“Kebrebehan” Kecelakaan Beruntun di Pusat Belanja Living World Desa Tonja, Pengelola Proyek Mesti Berempati dan Menghormati Tradisi Setempat

0
61

Ilustrasi

Balinetizen.com, Denpasar

Desa Tonja, tepatnya Ton Jaya, Desa dengan sentuhan Bali Mula yang kental, bisa disimak dresta upakara di Pura Kahyangan Tiga Nya.

Hal itu dikatakan, Jro Gde Sudibya, pendiri dan sekretaris Kuturan Dharma Budaya, LSM yang mensosialisasikan pemikiran Mpu Kuturan Raja Kertha, Minggu 6 September 2026.

Menurut Jro Gde Sudibya, Desa dengan peninggalan tradisi kuat, turun-temurun, punya “anggah-ungguh” tuntunan etis dalam menjaga, merawat, melestarikan “ketengetan, kepingitan” dan kesuciannya, sehingga Desa tetap lestari dan metaksu.

Dikatakan, Tradisi di Pura Kahyangan Tiga Desa Tonja bisa “bercerita” banyak tentang tradisi ini, termasuk Petirthan Desa Tonja yang sekarang masuk “palebahan” Desa Kesiman.

Lebih lanjut dijelaskan, Dmdi sisi Timur Living World yang megah, berdiri Pura nan Suci, sekarang berada di bawah sebelah Kiri (kalau dari arah Gatsu Barat), pakulun Lingkha Ida Bhatara Cakti Pahang, pasraman tua di era masa lalu, yang memberikan pencerahan: tuntunan agama, etika, “anggah-ungguh” upakara, pengobatan rokhani bagi krama di seputaran Badung.

“Dalam perspektif Tri Angga, prinsip dasar Asta Kosala-Kosali, jembatan megah di Gatsu Timur ini, “ngungkulin” Pura Dukuh Cakti Pahang. Perencanaan jembatan yang kurang elok, tidak berempati dan kurang menghargai tradisi setempat,” katanya.

Dikatakan, fenomena ini tidak saja berlangsung di Desa Tonja, banyak terjadi di belahan gumi Balj lainnya.

Menurut Jro Gde Sudibya, pembangunan proyek mesti berempati dan menghargai tradisi, terlebih-lebih tradisi dengan muatan “ketengetan”, kepingitan” dan kesucian yang kental.

“Pemda Bali dengan visi, misi: Tri Hita Karana, Sad Kerthi Loka Bali, Sat Kerthi Loka Bali, semestinya bertanggung-jawab untuk menjaga kesucian Bali,” katanya.

Dikatakan, dengan dana BKK per Desa Pakraman Rp.350 juta, diperlukan bagi Desa Pakraman untuk menstimulasi dan insentif penguatan Desa Pakraman menuju ke kemandirian, tetapi dana saja tidak cukup menjaga keajegan Bali, diperlukan empati dari pemodal untuk menghargai tradisi dan sudah tentu yang lebih penting kesadaran krama untuk merawat tradisinya.

Baca Juga :  Pekerja Migran Asal Gianyar Pilih Incar Turki

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here