Refleksi Raina Tilem Kasa, Dharma Pelayanan dalam Merawat Kesucian Pura Besakih

0
43

Ilustrasi

Hari ini, Selasa, 14 Juli 2026 raina Tilem Kasa, gelap Bulan di Bulan pertama penanggalan kalender Bali. Bulan pertama dari tradisi kehidupan masyarakat Bali Mula, tindakan metaki-taki (persiapan) menyongsong rangkaian “aed” upakara piodalan mulai dari Tilem Ketiga mencapai puncaknya Purnama Kapat di Bulan Kartika, pemujaan Tuhan Wisnu Cri Narayana.
Dalam perspektif pemikiran di atas, Dharma Pelayanan untuk Merawat Kesucian Pura Besakih menjadi penting untuk diungkapkan, dalam fenomena sosial, komersialisme merambah luas di Besakih dengan puncaknya pendirian gedung bertingkat, di atas (ngungkulin) Pura Titi Gonggang, pintu masuk Sorga. Dalam bahasa Veda/Vedanta “entry point in to self realisation”, kesadaran diri menapaki jalan Sorga, Sorga bertingkat sampai ke kesadaran Sorga ke Tujuh.
Gedung Parkir angkuh ini hanya berjarak sekitar 200 meter dari Pura Manik Mas, jika Kita menggunakan “uger-uger” perlindungan Besakih dengan Alam sebagai pelindungNya, semestinya Gedung ini di luar Tukad Telaga Waja, sekitar Pasar Desa Menanga. Mirip (megeret,bhs.Bali) dengan Bhisama Kesucian Pura Parisadha Hindu Dharma, November.11/1994, untuk Pura Sad Kahyangan, “a peneleng agung” sekitar 5 km.dari jaba sisi Pura Dalem Puri.
Dalam konteks tantangan Merawat Kesucian Pura Besakih, Kita bisa merujuk ke keteladanan pakulun Mpu Semeru yang meletakkan dasar pengeloaan Pura Besakih yang kemudian dilanjutkan oleh Dang Hyang Dwijendra seizin Ida Dalem Waturenggong.
Prinsip dasar dari pengeloaan Kesucian Pura Besakih, pertama, kesucian hati merupakan prinsip dasar prilaku, melahirkan sikap tulus mengabdi, “ngayah nuking tuwas”, sehingga mampu merawat Kesucian Pura Besakih. Pengelolaan yang kotor, “keregedan” (bahasa Bali) mencemari kesucian Pura Besakih. Termasuk “keregedan” dengan motif kekuasaan.Kedua, pengelolaan yang melibatkan secara penuh, krama pengempon ring Pura Catur Lawa: Pande, Pasek, Ida Dukuh, Ida Penyarikan. Karena perjuangan dari krama ini melekat erat dengan sejarah mempertahankan kesucian Pura Besakih di masa sulit, keras dan sarat risiko. Dalam perspektif sejarah “nindihin” kesucian Besakih ke empat Pura ini, bukan sebatas Pura dengan pendekatan garis geneologis. Pakulun Mpu Semeru di “stana” kan ring Meru Tumpang 7 Pedharman warga Pasek. Ketiga, dari sikap laku Ida Dalem Waturenggong tangkil ring Pura Besakih, kudanya ditambahkan di jaba sisi Pura Manik Mas, kemudian “memargi” jalan kaki “tangkil” ring Pura: Manik Mas, Ulun Kulkul, Bangun Cakti, Goa Raja, Basukhian, Penataran Agung, memberikan keteladanan bahwa menjaga kesucian Pura Besakih wajib hukumnya tanpa mengenal kompromi.
Jalan dari Pura: Manik Mas – Ulun Kulkul – Goa Raja – Bencingah Agung, diberikan nama oleh Gubernur Mantra, Jalan Asta Sura yang bermakna pemimpin semestinya meniru 8 watak para Dewa dalan kepemimpinan Asta Brata dalam Kakawin Ramayana.
Masyarakat Bali telah banyak berubah, dari perspektif kebudayaan sedang mengalami kegamangan bahkan krisis kebudayaan, satu kaki masih berada di tradisi agraris pertanian yang religius, kaki yang satunya “bergelimang” dengan modernisme sekuler.
Pemerintah, lembaga agama,lembaga kebudayaan, kalangan cendikia terlebih-lebih masyarakat umum mengalami kegamangan yang sama. Dalam krisis kebudayaan ini, Kita mesti Merawat Kesucian Pura Besakih.

Baca Juga :  Kapolres Jembrana Pimpin Upacara Serah Terima Jabatan Kapolsek Melaya

Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here