Balinetizen.com, Denpasar
Minggu, 6 September 2026 nyaris secara bersamaan 4 gunung meletus, Nusantara sebagai wilayah cicin api menjadi fakta semakin nyata. Apakah: pembakaran dan kebakaran hutan, kebakaran meluas di seantero Nusantara, rangkaian gunung meletus, ancaman megatrust dengan daya rusak luar biasa, merupakan sasmita, tanda awal dari Nusantara Pralaya, punahnya Bumi Nusantara?
Para ahli kegempaan semenjak tahun 1980’an telah memperkirakan akan terjadi gempa berkekuatan di atas 7 pada skala richter, yang membentang dari Sumatera Utara (dengan kekuatan lebih rendah) menuju Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, Selat Sunda, Jawa Barat dan pesisir Selatan Jawa, dengan eksplosi tinggi, hanya saja tidak dapat diperkirakan waktu yang tepat terjadinya bencana.
Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, pengamat kebudayaan dan kecenderungan masa depan, Senin 7 September 2027.
Dikatakan, dalam kosmologi ruang Tanah Jawa, kebakaran yang terjadi di hutan lereng Gunung Bromo dan kemudian hutan di lereng Gunung Semeru, memberikan “sasmita” tanda akan terjadinya kebakaran besar dengan skala luas di Bumi Nusantara.
Menurut Jro Gde Sudibya, dalam Perspektif ontologi kekuasaan di tanah Jawa yang berpengaruh signifikan dalam sejarah kekuasaan Nusantara, pemimpin yang tidak punya “pulung”, “taksu”, kehilangan “pulung”, energi alam penunjang energi kepemimpinan, akan gagal dalam kepemimpinan, yang didahului oleh “goro-goro”, bisa bencana alam yang mungkin diikuti revolusi sosial.
“Kearifan kehidupan Nusantara mengajarkan, pemimpin yang tidak “ojo dumeh”, tidak rendah hati, “adigung adi kuoso” mentang-mentang berkuasa, melahirkan keserakahan prilaku yang kemudian menyebar luas ke masyarakat,” katanya.
Dikatakan, keserakahan pemikiran yang “membakar” diri sendiri, “membakar” lingkungan sosial dan kemudian membakar alam fisik kehidupan, dalam relasi Bhiwana Agung – Bhuwana Alit.
Menurut Jro Gde Sudibya, realitas fisiknya terjadi kebakaran dimana-mana, berbarengan dengan “pembakaran” diri karena keserakahan. Sasmita, tanda-tanda alam dan relasi sosial yang buruk ini, pantas diwaspadai bersama.
Dikatakan, dalam Kakawin Ramayana tertulis “Lengkapura pralaya, raksasa tanpa sesa”. Kekuasaan Rahwana yang angkuh, negaranya hancur lebur dan semua rakyatnya binasa. Karya sastra rokhani yang patut dijadikan “guru” untuk bercermin diri.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

