Mengenang Pemikiran Prof.Ngurah Bagus di Tengah Bali Diterpa Krisis Kebudayaan

0
55

 

Diskusi memperingati 93 tahun kelahiran mendiang Prof. I Gusti Ngurah Bagus di Mahalo Cafe, Denpasar, Minggu (12/7/2026).

Denpasar

Dalam perspektif pemikiran Prof.Ngurah Bagus Bali kini sedang ditimpa krisis kebudayaan yang pangkal penyebabnya krisis kepemimpinan dalam lingkup luas dengan daya rusak budaya yang dashyat.

Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan, Selasa 14 Juli 2026.

Menurut Jro Gde Sudibya, dalam krisis kebudayaan yang berlangsung, pemikiran dialektika tidak lahir, thesa, antithesa dan sintesa.

Dikatakan, yang sangat berbahaya kegagalan tidak diakui dan bahkan dianggap kesuksesan, termasuk melalui pencitraan dengan dana besar. Sehingga pemikiran dialektik tidak lahir.

“Lebih berbahaya lagi, “barisan orang bertitel” meminjam istilah Soetan Sjahrir, sebagai instrument pembenaran dan legitimasi dari banyak kebijakan publik yang sarat masalah,” katanya.

Menurutnya, panggilan Kenabian dari kalangan cerdik cendikia tidak muncul, sekadar “pak turut” kekuasaan, atau “tiarap” untuk menyelamatkan kepentingan diri.

“Jangankan mengharapkan pemikiran jernih, kritis berdimensi masa depan, tempat “mesayuban” bagi warga meminjam istilah Prof.Bagus di tengah “musim kering” peradaban. Apalagi kritik keras model “matbat” dengan niat dan itikad baik untuk koreksi, yang sering menimbulkan salah mengerti, “salah tampi” yang kupingnya tipis,” katanya.

Menurut Jro Gde Sudibya, di tengah krisis kebudayaan yang menimpa Bali, revitalisasi pemikiran Prof.Bagus menjadi semakin penting tentang: pergeseran sistem nilai dalam transformasi masyarakat yang disebut dengan pembangunan.

Dikatakan, kegagalan masyarakat “culture shock” dalam masyarakat transisi, satu kakinya menginjak di tradisi agraris pertanian yang religius dan satu kaki lainnya telah berkubang dalam modernisme sekuler.

Sebagai teman diskusi Prof.Ngurah Bagus lebih dari 25 tahun, bersama teman lainnya, Acarya Yogananda yang telah “mulih ke jati mula”, Pak Drs. Ketut Ngastawa SH, rekan senior tidak suka berbasa-basi, “straight forward” dengan persoalan, dan seperti umumnya orang Bali yang rasional tidak suka puja-puji.

Baca Juga :  Angkringan Dapoer Ode Sajikan Menu Soto, Ada Juga Mojito Lho

Menurut Jro Gde Sudibya, seturut dengan pemikiran rekan senior ini, Bali memerlukan Strategi Kebudayaan yang cerdas, tidak sekadar produk tontonan yang dijadikan komoditas politik, design strategi dalam pertemuan budaya -culture encounter” antar bangsa.

Dikatakan, perpustakaan pribadinya yang begitu besar, yang didanai dengan dalam bahasa berseloroh rekan senior ini, “berani membeli dari menjual tanah”, dan selalu merasa “kerauhan” kalau melihat tumpukan buku yang menantang untuk dibaca, mungkin sekarang hanya bisa “disantap” oleh putra bungsu beliau, rekan Prof.Dr.Ir.Ngurah Santiarsa.

“Prof.tetaplah tenang di alam sana, banyak rekan dan murid-murid di sini sesuai kemampuan menkultivasi pemikiran Bapak,” katanya.

Nama Prof. I Gusti Ngurah Bagus tidak hanya dikenang sebagai antropolog dan budayawan Bali, tetapi juga sebagai sosok yang meletakkan fondasi kajian kebudayaan Bali di tingkat internasional. Dalam diskusi memperingati 93 tahun kelahiran mendiang di Mahalo Cafe, Denpasar, Minggu (12/7/2026), para akademisi menyebut warisan intelektual Prof. Bagus masih menjadi rujukan penting bagi peneliti yang ingin memahami Bali secara utuh.

Guru Besar Program Doktor Bisnis Pariwisata Politeknik Pariwisata Negeri Bali, Prof. Dr. Gede Mudana, MSi, mengatakan pengakuan terhadap Prof. Bagus tidak hanya datang dari kalangan akademisi di Indonesia, tetapi juga dari komunitas ilmiah dunia. Menurutnya, Prof. Bagus dikenal sebagai “The Father of Balinese Studies”, sebutan yang diberikan oleh sejarawan Universitas Leiden, Prof. Henk Schulte Nordholt.

“Kalau orang ingin meneliti Bali pada masa itu, legitimasi akademiknya hampir selalu dikaitkan dengan Prof. Bagus. Beliau menjadi pintu masuk bagi banyak peneliti asing yang datang ke Bali,” ujar Mudana.

Predikat tersebut bukan sekadar penghormatan simbolik. Berdasarkan catatan perjalanan akademiknya, Prof. Bagus berperan sebagai pembimbing intelektual, penghubung, sekaligus “kastodian” bagi para peneliti yang mengkaji kebudayaan Bali. Bahkan antropolog Max Hobart pernah menyebut, siapa pun yang hendak melakukan penelitian tentang Bali semestinya memperoleh “restu” dari Prof. Bagus sebagai bentuk pengakuan akademik terhadap otoritas keilmuannya.

Baca Juga :  Update Penanggulangan Covid-19, SENIN, 7 September 2020

Selain membangun jejaring internasional, Prof. Bagus juga meninggalkan monumen akademik melalui pendirian Program Pascasarjana Kajian Budaya Universitas Udayana. Program yang mulai berkembang pada pertengahan 1990-an itu menjadi pelopor studi cultural studies di Indonesia dengan pendekatan multidisipliner yang mempertemukan antropologi, sastra, sejarah, agama, hingga seni.

Pengamat sosial budaya Drs. Putu Suasta,M.A., menilai kekuatan terbesar Prof. Bagus bukan hanya pada keluasan ilmu yang dimiliki, tetapi kemampuannya menjadi penggerak lahirnya gagasan-gagasan baru. Menurutnya, banyak akademisi Indonesia memperoleh kesempatan memperluas jaringan penelitian internasional berkat dorongan dan inisiatif Prof. Bagus.

“Beliau itu katalis. Banyak kerja sama akademik yang lahir karena beliau mampu mempertemukan para peneliti Bali dengan ilmuwan dunia,” kata Suasta yang juga alumni Cornell University dan New York University.

Suasta mencontohkan sejumlah forum ilmiah di Australia yang mempertemukan akademisi Indonesia dengan peneliti dari berbagai universitas dunia. Dari diskusi-diskusi tersebut lahir berbagai publikasi internasional mengenai Bali yang hingga kini masih menjadi referensi penting dalam studi kebudayaan.

Menurutnya, Prof. Bagus juga berhasil membangun ruang dialog yang mempertemukan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu. Kehadirannya tidak hanya memperkaya perspektif tentang Bali, tetapi juga mendorong lahirnya pendekatan-pendekatan baru dalam memahami perubahan sosial dan budaya masyarakat Bali.

Warisan pemikiran Prof. Bagus juga tampak dari banyaknya murid yang kini menjadi akademisi dan peneliti. Bagi mereka, Prof. Bagus bukan hanya dosen, melainkan mentor yang mendorong mahasiswa berpikir kritis, berani berbeda pendapat, dan tidak berhenti mempertanyakan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Dalam perjalanan akademiknya, Prof. Bagus menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, serta Universitas Leiden, Belanda. Ia kemudian menjadi dosen Universitas Udayana, mendirikan Program Kajian Budaya, memimpin sejumlah lembaga kebudayaan, serta aktif dalam berbagai organisasi yang bergerak di bidang bahasa, agama, dan kebudayaan.

Baca Juga :  Gubernur Koster Dampingi Menteri LH Tinjau TPA Suwung, TPST Kertalangu, Tahura I dan II hingga TOSS Center Klungkung

Dalam diskusi yang diprakarsai Ketut Ngastawa tersebut turut hadir sejumlah akademisi, budayawan, dan tokoh masyarakat, di antaranya Prof. Dr. I Gede Sutarya, ST., Par., M.Ag., Prof. Dr. Ir. Nitya Santhiarsa, M.T. (putra Prof. IGN. Bagus), Drs. Nyoman Sutiawan, Ir. IGA Aryasa Susantya, Drs. Nyoman Wiratmaja, M.Si., Dr. IGA Alit Sosiawati, M.Si., Ketua NCPI Bali Agus Maha Usadha, Ketua PHRI Badung I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, serta JM Made Sulasa Jaya.

Melalui kiprah tersebut, para peserta diskusi menilai Prof. I Gusti Ngurah Bagus telah meninggalkan warisan yang melampaui ruang kelas maupun kampus. Gagasan-gagasannya terus hidup melalui karya ilmiah, jejaring akademik, serta generasi peneliti yang hingga kini masih menjadikan Bali sebagai laboratorium kebudayaan yang terus berkembang.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here