Kehadiran ibu-ibu TP PKK Provinsi Sulawesi Utara akan menghibur dunia pariwisata di Pulau Dewata. Kita terlalu panik mendengar kata Corona, semoga saja apapun yang terjadi akan ada hikmahnya. Ini kita anggap adalah ujian supaya kita lebih perhatian terhadap kesehatan tentunya lebih guyub lagi.
Dikatakan, kehadiran ibu-ibu PKK Sulawesi Utara sudah barang tentu akan membawa semangat baru bagi Pulau Dewata, karena artinya betapa pentingnya pergerakan PKK di tengah-tengah masyarakat.
Dikatajan, ada 10 (sepuluh) Program Pokok PKK itu sudah barang tentu pasti akan ada di dalam program-program pemerintah karena semua terkait. Seperti terkait dengan karakter budi pekerti anak bangsa, terkait dengan sikap hidup kita, terkait dengan kesehatan, pendidikan, sandang, pangan dan lain sebagainya.

Dihadapan ibu ketua dan pengurus PKK dari Provinsi Sulawesi Utara, Putri Suastini mengatakan selain PKK itu menyiapkan kegiatan-kegiatannya untuk mengikuti HKG dan Jambore serta lomba-lomba yang diadakan PKK pusat nah itu kami punya program-program juga yang menukiknya langsung ke masyarakat, tentunya tidak keluar dari jalur yang dilombakan. Ada 9 jenis yang dilombakan yang biasanya kita ikuti di tingkat nasional salah satu contohnya ibu-ibu tentang lingkungan hidup.
“Nah kalau itu tertanam di bumi nanti anak cucu yang akan mewarisi bahayanya jadi kita tidak ingin meninggalkan hal seperti itu, berpuluh-puluh tahun tertanam setiap hari. Bagaimana bumi ini akan menangis nantinya karena kita tidak bisa memberikan kesuburannya untuk kehidupan masyarakat seperti itu,” katanya.
Nah yang berikutnya itu adalah Pergub Nomor 47 tahun 2019 yaitu tentang Pengolahan Sampah Berbasis Sumber. Karena selama ini Bapak Gubernur melihat sudah salah pola penanganannya. Sampah itu kok dipindah, mestinya diolah dan dienyah di sumbernya di mana sampah itu muncul. Selama ini sampah di dibawa ke kabupaten lain, akhirnya numpuk di 1 (satu) kabupaten seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung.
Putri Suastini mencontohkan TPA dekat Bandara. Itu dekat banget dengan bandara (Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai), zaman dulu iya (tidak menjadi masalah-red) tetapi sekarang sudah tidak memadai. Karena bandara itu adalah lintasan internasional, bagaimana wisatawan kita melihat begitu turun di bandara yang dilihat kok tempat sampah yang baunya minta ampun itu seperti ‘bom waktu’ dan sekarang meledak. Saat ini permasalahan ini sudah ditangani oleh pemerintah provinsi Bali.
Kita mendorong pemerintah lewat Pergub itu supaya kepala desa didampingi ketua tim penggerak PKK (tingkat) desa itu menemukan sistem pengolahan sampah berbasis desa. Sumbernya di desa, entah itu ada pasar tradisional, sekolah, sampah rumah tangga, itu harus selesai di desa itu. Di sinilah peranan PKK, ibu-ibu jadi salah satunya sebelum kita mengambil action di lapangan.
Sementara Ketua TP PKK Provinsi Sulawesi Utara Ny. Rita Maya Dondokambey Tamuntuan mengatakan, kami memang memilih Provinsi Bali. Karena kami tahu juga memang UP2K dan HATINYA PKK disini sangat baik dan PHBS. Kami akan mengunjungi Desa Sinduwati, Desa Besakih dan Desa Wisata Penglipuran, itu yang akan kami ambil contoh.

