Arak Bali Tembus Pasar China: 20 Ribu Botol Siap Diekspor dari Buleleng

0
197

 

 

Balinetizen.com,  Denpasar 

Pemerintah Provinsi Bali terus mendorong transformasi ekonomi berbasis budaya lokal dan sumber daya alam unggulan. Salah satu langkah konkret yang akan segera direalisasikan adalah rencana ekspor arak Bali ke China.

Gubernur Bali, Wayan Koster, mengungkapkan hal ini dalam Forum Bali Jagadhita 2025 di Gedung Dharma Alaya, Denpasar. Ia menyebutkan bahwa sebanyak dua kontainer berisi 20 ribu botol arak Bali siap diekspor dari Buleleng ke China pada bulan ini.

“Arak Bali dipilih karena kualitas rasanya yang khas. Ini adalah produk unggulan dari Buleleng yang telah melalui seleksi ketat,” ujar Koster, Senin (2/6/2025).

Menurut Koster, ekspor arak ini merupakan hasil dari riset yang dilakukan pelaku usaha dan pemerintah China terhadap berbagai minuman beralkohol dari berbagai negara. Hasil riset tersebut mengarahkan mereka kembali ke Bali, tepatnya ke industri arak di Buleleng yang dinilai memenuhi standar ekspor.

Rencana ekspor ini merupakan bagian dari strategi pembangunan ekonomi Bali yang menitikberatkan pada penguatan pondasi lokal. Produk-produk unggulan seperti garam tradisional, kopi organik, dan kerajinan rakyat juga menjadi prioritas untuk didorong ke pasar internasional.

“Transformasi ekonomi Bali harus berpijak pada kekuatan budaya dan alam lokal. Kami ingin menciptakan ekosistem pembangunan ekonomi yang sehat dan inklusif,” jelas Koster.

Ia juga menegaskan pentingnya seleksi ketat terhadap investasi, khususnya investasi yang menghargai tata ruang, budaya Bali, serta mengutamakan penggunaan tenaga kerja dan pelaku usaha lokal.

Gubernur Koster menyampaikan bahwa Bali memiliki potensi ekonomi maritim yang tinggi dan perlu ditata ulang dalam kerangka ekonomi baru. Ia juga mendorong sinergi antara investor, UMKM, dan pemerintah daerah sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.

Baca Juga :  Setelah Silat, KKP Luncurkan SIDAK

“Kami tidak hanya bicara soal pertumbuhan ekonomi, tapi juga pemerataan manfaat pembangunan hingga ke desa-desa,” ucapnya.

Penguatan ekonomi desa dan kelembagaan tradisional seperti BUMDes, koperasi, dan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) menjadi salah satu fokus utama. Perempuan dan generasi muda juga didorong bukan hanya sebagai penerima manfaat, tapi sebagai penggerak transformasi ekonomi Bali.

(Jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here