Antrean BBM di Denpasar Masih Mengular hingga 1 Kilometer, Pariwisata Bali Terdampak

0
40

Balinetizen.com, Denpasar

 

Antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Denpasar, Bali, masih terjadi sehingga memicu kemacetan parah hingga mengganggu aktivitas masyarakat dan operasional pariwisata.

Pada Selasa (13/10/2026), antrean kendaraan di sejumlah titik dilaporkan mengular hingga sekitar satu kilometer.

Pelaku pariwisata Bali, Kande Putra, mengatakan kondisi tersebut terpantau sejak pukul 07.30 WITA saat dirinya melakukan pemantauan di sejumlah kawasan SPBU kota Denpasar. Antrean kendaraan yang hendak mengisi bahan bakar menyebabkan kepadatan lalu lintas di beberapa ruas jalan utama.

Di kawasan Gatot Subroto (Gatsu) Tengah, kemacetan terjadi mulai dari sekitar SPBU dekat Jalan Ahmad Yani hingga Perempatan Ubung.
Kondisi serupa terlihat di sekitar Lapangan Lumintang. Antrean kendaraan di salah satu SPBU mengular hingga mendekati kawasan KFC dan memenuhi dua jalur jalan.

Sementara di kawasan Renon, antrean BBM di depan Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Bali bahkan membentuk antrean melingkar hingga ke arah Jalan Badak Agung.
Kemacetan juga terjadi di sekitar SPBU dekat BTP dan kawasan Stikom. Antrean kendaraan dari SPBU di sekitar Stikom disebut berdampak hingga lampu merah Bajra Sandhi.

Kande mengungkapkan, situasi di lapangan semakin memprihatinkan karena masyarakat tetap mengantre meskipun Pertalite di salah satu SPBU kawasan Gatsu Tengah telah habis.

“Yang menarik, di Gatsu Tengah Pertalite-nya sudah habis. Sudah ada pengumuman Pertalite habis, tetapi masyarakat tetap mengantre untuk mendapatkan Pertamax,” ujar Kande.

Menurutnya, kondisi tersebut memicu kekecewaan masyarakat. Sebagian warga menyampaikan keluhan dengan nada bercanda, tetapi tidak sedikit yang menunjukkan kejengkelan karena harus menghabiskan waktu di jalan hanya untuk mendapatkan bahan bakar.
Bahkan, seorang warga melontarkan pernyataan bernada frustrasi mengenai kondisi yang dialaminya.

Baca Juga :  Rapat Paripurna Pengambilan Keputusan Raperda Perubahan APBD Badung TA 2022, Kinerja Bupati Badung dan Jajaran Di Apresiasi Dewan

“Kalaupun saya nanti bisa memilih untuk lahir, saya enggak mau lahir di Indonesia. Saya mau lahir di Amerika atau Inggris saja,” kata warga tersebut, sebagaimana dituturkan Kande.

Bagi Kande, persoalan BBM bukan semata-mata mengenai jenis atau harga bahan bakar, melainkan kepastian ketersediaan pasokan.

Masyarakat membutuhkan BBM untuk menunjang aktivitas sehari-hari, sementara antrean panjang membuat waktu dan mobilitas mereka terganggu.

Ia menilai sebagian masyarakat bahkan bersedia membeli Pertamax dengan harga lebih tinggi selama bahan bakar tersedia dan bisa diperoleh tanpa harus mengantre terlalu lama.

“Masalahnya bukan Pertalite atau Pertamax, tetapi BBM yang bisa didapatkan. Masyarakat mengantre karena membutuhkan bahan bakar. Ada yang mengatakan tidak masalah harga Pertalite dinaikkan Rp10.000, yang penting barangnya tersedia,” katanya, mengutip pendapat warga yang ditemuinya.

Dampak antrean BBM di Denpasar juga dirasakan langsung oleh pelaku pariwisata. Kemacetan yang terjadi di sejumlah ruas jalan membuat waktu tempuh perjalanan sulit diprediksi, termasuk untuk perjalanan wisatawan dari Kuta menuju Ubud.

Dalam kondisi normal, perjalanan dari Kuta ke Ubud diperkirakan memerlukan waktu sekitar 40 menit hingga satu jam. Namun, kepadatan lalu lintas akibat antrean kendaraan di SPBU membuat estimasi perjalanan tersebut sulit dipastikan.

“Kalau dulu perjalanan dari Kuta ke Ubud masih bisa diperkirakan 40 menit sampai satu jam. Sekarang, dengan kondisi seperti ini, kita tidak bisa memprediksi waktu tempuh karena antrean BBM juga menyebabkan kemacetan di sejumlah kawasan,” ujar Kande.

Menurutnya, ketidakpastian waktu perjalanan menyulitkan pelaku pariwisata dalam mengatur jadwal penjemputan dan perjalanan wisatawan. Kondisi ini menjadi persoalan tersendiri karena transportasi merupakan salah satu komponen penting dalam menunjang pelayanan wisata di Bali.

Baca Juga :  BMKG : Brigade La Nina Amankan Sektor Pertanian dan Perikanan 

Kande mengaku kecewa karena persoalan ketersediaan BBM telah berdampak langsung terhadap operasional usahanya. Pada hari itu, jadwal keberangkatan wisatawan yang semula direncanakan pada pagi hari terpaksa mundur sekitar empat jam karena harus mencari dan mengantre BBM terlebih dahulu.

Meski demikian, ia memastikan wisatawan yang ditanganinya tidak sampai membatalkan perjalanan. Setelah memperoleh BBM, perjalanan wisata akhirnya dapat dilanjutkan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa antrean BBM di Denpasar tidak hanya berdampak pada pengendara dan kelancaran lalu lintas, tetapi juga berpotensi mengganggu operasional transportasi wisata.

Kepastian pasokan BBM menjadi penting agar mobilitas masyarakat tetap berjalan dan pelaku pariwisata dapat memberikan layanan kepada wisatawan sesuai jadwal yang direncanakan.

 

(Jurnalis: Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here