai dari tradisi boga, kesenian tari, musik, hingga kehidupan sosial sehari-hari. Dengan demikian, Prambanan menjadi sumber pengetahuan yang sangat berharga mengenai peradaban Nusantara klasik.

Oleh karena itu, kita tidak boleh berhenti hanya pada rasa kagum terhadap keagungan warisan leluhur atau merasa bangga karena para pemimpin dunia mengagumi Candi Prambanan. Momentum ini harus menjadi pengingat untuk mewarisi nilai-nilai luhur yang dititipkan oleh para leluhur Nusantara.

Candi Prambanan mengajarkan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi akan melahirkan karya-karya besar yang diakui dunia. Prambanan juga mengajarkan pentingnya membangun harmoni di tengah keberagaman serta menghormati perbedaan sebagai kekuatan bangsa.
Lebih jauh lagi, Candi Prambanan mengingatkan bahwa membangun bangsa tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik dan ekonomi. Pembangunan karakter, kebudayaan, etika (sesana), dan moralitas harus berjalan beriringan. Nilai-nilai tersebut tercermin dengan sangat jelas dalam relief Ramayana, khususnya ajaran kepemimpinan Asta Brata yang disampaikan Prabu Rama kepada Wibisana sebagai pedoman bagi seorang pemimpin yang adil, bijaksana, dan mengutamakan kesejahteraan rakyat.

Baca Juga :  Bali Menjadi Barometer Kemenangan Probowo-Gibran Secara Nasional

Semoga kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Candi Prambanan menjadi momentum untuk memperkuat persahabatan Indonesia dan India, sekaligus membangkitkan kesadaran kita semua agar tidak hanya menjadi pewaris bangunan-bangunan agung peninggalan leluhur, tetapi juga menjadi pewaris ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, karakter, dan nilai-nilai luhur peradaban Nusantara.

Ubud, 10 Juli 2026
Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana
Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here