Cok Ace : Begitu Pariwisata Dibuka, Bali Tetap Optimis Raih Peluang Menjadi Destinasi Pariwisata yang Unggul

0
448
Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace).

Balinetizen.com, Denpasar-

 

Mencermati perkembangan saat ini penyebaran COVID-19 di Daerah Bali masih belum menunjukkan penurunan yang stabil. Namun ia meyakinkan bahwa saat ini Bali terus berupaya melakukan upaya terbaik dalam menanggulangi penyebaran wabah COVID-19.

Penglingsir Puri Ubud ini sangat berharap, Bali dapat dengan cepat meraih peluang untuk menjadi destinasi wisata yang unggul begitu dinyatakan layak dibuka kembali.

“Peluang ini dapat kita raih selama kita bisa memastikan bahwa wisatawan yang berkunjung ke Bali mendapatkan perasaan aman dari resiko penyebaran virus COVID-19. Oleh karena itu, implementasi protokol kesehatan pada seluruh sektor, terutama industri pariwisata, menjadi fokus utama kita semua,” beber Cok Ace Kamis (11/6) saat menjadi pembicara pada kegiatan webinar yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pada bagian lain, Cok Ace yang didampingi Kadis Pariwisata Provinsi Bali Putu Astawa juga meyakinkan publik Negeri Belanda bahwa Daerah Bali sejatinya cukup berhasil mengendalikan penyebaran COVID-19 hingga mendapat apresiasi langsung dari Presiden RI Joko Widodo. Sekalipun trend perkembangannya masih fluktuatif, namun secara umum Bali hanya berkontribusi 1,9% pada angka kasus positif COVID-19 di Indonesia dengan angka kematian yang sangat kecil.

Menurut Cok Ace, keberhasilan Bali dalam menekan angka penderita COVID-19 ini berkat upaya dan dukungan dari berbagai pihak. Strategi yang ditempuh Bali untuk menanggulangi pandemi ini pun terbilang unik.

Tidak seperti daerah lainnya di Indonesia, Bali memilih untuk tidak melakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Strategi Bali dalam menanggulangi pandemi virus Corona dilakukan secara bertahap dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat dan instansi pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota.

Baca Juga :  Ny Putri Koster Jadi Narasumber Dialog Bertema: 'Tanggap Covid-19, Ingat Pesan Ibu 3M'

Hal ini ditunjukkan dengan pembentukan Satgas COVID-19 di tingkat Provinsi maupun di tingkat Kabupaten/Kota. Selanjutnya, Bali juga membentuk Satgas Gotong Royong yang memberdayakan desa adat di Bali. “Ini adalah bentuk sinergitas masyarakat dengan pemerintah dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus dengan memanfaatkan kearifan lokal,” imbuhnya.

Selain itu, Bali juga memberlakukan kebijakan preventif lainnya berupa screening ketat di pintu masuk dan impementasi protokol kesehatan pada fasilitas publik. Salah satu contoh penerapan kebijakan ini adalah memberlakukan syarat hasil tes PCR (swab) negatif bagi pelaku perjalanan udara sebelum keberangkatan menuju Bali.

Kebijakan ini diambil sebagai upaya untuk meningkatkan jaminan keamanan baik bagi wisatawan maupun masyarakat Bali. Cok Ace menyebut, tes PCR akan meringankan beban pikiran wisatawan sebelum bepergian. Sebab mereka akan lebih percaya diri dan yakin bahwa diri mereka terbebas dari virus Corona. Di sisi lain, masyarakat Bali pun akan dengan senang hati menyambut mereka kembali ke Bali.

“Saya menyadari bahwa saat ini biaya tes PCR masih terbilang mahal, namun jika melihat manfaat yang diperoleh saya rasa hal ini tidak akan terlalu menjadi hambatan bagi pariwisata Bali,” pungkasya.

Sementara itu, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nia Niscaya mengatakan, rangkaian webinar ini merupakan upaya pemerintah untuk mengerakkan sektor pariwisata di masa sulit seperti saat ini dengan mengoptimalkan peran VITO yang tersebar di 16 negara di dunia. Menurutnya hal ini  penting untuk menjaga kepercayaan terhadap citra pariwisata Indonesia dengan menyampaikan kebijakan terkini dan product update sehingga brand awareness pariwisata Indonesia tetap terjaga.

Melalui kegiatan ini diharapkan terjadi soft selling antara para pelaku usaha di luar negeri dengan pelaku usaha dalam negeri yang berpartisipasi. Dengan demikian pariwisata Indonesia diharapkan menjadi top of mind dalam pilihan calon wisatawan.
Kegiatan webinar yang sudah dilaksanakan sejak 11 Mei 2020  menyasar pasar sejumlah negara seperti Belanda, Rusia, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, Taiwan, India, Timur Tengah dan Arab Saudi. Destinasi wisata yang akan dipublikasikan dalam kegiatan webinar ini adalah Bali (sebagai destinasi utama pariwisata Indonesia), Batam-Bintan (sebagai destinasi cross border), dan juga Yogyakarta (sebagai salah satu dari 5 Destinasi Super Prioritas Indonesia). Dalam paparannya, Nia mengurai tentang protokol kenormalan baru CHS (Cleanliness, Health dan Safety) yang diterapkan pada destinasi wisata yang akan dijadikan pilot project.

Baca Juga :  Miliki Hasis 0,29 gram, WN Rusia  Dihukum 10 Bulan

 

Editor : Whraspati Radha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here