Balinetizen.com, Gianyar-
Taman Safari Bali dengan bangga menyambut pulangnya Burung Perkici Dada Merah dengan ditandai oleh peresmian Lorikeet Breeding Center pada Jumat (26/9/2025) di Gianyar. Acara ini merupakan hal yang bersejarah yang dilakukan oleh Taman Safari Indonesia karena memulangkan salah satu burung endemik Bali yang dimana kondisi populasinya di alam terus mengalami penurunan jumlah dan terancam punah.
Jansen Manansang, Founder Taman Safari Indonesia menyebutkan program ini merupakan hasil kerja sama antara Taman Safari Bali, World Parrot Trust, dan Paradise Park dengan dukungan Kementrian Kehutanan Republik Indonesia. “Dibawah payung Kementrian Kehutanan, bersama kita berjalan dengan dengan diresmikanya Breeding Center Perkici Dada Merah menjadi tonggak baru simbol harapan dan inspirasi pada rakyat Bali untuk kedepannya,” ujar Jansen.
Burung Perkici Dada Merah atau lebih dikenal dengan burung Atat ini sampai ke Pulau Bali pada tanggal 17 Juli 2025. Setelah perjalanan panjang sejauh 40 jam dari Cornwall, Inggris dan sempat transit di Doha membawa 20 ekor burung, 10 jantan dan 10 betina akan ditangkarkan di Breeding Center sebelum dilakukan pelepasliaran ke habitat aslinya.
Sebagai satwa liar dilindungi berdasarkan peraturan perundangan di Indonesia, Perkici Dada Merah juga masuk kategori Endangered (EN) menurut IUCN. Ancaman utama spesies ini berasal dari perdagangan ilegal dan hilangnya habitat alami, sehingga keberadaan breeding center menjadi bagian vital dalam strategi konservasi jangka panjang.
Gubernur Bali I Wayan Koster dalam sambutanya yang dibacakan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunada menyebutkan Bali selain sebagai tujuan destinasi rekreasi juga memiliki wisata sebagai penelitian dan edukasi salah satunya dengan keberasaan Taman Safari Bali. Dalam kesempatan ini juga Gubernur Bali diberikan kesempatan untuk memberikan nama sepasang burung Perkici Dada Merah dengan nama bercici khas Bali.
“Kami berupaya untuk melestarikan nama-nama Bali khususnya Nyoman dan Ketut yang jarang dipakai. Maka dari itu kami berikan nama untuk Perkici Dada Merah jantan dipanggil Ketut Atat dan betina dipanggil Ni Luh Atit,” jelas Sunada.
Perkici Dada Merah (richoglossus forsteni mitchellii) bukan hanya burung berwarna indah, mereka adalah warisan hayati Pulau Bali yang tak ternilai. Kini, keberlangsungan hidup mereka ada ditangan kita semua. Dengan tagline “Kedis Mewali ke Bali”, Taman Safari Bali bersama mitra nasional dan internasional menegaskan komitmen untuk mengembalikan suara burung endemik kebanggaan nusantara ke habitat alaminya demi masa depan yang lebih lestari.
Editor : Radha

