Sistem Pendidikan Kependetaan Tidak Jelas, Lahirkan Pendanda Baka

0
369
Ilustrasi.

Balinetizen.com, Denpasar-

 

Dalam istilah Bali, dikenal : Pendeta Baka, pendeta yang sebetulnya palsu, sehingga gampang untuk melanggar sesana.

Kira-kira apa penyebab dari fenomena ini?

Salah sstu penyebabnya, karena sebagian masyarakat yang ignorance ( bodoh, masa bodo, dan malas ), untuk belajar agama secara lebuh serius dan menyerahkan sikap keagamaan kepada pendeta, termasuk model pedanda baka di atas.

Hal tersebut juga disebabkan, sistem pendidikan kependetaan kita, tidak jelas: syarat integritas, sistem kurikulum, kualitas pengajar,   kriteria kelulusan, pada keseluruhan sistem aguron-guron.

Warisan sistem feodal  yang akut, sampai hari ini, sehingga tidak sedikit orang tergoda untuk menggapai privilage ini, tanpa mengukur kualitas diri. Ironinya, sebagian orang  hanyut pada ” permainan “, dan bahkan menikamatinya.

” Ujung ” akhirnya, terjadi proses pembodohan masyarakat yang luar biasa di bidang keagamaan, di tengah maraknya sosial media dan masyarakat yang secara formal pendidikannya lebih tinggi.

Ke depan PHDI dan lembaga adat dan keagamaan Hindu perlu duduk bersama untuk mencari solusi dalam membedah tantangan besar untuk menjaga kesucian Bali.

Pertama, benahi sistem rekrutmen dan sistem pendidikan  kependetaan, sehingga bisa dijadikan panutan bagi masyarakat yang banyak mengalami tekanan perubahan. Peran kependetaan tidak sebatas muput upakara, dari warisan masyarakat agraris pertanian.

Kedua, merujuk ke pemikiran Sarvelli Radhakrisnan, akhli filsafat Timur yang kemudian Presiden India, di samping pengembangan kehidupan keagamaan dengan tuntunan pendeta ( priestly religion ), semestinya terus didorong spirit insan-insan manusia untuk mengembangkan wawasan kenabian untuk dirinya sendiri ( prohetic religion ).

Sebut saja susastra agama Astangga Yoga dari Rsi Patanjali, pengetahuan pelapisan diri dalam Panca Maya Kosha, dialog Arjuna dengan Tuhan Ciwa ( yang disimbolikkan dengan Pendeta Tua ), gubahan Mpu Kanwa  Mpu Sedah, Mpu Panuluh dalam Arjuna Wiwaha di era kepemimpinan Jawa oleh Prabu Jayabaya.

Baca Juga :  Festival Hockey ke 6 di Badung : Berkonsepkan Sport Tourism dengan kearifan lokal

Ketiga, kualifikasi kependetaan di era algorithma komputer, berbeda amat jauh dari kualifikasi kependetaan di era agraris pertanian. Kependetaan yang mampu menjawab krisis kemanusiaan, tidak sebatas teks kaku teoligi, tetapi bisa mengurai jelaskan dalam karya sastra rokhani, yang tidak seluruhnya bahasa kaku teologi. Sebut saja, meniru: Rabinthranat Tagore dalam Gitanjali, Ida Pedanda Putera Kemenuh dalam karya kidung Parama Tatwa Suksma dan masih banyak lagi contoh yang bisa ditiru.

Pendeta yang peduli dengan perkembangan iptek, bisa menjelaskan usia alam raya berbasis teologi Hindu untuk kemudian disandingkan dengan teori Big Bang tentang penciptaan alam raya dan proses penghacurannya dari perspektif pengetahuan fisika  Bisa menjelaskan pada pertikel terkecil alam raya ( matters ) ada rahasia Tuhan di situ ( dari sisi teologi ), pernyataan yang ditolak oleh fisikawan ternama dunia Stephen Hawking. Bisa menjelaskan perbedaan  sikap keagamaan manusia beragama pada umumnya dengan pilihan relegiositas dari fisikawan ternama Albert Einstein.

Sistem kependetaan, peran dan dedikasinya dalam perspektif: agama dengan tuntunan pendeta – priestly religion – memerkukan perencanaan matang dan jangka panjang, bukan  pendidikan instan, ces – pleng, yang membuka peluang bagi  orang-orang yang  tidak bertanggung- jawab untuk memanfaatkannya.

Tentang Penulis

I Gde Sudibya penulis tinggal di Denpasar

 

Editor : Mahatma Tantra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here