Balinetizen.com, Denpasar
Rupiah Tembus Rp.17.500 per USD, Prabowo: Rakyat di Desa Tidak Pakai Dolar. Orang Desa Memang Tak Pakai Dolar Pak Prabowo, Tapi Gandum, Kedelai, Sapi Potong dan Minyak Diimpor Pakai Dolar AS.
Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi, menanggapi pidato presiden Prabowo Subianto pada peluncuran Koperasi Merah Putih, Minggu 17 Mei 2026.
Menurut Jro Gde Sudibya, betul rakyat di Desa tidak pakai dolar, tetapi sebagian pangan kita sebut saja: Gandum. Kedelai, Sapi Potong dan banyak lagi komoditas pangan lainnya diimpor dengan dolar AS.
“Itu artinya penurunan nilai rupiah terhadap dolar AS akan menaikkan harga pangan dalam negeri. Dari analisis statistik, kenaikan inflasi produk pangan mendorong pertambahan jumlah orang miskin,” katanya.
Contoh lain, lanjut Jro Gde Sudibya, Produk manufaktur kita, komponen impornya tinggi, berupa bahan baku, bahan penolong, teknologi sehingga penurunan nilai rupiah menaikkan inflasi produk manufaktur.
“Dan, ini telah mengganggu ekonomi ekspor, sebagian komoditas ekspor berbahan baku produk impor,” katsnua.
Dikatakan Industri pharmasi kita, bahan baku, peralatan dan teknologinya sekitar 75 persen dari China dan India, itu sistem inpor yang menggunakan dolar AS. Konsekuensinya akan menaikkan harga obat dalam negeri.
Dikatakan, penurunan nilai rupiah akan mendorong inflasi dengan dua kategori. biaya menaikkan harga -cost push inflation-, psikologi inflasi, inflasi akibat tekanan psikologi publik, misalnya terjadi “panic buying”.
Menurutnya, dalam sejarah kontemporer negeri ini, turun tajamnya nilai Rupiah tahun 1966, inflasi mencapai 650 persen, membawa akibat Presiden Soekarno dicabut manfaatnya oleh MPRS Januari 1967.
“Begitu juga dengan turun tajamnya nilai Rupiah bulan Juni 1998 Rp.16,650, sebelumnya diikuti oleh pernyataan berhenti Presiden Soekarno 21 Mei 1998,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

