Bank Indonesia: Penjualan Eceran Bali Diproyeksi Terus Tumbuh hingga Mei 2026

0
41

 

Balinetizen.com, Denpasar

 

Kinerja penjualan ritel di Provinsi Bali tetap menunjukkan tren positif. Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia, Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali pada April 2026 tercatat sebesar 125,3, meningkat 0,8 persen dibandingkan bulan sebelumnya (month to month/mtm). Angka tersebut juga masih berada di level optimistis karena berada di atas indeks 100.

Peningkatan penjualan terutama didorong oleh pertumbuhan pada kategori suku cadang dan aksesori kendaraan yang naik 5,0 persen (mtm), bahan bakar kendaraan bermotor sebesar 2,2 persen (mtm), serta barang budaya dan rekreasi yang meningkat 1,8 persen (mtm).

Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali,
Achris Sarwani, menjelaskan kenaikan tersebut sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur panjang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Jumat Agung.

“Selain itu, aktivitas ekonomi daerah juga terdorong oleh rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Klungkung yang meningkatkan konsumsi masyarakat,” ungkapnya dalam keterangan resminya, Senin (29/6).

Momentum tersebut, menurutnya memberikan dampak positif terhadap permintaan berbagai kelompok barang, khususnya yang berkaitan dengan transportasi, rekreasi, dan kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Bank Indonesia memperkirakan kinerja penjualan eceran Bali akan terus menguat pada Mei 2026. Indeks Penjualan Riil diprakirakan mencapai 126,0, atau tumbuh 0,6 persen dibandingkan April 2026.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh meningkatnya penjualan pada kelompok sandang, barang lainnya, serta makanan, minuman, dan tembakau. Kondisi ini dipengaruhi masih tingginya aktivitas masyarakat selama periode Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, Hari Raya Waisak, dan Iduladha.

Dari sisi harga, pelaku usaha memperkirakan adanya kenaikan harga dalam tiga hingga enam bulan mendatang. Hal tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juli dan Oktober 2026 yang mencapai 200, meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang berada di angka 192.

Baca Juga :  Ikosharold Suites Seminyak : Pengalaman Hotel yang Menyenangkan dan Penuh Seni di Seminyak

Meski demikian, tekanan inflasi di Bali masih terjaga. Pada Mei 2026, inflasi tahunan Bali tercatat sebesar 2,99 persen (year on year/yoy) atau masih berada dalam target inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.

Aktivitas perdagangan di Bali juga didukung pertumbuhan kredit sektor perdagangan. Berdasarkan data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT), hingga April 2026 kredit Lapangan Usaha (LU) Perdagangan masih tumbuh 1,99 persen (yoy).

Optimisme pelaku usaha juga terlihat dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). Untuk Juli 2026, IEP tercatat sebesar 172, meningkat dibandingkan Juni yang sebesar 170. Sementara itu, IEP Oktober 2026 mencapai 190, lebih tinggi dibandingkan September yang sebesar 184.

Kedua indeks tersebut berada di atas level 100 yang menunjukkan keyakinan pelaku usaha bahwa prospek penjualan ritel di Bali masih akan tetap kuat dalam beberapa bulan ke depan.

Dalam mendukung stabilitas ekonomi nasional, Bank Indonesia mempertahankan kebijakan suku bunga dengan BI-Rate sebesar 5,50 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,50 persen, dan Lending Facility sebesar 6,25 persen.

Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali akan terus memperkuat strategi 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga inflasi tetap terkendali, melindungi daya beli masyarakat, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang berkelanjutan.(rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here