Awal 2026 Cerah, Konsumsi Masyarakat Dongkrak Kinerja Ritel Bali

0
217

Balinetizen.com, Denpasar –

 

Kinerja sektor ritel di Provinsi Bali pada Januari 2026 menunjukkan tren positif. Penjualan eceran diprakirakan tumbuh secara moderat, tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali yang mencapai 124,2, atau tumbuh 6,5 persen (year on year/yoy) dan tetap berada di zona optimistis (di atas 100).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali R. Erwin Soeriadimadja menjelaskan, secara bulanan, IPR Bali meningkat 0,9 persen (month to month/mtm).

“Peningkatan ini didorong oleh turunnya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax per 1 Januari 2026 dari Rp12.750 per liter menjadi Rp12.350 per liter,” ungkapnya dalam keterangan resminya di Denpasar, Jumat (20/2/2026).

Penurunan harga BBM dinilai memberi ruang lebih besar bagi masyarakat untuk berbelanja.

Selain itu, kenaikan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) sebesar 7 persen (yoy) di seluruh wilayah Bali turut memperkuat daya beli masyarakat. Kondisi ini meningkatkan optimisme pelaku usaha ritel terhadap kinerja penjualan di awal tahun.

Momentum lain datang dari peralihan musim dan tahun ajaran baru. Pelaku usaha di sektor farmasi mencatat peningkatan permintaan obat-obatan dan vitamin akibat perubahan cuaca, yang diikuti oleh kenaikan harga di kelompok komoditas tersebut. Sementara itu, penjualan perlengkapan sekolah juga menunjukkan tren naik seiring dimulainya tahun ajaran baru.

Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali sendiri merupakan survei bulanan terhadap sekitar 100 pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya. Survei ini bertujuan untuk memperoleh gambaran dini mengenai arah pertumbuhan ekonomi Bali dari sisi konsumsi rumah tangga.

Berdasarkan komponen pembentuk IPR, terdapat enam subsektor utama dengan pertumbuhan bulanan tertinggi, yaitu:
Barang Lainnya (farmasi, kosmetik, elpiji rumah tangga, dan barang kimia rumah tangga) tumbuh 3,2 persen (mtm)
Bahan Bakar Kendaraan Bermotor tumbuh 3,2 persen (mtm)
Sandang tumbuh 2,6 persen (mtm)
Peralatan Informasi dan Komunikasi tumbuh 2,3 persen (mtm)
Barang Budaya dan Rekreasi (termasuk alat tulis dan alat olahraga) tumbuh 2,3 persen (mtm)
Makanan, Minuman, dan Tembakau tumbuh 1,4 persen (mtm)

Baca Juga :  UNESCO Resmikan Subak Desa Bengkel-Tabanan Sebagai Ecohydrology Demonstration Site Unesco 

Optimisme ini juga diperkuat oleh Laporan Umum Bank Terintegrasi pada Lapangan Usaha Perdagangan per Desember 2025 yang tumbuh 1,44 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan November 2025 sebesar 0,95 persen (yoy). Hal ini menegaskan bahwa konsumsi masyarakat Bali masih berada dalam jalur pertumbuhan positif.

Meski demikian, prospek penjualan ritel Bali dalam jangka pendek diperkirakan sempat mengalami perlambatan sebelum kembali meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP).
IEP Maret 2026 tercatat sebesar 126, lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 164. Namun, untuk jangka menengah, IEP Juni 2026 diprakirakan meningkat ke level 184, lebih tinggi dari IEP Mei 2026 sebesar 176. Kedua indeks tersebut tetap berada di zona optimistis (IEP > 100).
Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan nasional, kondisi ini mencerminkan perekonomian Bali yang relatif terjaga. Untuk mendukung stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga kebijakan pada Januari 2026.

Lebih lanjut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali terus mengakselerasi operasi pasar murah menjelang Hari Raya Imlek, Ramadan, dan Nyepi untuk menjaga ketersediaan serta kestabilan harga komoditas strategis.
Bank Indonesia Provinsi Bali bersama TPID di tingkat provinsi dan kabupaten/kota berkomitmen menjaga stabilitas harga, melindungi daya beli masyarakat, serta memastikan pertumbuhan ekonomi Bali tetap berkelanjutan.(rls)

kampungbet

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here