Balinetizen.com, Buleleng
Diberitakan festival bertema: “The Mask History of Buleleng”, yang diterjemahkan panitia “Topeng Leluhur Jiwa Buleleng”, terjemahan yang kurang pas dari sisi bahasa, maupun program kegiatan serta target sasarannya.
Menurut Jro Gde Sudibya, pengamat ekonomi pariwisata dan kebudayaan Bali, bermukim di Desa Tajun, secara harafiah terjemahannya Sejarah Topeng Buleleng, mungkin yang dimaksud panitia keunikan Topeng Buleleng, terutama Topeng Tejakula yang melegenda itu.
“Namun demikian, ide melakukan festival seni, kerajinan, kuliner, digital expo, diskusi budaya, untuk mendorong bertumbuhnya industri pariwisata budaya yang khas Buleleng, patut diapresiasi dan didukung masyarakat,” katanya.
“The Mask History of Buleleng” ini
akan berlangsung dari tanggal 18 Agustus 2025 – 23 Agustus 2025, di sejumlah tempat di Singaraja.
Dikatakan, upaya mengangkat ke ruang publik lebih luas, keunikan, kekhasan dan bahkan “taksu” Topeng Tejakula, patut diapresiasi, dalam konteks menemukan kembali keunikan kultural yang dipunyai Den Bukit -nama otentik dari Buleleng-.
Menurutnya, salam perspektif sejarah kultural, Desa Tejakula adalah unik dan khas, tempat dari orang-orang yang mengalami pencerahan diri dan kemudian “bersinar”.
Dikatakan, spirit yang berasal dari sistem keyakinan Agama Alam di kawasan Alas Penulisan yang “berpusat” di Alas Metaun (hutan yang abadi), bagian dari “jejer kemiri bukit” di atas Tejakula.
” Kawasan yang merupakan Ring Satu wilayah kekuasaan raja besar Bali Cri Aji Jayapangus. Sistem keyakinan Agama Alam, yang terekspresikan ring Pura Utus (baca Putus, kebebasan diri, Moksha, istilah yang datang belakangan),” kata Jro Gde Sudibya.
Dikatakan, pura Utus di palebahan Tabih Sukawana meraga Ukir (bukit/gunung), Tejakula merasa Segara/laut. Insan manusia yang terbebaskan, menjadi “bersinar”, menjadi penghuni Desa Tejakula.
“Dari pendekatan deduktif spiritual di atas, terekspresikan, terjawantahkan dalam karya seni Desa Tejakula. Dalam pandangan sosiologi agama modern, karya seni Tejakula adalah pembumian karya spiritual, manut “Desa, Kala, Patra” tetapi dengan pesan makna universal,” kata Jro Gde Sudibya.
Dikatakan, pendalaman dan penemuan kembali, rumus dan “rahasia” berkesenian di Desa Tejakula, dalam kriya seni gegamelan misalnya, yang mengekspresikan kebesaran rasa berkesenian di era Bali Mula, tentu sangat bermakna dalam penemuan kembali keunikan, spirit berkesenian dan sejumlah sisi berkebudayaan masyarakatnya.
” Tidak saja di Desa Tejakula, tetapi juga di desa-desa sekitar, menyebut beberapa: Julah, Sembiran (termasuk palebahan Malaka), kawasan Jung Kaang (Desa Tajun di sebelah Barat, Malaka di sebelah Timur) yang merupakan bandar ramai di era kerajaan Singhasari, kepemimpinan Prabu Wisnu Wardhana, Prabu Kerthanegara (pencetus gagasan besar nan visioner Nusantara), palebahan Bukit Sinunggal, Depeha (dh.Indra Pura), Bulian, Kubutambahan,” katanya.
Buleleng Festival 2025, diharapkan menjadi Pembuka tabir berkesenian dan sisi kultural kehidupan lainnya, sebagai penemuan kembali -Re Discovery- kekhasan kultural Den Bukit, kekhasan pariwisata budaya Bali Utara, untuk memperkaya dan memperkuat Pariwisata Budaya dalam industri Pariwisata Bali.
“Brand Bali yang semakin kukuh, dengan risiko “polusi” terhadap lingkungan dan budaya yang sanggup dikelola dan dikendalikan,” kata Jro Gde Sudibya, pengamat ekonomi pariwisata dan kebudayaan Bali, bermukim di Desa Tajun.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

