Oleh: Ngurah Karyadi
Masih lekat dalam ingatan saya, bagaimana dinamika dan peran seorang Emmy Hafild dalam mengarungi berbagai kontroversi, serta pada saat yang sama mampu menjalin dan merakit solidaritas/soliditas aktifis NGO’s/rakyat di tengah Orde Baru, yang represif. Seorang dirigen atau konduktor, yang mampu mengintegrasikan suara-suara yang menyimpang, atau bahkan sumbang. Catatan ini mungkin subjektif.
Peran dirigen angat tergambar dalam dinamika internal Walhi, medio 1996-2002, dimana saya ikut berkiprah sebagai anggota Dewan National, yang desersi. Di tengah popularitasnya,
Emmy justru merangkul Sukri Saad dan Deddy Triawan, saingannya dan secara bersama sebagai Direktur Walhi. Atau, bersama Imam Maspardi dan Arimbi Heruputri, pada periode berikutnya. “Semua harus berperan untuk semua, tidak ada yang tertinggal dalam satu perjuangan”, katanya suatu waktu.
Atau pun, saat puluhan ribu aktivis CSO/NGO dan aktivis rakyat Indonesia, serta manca negara berkumpul di Bali menggelar aksi menentang globalisasi, saat perhelatan Komite Persiapan (PrepCom) menyambut KTT Bumi Johannesburg, Afrika Selatan 2002. Saat itu, karena Bali sebagai tuan rumah, saya diberi mandat Emmy sebagai anggota pengarah/wakil koordinator, dan sekaligus sebagai korlap aksi-aksi dalam arena tersebut, dan sekaligus aksi diluar arena.
Tak lekang dari ingatan saya, waktu itu ada “keributan kecil” yang dipicu perdebatan sengit antara mbak Emmy Hafild sebagai Koordinator Indonesian People Forum (IPF) dengan sebagian pimpinan NGO/CSO yang lain. Mbak Emmy memilih jalan dialog dalam forum dengan pimpinan pemerintah. Delegasi pemerintah –Indonesia waktu itu dipimpin Susilo Bambang Yudoyono (SBY), dengan Mbak Erna Witular sebagai pelaksana dan Emil Salim sebagai Chairman PrepCom. Dua yang terakhir dikenal dekat dengan Emmy. Dalam dialog tersebut sebagian aktivis sejalan denganya, sementara yang lain menolak/menentang, namun Emmy tetap komunikasi, dan berinteraksi.
Dengan gaya khasnya mbak Emmy sempat teriak-teriak dan marah-marah kepada yang lain dan minta aksi massa dihentikan. Sejumlah aktivis yang lain menolak seruan mbak Emmy dan tetap berkeras untuk menggelar aksi massa untuk menekan forum resmi pemerintahan lintas negara tersebut.
Terngiang mbak Emmy sempat memanggil dengan berteriak sangat kencang kedapa bung Aristan, yang aktivis/anggota Dewan Nasional Walhi dari Palu. Sontak yang lain membela bung Aristan. Mbak Emmy tak bergeming. Keriuhan melanda massa aksi, ditengah tekanan ormas dan pecalang. Saat itu saya sebagai wall koordinator coba menengahi, dan meredakan ketegangan internal maupun eksternal.
Delegasi KPA dipimpin bung Erpan saat itu. Bung Erpan mendukung pilihan cara bung Aristan dkk, yang menolak globalisasi dalam aksi massa menekan pemerintah. Saya ingat, para peserta PrepCom IV sempat pindah-pindah tempat menginap di Bali. “Check in dan chek out terus nih kita”, seloroh kocak bung Erpan. Pimpinan CSO terbelah dua. Ada yang pro mbak Emmy yang mengambil jalan dialog dan parallel event dengan Delegasi Pemerintah RI. Ada pula yang kontra karena memilih konfrontasi habis-habisan terhadap gagasan dan kebijakan globalisasi, yang menyelimuti praktek Prmbangunan Berkelanjutan.
Perbedaan teknis dan cara perjuangan itu lumrah di kalangan NGO/CSO, itu hal penting yang saya serap waktu itu. Tapi substansi dan esensi perjuangannya adalah sama: perjuangan utk keadilan sosial, ekonomi dan ekologis, atau kami menyebutnya sebagai keadilan rakyat melalui reformasi pembangunan.
Selain kenangan infernal Walhi, PrepCom di Bali itu, saya juga mengenang Emmy dalam sebuah proses penting advokasi kebijakan. Tahun 2000 – 2001 terjadi perdebatan sengit juga terjadi saat CSO Indonesia mengusulkan Tap MPR tentang Pembaruan Agraria. Sebagai Pimpinan Walhi, Emmy dan jaringannya mengusung isu Pengelolaan Sumberdaya Alam, sementara sebagai KPA (Bali) mendorong Pembaruan Agraria. Debat ideologi, strategi dan taktik merebak dalam berbagai forum. Syukur konsensus di kalangan aktivis/CSO didapatkan. Akhirnya terbit TAP MPR No. IX/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumberdaya Alam (PA-PSDA).
Ya, mbak Emmy Hafild kini sudah tenang. Tidak bisa lagi beliau teriak lantang secara lahiriah menyuarakan sikap dan posisinya dalam gerakan sosial, lingkungan hidup dan kemanusiaan. Tapi ide-ide dan jasa baiknya niscaya selalu lantang dalam keabadian. Perempuan yang akrab disapa “Maknyak” oleh kawan-kawan dekatnya diakui banyak pihak sebagai seorang yang cerdas, tangguh dan bisa mendengar, yang berbeda sekalipun. Setelah berjuang melawan kanker, semalam akhirnya beliau berpulang ke rahmatullah. Berbekal info di grup WA KPA, semalam saya sempat monitor doa bersama secara virtual yang dipimpin Sandra Moniaga, sahabatnya.
Doa kami untuk mbak Emmy: semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kesalahannya selagi beliau hidup dan menerima segenap amal baiknya. Insyaallah, dia kini menuju sorga yang indah sebagai tempat dalam keabadian bagi pejuang lingkungan, sosial dan kemanusiaan. Semoga almarhumah bersama pejuang lain yang telah mendahului kita, tenang dan berbahagia dalam keabadian. Cacatannya akan terus diperjuankan dan dimenangkan. #AmorIngAcintya, Emmy Hafid!
*Ngurah Karyadi, petani dan aktivis lepas

