Balinetizen.com, Denpasar
Ekonomi Bali pada triwulan II 2025 mencatat pertumbuhan sebesar 5,95%, mendekati 6%, dan menjadi yang tertinggi keempat di Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, dalam forum Balinomics di Denpasar, Selasa (12/8/2025).
Menurut Erwin, pertumbuhan ini masih didorong oleh sektor pariwisata, transportasi, dan perdagangan. Capaian tersebut mencerminkan resiliensi perekonomian Bali di tengah ketidakpastian global dan domestik.
“Kekuatan ekonomi Bali bertumpu pada kekuatan domestik. Namun, kita harus mewaspadai risiko perlambatan ekonomi global yang dapat memengaruhi ekspor dan investasi,” ujar Erwin.
Erwin menyoroti beberapa tantangan yang perlu diantisipasi, antara lain:
1. Risiko perlambatan ekonomi global yang berdampak pada ekspor dan investasi.
2. Perubahan iklim yang mengancam sektor pertanian sebagai salah satu tulang punggung ekonomi Bali.
3. Perubahan pola konsumsi masyarakat yang menuntut pelaku ekonomi untuk terus berinovasi.
4. Ketergantungan pada sektor pariwisata, sehingga diperlukan diversifikasi melalui sektor pertanian dan ekonomi kreatif.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, BI Bali mendorong sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, perbankan, dan masyarakat. Diversifikasi ekonomi melalui penguatan UMKM, sektor pertanian, dan ekonomi kreatif menjadi strategi utama agar Bali tidak hanya bergantung pada pariwisata.
Erwin mencontohkan keberhasilan UMKM Bali yang mendapat kesempatan ekspor melalui ajang Karya Kreatif Indonesia, serta kerja sama dengan ASITA dalam mengembangkan desa wisata yang menarik minat agen perjalanan internasional.
Erwin mengungkapkan, Forum Balinomics yang pertama kali digelar pada Februari 2025, kini menjadi wadah rutin untuk membahas prospek ekonomi dan potensi pembiayaan.
Dalam pertemuan ini, BI bersama pemerintah dan pelaku usaha mendiskusikan langkah konkret, mulai dari perbaikan iklim investasi, percepatan perizinan, peningkatan infrastruktur, hingga optimalisasi kebijakan likuiditas perbankan.
“Melalui Balinomics, kita tidak hanya berdiskusi, tapi juga mencari solusi nyata untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan,” tegas Erwin.
Dengan dukungan penuh dari semua pihak, BI Bali optimistis pertumbuhan ekonomi Bali dapat terus terjaga, sekaligus memperluas kontribusi sektor non-pariwisata demi ketahanan ekonomi daerah di masa depan.
(Jurnalis : Tri Widiyanti)

