Balinetizen.com, Badung
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) kembali menggelar Indonesia Rendezvous 2026 di Bali. Memasuki penyelenggaraan ke-30, forum tahunan industri asuransi dan reasuransi ini diikuti 873 peserta dari 22 negara, dengan fokus pada penguatan kepercayaan, pertumbuhan berkelanjutan, dan ketahanan industri dalam menghadapi dinamika risiko global.
Mengusung tema “Building Confidence: Driving Sustainable Growth and Resilience in the Insurance & Reinsurance Landscape”, Indonesia Rendezvous 2026 menjadi ruang strategis bagi pelaku industri, regulator, perusahaan reasuransi, dan mitra internasional untuk bertukar pengetahuan, memperluas jaringan bisnis, serta membangun kolaborasi.
Jumlah peserta tahun ini menunjukkan peningkatan jangkauan internasional dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang melibatkan peserta dari 20 negara. Kegiatan ini juga didukung 27 sponsor dari dalam dan luar negeri, serta menghadirkan 14 hospitality suites dan 34 stan pameran.
Ketua AAUI sekaligus Presiden Direktur PT Asuransi Candi Utama, Budi Herawan, mengatakan industri asuransi dan reasuransi menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Ketidakpastian geopolitik, tekanan ekonomi makro, perubahan iklim, ancaman siber, hingga potensi munculnya kembali pandemi menuntut perusahaan memperkuat pengelolaan risiko dan kesiapan bisnis.
Menurut Budi, kepercayaan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat industri asuransi. Kepercayaan tersebut tidak dapat dibangun hanya melalui komunikasi, tetapi harus dibuktikan melalui komitmen perusahaan dalam memenuhi kewajibannya, terutama pembayaran klaim.
“Trust ini memang dibangun tidak mudah, harus berproses. Prosesnya apa, yaitu komitmennya. Bila terjadi klaim, tentunya kita bayar dalam waktu yang tidak terlalu lama,” ujar Budi dalam konferensi pers di kawasan Nusa Dua, Badung, Kamis (15/10/2026).
Ia menjelaskan, Indonesia Rendezvous 2026 juga menjadi momentum untuk membahas berbagai agenda transformasi dan reformasi industri, termasuk penguatan regulasi, peningkatan permodalan, pengembangan produk asuransi, serta perluasan perlindungan bagi masyarakat.
Budi didampingi Wakil Ketua Bidang Statistik, Riset, dan Analisis AAUI, Heri Supriyadi, serta Direktur Eksekutif AAUI, Cipto Hartono menjelaskan, salah satu upaya AAUI untuk membangun kepercayaan masyarakat adalah melibatkan kalangan mahasiswa dalam Indonesia Rendezvous 2026.
Budi menyebut sekitar 300 mahasiswa dari perguruan tinggi di Bali dan Jawa dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Program ini diharapkan dapat memperluas pemahaman generasi muda mengenai fungsi asuransi sekaligus mendorong peningkatan inklusi asuransi di Indonesia.
Menurutnya, peningkatan literasi belum sepenuhnya diikuti oleh pertumbuhan inklusi. Karena itu, mahasiswa diharapkan dapat menjadi penghubung informasi antara industri asuransi dan masyarakat.
AAUI juga terus menjalankan program literasi melalui kerja sama dengan perguruan tinggi di berbagai daerah. Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai manfaat asuransi dan mendorong lebih banyak orang memanfaatkan perlindungan asuransi.
Budi menegaskan, pemulihan kepercayaan harus dibarengi dengan perbaikan pelayanan dan komitmen perusahaan dalam menyelesaikan klaim sesuai ketentuan.
Selain literasi dan kepercayaan, AAUI menyoroti sejumlah agenda kebijakan yang dinilai berpengaruh terhadap peningkatan inklusi asuransi.
Salah satunya adalah pengembangan asuransi wajib berbasis bencana serta asuransi mikro bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kedua instrumen tersebut diharapkan dapat memperluas akses perlindungan, terutama bagi masyarakat dan pelaku usaha yang rentan terhadap risiko kerugian.
AAUI juga menyinggung pembahasan mengenai SPPA atau Commercial Policy Liability, yang menurut Budi masih memerlukan pembahasan lebih lanjut bersama Kementerian Keuangan dan DPR. Ia berharap proses persiapan dapat diselesaikan sehingga program tersebut dapat diluncurkan sesuai target.
Agenda lainnya adalah Program Penjaminan Polis yang direncanakan menjadi bagian penting dalam penguatan perlindungan pemegang polis. Budi berharap implementasinya dapat berjalan sesuai tahapan yang ditetapkan pemerintah dan regulator.
Di sisi lain, industri juga mencermati penerapan ketentuan permodalan berdasarkan POJK Nomor 23. Budi menyampaikan bahwa terdapat pembahasan mengenai kemungkinan kebijakan bagi perusahaan asuransi umum yang belum memenuhi ketentuan permodalan pada akhir 2026.
Menurutnya, berbagai agenda tersebut diharapkan dapat memperkuat fondasi industri asuransi nasional. Namun, realisasinya tetap dipengaruhi kondisi ekonomi dan geopolitik serta proses pembahasan kebijakan bersama para pemangku kepentingan.
Sementara itu, Ketua Panitia Indonesia Rendezvous 2026, Muhammad Iqbal, menjelaskan konferensi utama berlangsung pada 13–14 Oktober 2026 di Bali International Convention Centre (BICC), Bali.
Rangkaian kegiatan mencakup konferensi, diskusi bersama regulator dan pelaku industri, pameran, serta business matching untuk memperluas peluang kemitraan bisnis.
Pada hari pertama, pembahasan berfokus pada kondisi pasar reasuransi global, risiko geopolitik, tekanan ekonomi, dampak perubahan iklim terhadap kesenjangan perlindungan (protection gap), Compulsory Third Party Liability, serta perkembangan ekonomi dan keuangan Indonesia.
Peserta juga mendiskusikan risiko pandemi dan ancaman kesehatan, transformasi digital, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), transisi menuju mobilitas listrik, serta ketahanan siber.
Agenda hari kedua, mencakup penguatan ketahanan keuangan perusahaan asuransi melalui regulasi berbasis risiko, koordinasi manfaat dalam pembiayaan kesehatan, dan Program Penjaminan Polis. Kegiatan turut diisi peluncuran program literasi asuransi serta Executive Gathering yang menjadi ruang dialog antara regulator dan pelaku industri.
Penyelenggaraan ke-30 Indonesia Rendezvous menjadi momentum untuk memperkuat hubungan industri asuransi dan reasuransi Indonesia dengan pasar internasional.
Sebanyak 22 negara berpartisipasi, yakni Uni Emirat Arab, Australia, Bahrain, Belarus, Swiss, Tiongkok, Siprus, Jerman, Prancis, Britania Raya, Hong Kong, Indonesia, India, Korea Selatan, Mongolia, Malaysia, Nigeria, Filipina, Singapura, Thailand, Taiwan, dan Amerika Serikat.
Keterlibatan berbagai negara tersebut membuka peluang pertukaran pengetahuan, pengembangan kemitraan, serta perluasan jaringan profesional di tengah meningkatnya kompleksitas risiko industri.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Welcome Dinner pada Senin (12/10/2026). Acara pembukaan menghadirkan sambutan dari Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono; Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia periode 2024, Hadi Tjahjanto; Michael Hauer dari Munich Re; perwakilan IPR; serta Ketua AAUI, Budi Herawan.
Malam pembukaan juga diisi seremoni Lifetime Achievement Pinning, yang menjadi bagian dari peringatan tiga dekade Indonesia Rendezvous, dilanjutkan dengan jamuan makan malam dan kegiatan jejaring antarpeserta.
Memasuki usia penyelenggaraan ke-30, AAUI berharap Indonesia Rendezvous terus berkembang sebagai platform strategis untuk memperkuat kolaborasi, memperluas akses perlindungan asuransi, dan mendorong industri yang adaptif terhadap perubahan.
Melalui sinergi antara regulator, perusahaan asuransi dan reasuransi, akademisi, serta mitra internasional, forum ini diharapkan mampu mendukung pertumbuhan industri asuransi Indonesia yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
(jurnalis : Tri Widiyanti)

