Bermula dari Pesan WhatsApp, Menteri KKP Jeli Lihat Peluang Ekspor Karang Hias di Bali

0
609

 

Balinetizen.com,Mangupura-

 

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo melanjutkan kunjungan kerjanya ke Pantai Pandawa, Desa Kutuh, Kuta Selatan, Badung.

Disana, Menteri Edhy melihat proses penanaman karang hias, dan diskusi dengan pembudidaya karang Desa Adat Kutuh.

“Saya kesini memenuhi undangan kelompok asosiasi pembudi daya karang hias nusantara. Salah satu harapan mereka (asosiasi) bagaimana karang hias ini tetap terus diperbolehkan diperdagangkan. Dan kami (KKP) tetap memberikan izin tetapi kami memberi catatan kalau karang itu dihasilkan melalui pengambilan dari daerah konservasi,” ungkap Menteri Edhy, Rabu (12/8/2020).
.
Hari ini saya secara simbolis saya diberikan kesempatan untuk menanam karang. Seperti diketahui, Karang ini penting bagi dunia dan khususnya bagi kita, karena akan menghasilkan oksigen 20 kali lebih banyak dari pohon biasa.

“Makanya harus kita pertahankan. Potensi karang di Indonesia sangat besar dan ini menjadi komitmen Negara, komitmen kita untuk melestarikannya,” imbuhnya.

Menurutnya dari karang ini juga akan tumbuh ekonomi baru dari sektor budidaya kelautan dan peluang yang sangat besar.

Satu karang yang umur satu tahun dan kecil harganya bisa 15 hingga 20 dollar. Bahkan harga terendahnya tidak pernah dibawah 5 dollar.

“Ini bagus dan ini menjadi potensi tambahan hasil budidaya di kelautan kita. Regulasi sudah tidak ada masalah. Tapi yang jelas terus kita kawal jangan sampai ada oknum yang tidak bertanggungjawab mengambil karang-karang di kawasan konservasi,” terangnya.

Ketua Kelompok Pembudidaya Karang Hias Nusantara (KPKHN) Agus Joko Supriyatno berharap Menteri Kelautan dan Perikanan untuk mendorong kegiatan budidaya ini.

Karena budidaya kita mendukung program pemerintah dalam memberdayakan masyarakat nelayan dan juga kita sebagai pahlawan devisa negara.

Kunjungan Menteri KKP ke tempat Penanaman Karang Hias ini bermula atas inisiatif undangan dari Ketua KPKHN Agus Joko Supriyatno yang berkomunikasi melalui pesan WhatsApp langsung ke menteri yang ternyata gayung bersambut langsung disiapkan kunjungannya walaupun hanya melalui WA

Baca Juga :  Pemkab Jembrana  Salurkan Beras cadangan pemerintah  bantu Warga Kurang Mampu

“Hal ini menunjukkan bahwa beliau cukup responsif dan peka terhadap nasib pembudidaya karang hias yang cukup memiliki potensi ekspor yang cukup besar,” kata Joko optimis.

“Kita mengkontribusi ke Negara cukup besar karena kita melakukan kegiatan budidaya sesuai aturan pemerintah dan juga bayar pajak. Untuk itu saya berharap Pak Menteri benar-benar concern dan mendukung kegiatan kami ini semua. KPKHN juga sanggup untuk menjadi garda terdepan dalam hal perbaikan kerusakan karang laut di Nusantara,” tutur Joko Supriyatno.

Perkembangan karang hias untuk ekspor sangat potensial dan bagus sekali. Permintaan banyak dari Amerika, Eropa dan Negara lainnya.

“Kita masih kurang (belum bisa memenuhi permintaan ekspor). Permintaan lebih banyak dari yang kita hasilkan. Selama pandemi tidak ada pengaruh cuma ada kendala di pengiriman melalui kargo penerbangan,” tambahnya.

Untuk ekspor karang hias sudah kita mulai sejak Januari yang lalu dimana sebelumnya selama 2 tahun tidak diizinkan atau ekspor karang hias ditutup.

Joko Supriyatno menuturkan karang hias yang diekspor merupakan hasil budidaya masyarakat dan tidak mengambil karang di perairan konservasi.

“Untuk mengambil indukan karang kita atas rekomendasi LIPI. Kita ada izin, izin penangkaran ada, izin ekspor juga ada, izin budidaya juga ada. Jadi lengkap izin kita,” tuturnya.

“Budidaya karang hias lebih banyak di Bali khususnya di Nusa Lembongan, Buleleng, Pulau Serangan, Pantai Pandawa, dan juga di Gilimanuk Bali Barat serta Candi Dasa. Banyuwangi, NTB, Sulawesi Tenggara juga banyak tapi paling banyak dan potensi tinggi di Bali,” sambung Joko. (hd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here