Balinetizen.com, Denpasar
Sanggar Musik Sunar Sanggita menggelar Denpasar Youth Music & Character Awards 2026 di Amphitheater Living World Denpasar, mengusung tema “Merdeka dari Perundungan: Gaungkan Toleransi dan Inklusi Melalui Seni Musik”. Acara ini menghadirkan kolaborasi 74 anak jenjang TK hingga SMA bersama 13 pengajar tunanetra, didukung oleh 23 orang panitia penyelenggara.
*Berawal dari Pengalaman Pribadi*
Konser ini lahir dari pengalaman masa kecil sang pendiri, I Made Prasetya Wiguna Mahayasa, yang mengalami perundungan semasa TK karena kondisi disabilitasnya. “Kursi saya ditarik ketika saya mau duduk sehingga saya terjatuh, dan beberapa benda disembunyikan,” kenangnya. Pengalaman itu membentuk keyakinannya bahwa penyandang disabilitas adalah kelompok yang rentan menjadi korban perundungan di lingkungan pendidikan.
Keyakinan itulah yang mendasari berdirinya Sanggar Musik Sunar Sanggita, tempat anak-anak tidak hanya dilatih bermusik, tetapi juga dibina menjadi pribadi yang menghargai perbedaan dan mampu melindungi teman-temannya di sekolah masing-masing. “Kami ingin tidak ada lagi pandangan bahwa disabilitas itu orang yang tidak memiliki kemampuan, orang yang lemah, atau orang yang perlu dikasihani. Kami ingin membangun citra bahwa disabilitas itu setara dengan yang lain,” ujar Wiguna.
*Mencegah Perundungan Sejak Dini*
Tujuan utama acara ini adalah membina anak-anak sanggar jenjang TK hingga SMA agar mampu mencegah perundungan di lingkungan sekolah masing-masing, sekaligus mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang semakin inklusif di Kota Denpasar. Menariknya, peserta yang terlibat tidak hanya berasal dari Denpasar, tetapi juga dari Ubud, Bangli, hingga Tabanan.
Keterlibatan peserta dilakukan melalui proses pendaftaran dan seleksi berdasarkan bakat di tiga kategori: teater/akting untuk produksi film pendek, konser band, dan ensemble gabungan gitar, drum, dan pianika. Seleksi juga mempertimbangkan konsistensi dan motivasi anak selama mengikuti latihan intensif tiga hingga empat kali seminggu, dengan durasi latihan satu hingga lima jam setiap sesinya.
*Persiapan Singkat, Tantangan Produksi Film*
Seluruh rangkaian persiapan konser ini dilakukan dalam waktu sekitar satu bulan, bahkan efektif hanya tiga minggu, sejak pengumuman kegiatan pada 15 Juli 2026. Menurut Wiguna, tantangan terbesar justru datang dari pengalaman pertama sanggar memproduksi film pendek, mengingat dirinya sebagai sutradara menghadapi hambatan ganda dalam melihat dan mendengar. “Bagaimana saya memastikan ekspresi anak, bagaimana saya memastikan intonasi suara mereka pas dengan yang saya inginkan,” ujarnya.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Wiguna melakukan pendekatan khusus, seperti membriefing videografer secara mendetail terkait ekspresi yang diinginkan, serta menggunakan alat bantu dengar untuk mendekatkan suara anak-anak saat proses pengambilan gambar berlangsung.
*Tentang Film “Nada dalam Gelap”*
Salah satu momen puncak acara ini adalah tayang perdana film pendek berjudul “Nada dalam Gelap”. Film ini mengisahkan seorang anak tunanetra bernama Bumi yang ingin bergabung dengan sebuah sanggar musik, namun menuai penolakan dari rekan-rekannya yang non-disabilitas karena kekhawatiran Bumi tidak akan mampu mengikuti latihan. Sejumlah anak bahkan berupaya, termasuk dengan cara-cara yang tidak baik, agar Bumi tidak bisa ikut latihan. Film ini menampilkan bagaimana pada akhirnya Bumi mampu membuktikan bahwa ia memiliki kapasitas yang sama dengan teman-temannya. Setelah tayang perdana di acara ini, film akan diunggah ke YouTube agar dapat ditonton warga Denpasar maupun masyarakat Indonesia secara luas.
*Dipilih di Living World karena Dukungan Aksesibilitas*
Living World Denpasar dipilih sebagai lokasi acara karena infrastruktur dan manajemennya dinilai suportif terhadap kegiatan positif, termasuk mengakomodasi kebutuhan pengajar tunanetra. Sanggar Musik Sunar Sanggita sebelumnya juga telah beberapa kali menggelar kegiatan di lokasi yang sama, salah satunya pada Juli 2026.
*Akan Menjadi Agenda Tahunan*
Wiguna memastikan acara ini akan menjadi agenda rutin tahunan. Pada 2027, Sanggar Musik Sunar Sanggita berencana menggelar kegiatan serupa di bulan Agustus. “Kami yakin satu anak yang bisa melindungi satu temannya di sekolah akan menular kepada anak-anak lainnya,” katanya.
*Didukung Berbagai Pihak*
Acara ini terselenggara atas dukungan Living World Denpasar, Dinas Pendidikan Provinsi Bali, dan Dinas Pendidikan Kota Denpasar yang memberikan surat rekomendasi kegiatan. Kolaborasi juga melibatkan SMP Bali Dharma School, tempat para pengajar tunanetra Sunar Sanggita mengajar ekstrakurikuler, serta Yayasan Pendidikan Musik Lima Nada, sanggar musik inklusif lain yang turut menampilkan siswa disabilitasnya berkolaborasi dengan siswa non-disabilitas Sunar Sanggita.
*Tentang Sanggar Musik Sunar Sanggita*
Sanggar Musik Sunar Sanggita didirikan dari keprihatinan Wiguna terhadap teman-teman seperjuangannya semasa sekolah di SLB yang memiliki bakat musik luar biasa namun kesulitan mendapatkan pekerjaan yang konsisten. Ia kemudian mengajak dan melatih mereka menjadi pengajar musik. Meski sempat menghadapi keraguan dari orang tua murid di masa awal, sanggar ini terus berkembang dan kini memiliki cabang di Denpasar, dengan rencana ekspansi ke Tabanan, Bangli, serta kota-kota lain, termasuk Surabaya dan Jakarta. (rls)

