Balinetizen.com, Badung –
Meski jumlah operasi pencarian dan pertolongan (SAR) di Indonesia tercatat menurun pada tahun 2025, namun tantangan di lapangan justru semakin kompleks dan menuntut kesiapsiagaan lebih tinggi.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Kabasarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, S.IP., M.M., CHRMP dalam kunjungan kerjanya ke Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, Kamis (16/10/2025).
Kunjungan tersebut merupakan pertama kalinya Kabasarnas bertandang ke Denpasar. Ia didampingi oleh Deputi Bidang Sarana dan Prasarana, Sistem Komunikasi, Sekretaris Utama, serta Kepala Biro Humas dan Umum Basarnas. Turut hadir pula perwakilan dari tiga kantor wilayah tengah, yakni Mataram, Maumere, dan Kupang.
Kedatangan Kabasarnas disambut hangat dengan upacara adat khas Bali berupa tarian Hanoman serta pemakaian udeng dan selendang sebagai simbol penghormatan budaya.
Dalam arahannya, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengungkapkan bahwa jumlah operasi SAR pada tahun 2024 mencapai 2.562 kejadian. Angka ini mencakup 7 kecelakaan pesawat udara, 869 kecelakaan kapal, 67 penanganan khusus, 146 bencana, dan 1.473 kondisi membahayakan jiwa manusia, dengan total 41.049 korban — terdiri atas 38.871 selamat, 1.774 meninggal, dan 458 hilang.
Namun, pada tahun 2025 jumlah operasi SAR menurun menjadi 1.865 kejadian, yang mencakup 3 kecelakaan pesawat udara, 667 kecelakaan kapal, 58 penanganan khusus, 121 bencana, dan 1.213 kondisi membahayakan jiwa manusia.
“Total korban yang ditangani sebanyak 8.430 orang, terdiri dari 6.720 selamat, 1.327 meninggal, dan 383 hilang,” papar Syafii.
“Penurunan jumlah operasi SAR tentu menjadi indikator positif dari meningkatnya kesadaran keselamatan masyarakat. Namun di sisi lain, kompleksitas tantangan di lapangan tetap tinggi dan memerlukan respon cepat, sinergitas, serta profesionalisme tinggi,” imbuhnya.
Beberapa operasi besar yang menjadi sorotan publik di antaranya runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, kecelakaan KMP Tunu Pratama, bencana banjir di Bali, serta WNA yang terjatuh di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.
(Jurnalis: Tri Widiyanti)

