Balinetizen.com, Denpasar
Bulan Juni adalah bulan Bung Karno. Dari lahirnya Pancasila pada 1 Juni juga lahirnya Presiden Pertama Republik Indonesia Bung karno pada 6 Juni. Kali ini juga soal ajudan terahkir Bung Karno seorang Wanita asli Bali, (Alm) Ni Luh Putu Sugiantiri. Nah, kali ini ada bincang bincang sekilas dengan Fajar Rohita putra sulung sang ajudan, yang namanya adalah pemberian Bung Karno sendiri..
Ni Luh Putu Sugianitri, Polwan yang juga adalah ajudan pribadi terakhir Bung Karno wafat pada hari Senin, 15 Maret 2021. Rumah semi permanen yg di tempati ibu Nitri (panggilan Putu Sugianitri) di wilayah Renon, Denpasar, ini terlihat sepi berbeda dengan bulan-bulan Juni sebelumnya yang biasanya ada saja orang-orang yang datang untuk berbincang dengan ibu Nitri khususnya yang berkaitan dengan Bung Karno, yang di beberapa daerah seperti Bali dan Blitar, bulan Juni di peringati sebagai “Bulan Bung Karno” dimana Hari Kesaktian Pancasila juga di bulan Juni tanggal 1.
Di rumah sederhana ini ibu Nitri tinggal dan menghabiskan masa tuanya, di temani 2 (dua) anaknya tinggal di lahan yang sama yang di kontraknya untuk periode yang cukup panjang. Berbagai tanaman termasuk pembibitan buah Jeruk Bali yang awal nya di kembangkan disana terlihat hanya tinggal sebagian kecil saja dan selebihnya terlihat bangunan-bangunan kamar kost yang di tempati orang-orang dan keluarga dari berbagai daerah di Bali dan juga luar Bali seperti Pulau Jawa, NTB, NTT , sehingga kurang lebih ada 40 keluarga dari berbagai suku dan agama tinggal berdampingan di lahan tersebut.
Lebih jauh, inilah penuturan Fajar Rohita, putra sulung { alm }ajudan terakhir Bung Karno dari perkawinan pertama nya dengan Memet Slamet, salah satu sahabat dekat Guntur Soekarno Putra yang sama-sama tergabung dalam Band Kwartet bintang dan juga Aneka Nada semasa pendidikan di Bandung, Jawa Barat. “ Saya mencoba menggali lagi mengenai pesan-pesan, kenangan, atau mungkin peninggalan khusus dari ibu Nitri yang berkaitan dengan Bung Karno yang mungkin di ketahui oleh ibu dan baru hanya di sampaikan kepada putra-putrinya,” jelasnya.
Fajar menuturkan bahwa pada saat ibu nya wafat, ada pihak yang menghubungi keluarga nya dan menanyakan apakah ibu nya menyimpan benda-benda peninggalan Bung Karno seperti Peci Bung Karno. Dasi Bung Karno atau benda lainnya. Fajar mengatakan bahwa sejak dulu ibunya tidak pernah menyampaikan ada benda-benda peninggalan Bung Karno yang diberikan atau di simpan oleh ibunya. “ Juga pada saat ibu wafat, anak-anak ibu tidak menemukan benda-benda yg di maksud di dalam kamar dan lemari kamar ibu,”ungkapnya.
Yang di simpan ibu hanyalah foto ibu bersama Bung Karno saat-saat terakhri Bung Karno dan di tanda tangani Bung Karno dan tulisan “Untuk Nitri”, kemudian beberapa buku-buku tentang Bung Karno, buku tentang ibu Fatmawati, disamping buku-buku Religi. “Sementara dalam catatan-catatan yang di tulis tangan pun kami tidak menemukan catatan khusus mengenai Bung Karno selain cerita-cerita yang pernah di dengar langsung dari ibu kepada anak-anaknya,”terangnya.
Fajar pernah bertanya kepada ibunya mengenai situasi politik di masa-masa akhir Bung Karno, dan yang ibunya selalu jawab hanyalah apa yang juga pernah di ceritakan kepada orang lain termasuk media-media yang pernah meliputnya. Dia pribadi tidak ingin mencoba mencari tahu hal-hal lainnya yang mungkin belum diungkapkan ibunya. Baginya cerita-cerita kehidupan ibunya bertugas mendampingi Bung Karno dan cerita mengenai perjuangan hidup ibunya dan ayahnya tersebut itulah yang dijadikan “Warisan” bagi dirinya dan adik-adiknya.
“Warisan” Bung Karno kepada Ibu Nitri yang selalu Fajar ingat adalah, kata-kata Bung Karno disaat ibunya menanyakan sikap beliau terhadap situasi yang di hadapi Bung Karno saat itu, dimana jawaban Bung Karno adalah “Lebih Baik Aku Mati, Kurobek Diriku Sendiri Daripada Negara Ku Hancur”. Makna dari kata-kata itu sangat khusus bagi ibu Nitri dan juga Fajar.
Fajar meneruskan, kalau sekarang ada lagi yang menanyakan “Apakah ada warisan atau peninggalan Bung Karno yang di simpan ibu Nitri?” jawab nya “Ada!” yaitu kata-kata “Lebih Baik Aku Mati, Kurobek Diriku Sendiri Daripada Negara Ku Hancur” itu lah. Kata-kata tersebut sungguh merupakan peninggalan Bung Karno bukan hanya kepada ibu Nitri dan keluarga tetapi buat seluruh bangsa ini.
Dari kalimat diatas, dia mengartikan kata-kata tersebut sebagai pesan yang sangat penting untuk menjadi Pemimpin Sejati yang menjunjung Nasionalisme dan Patriotisme di atas kepentingan pribadi. Pesan tersebut bisa di aplikasikan secara proporsional dalam kehidupan sehari-hari baik sebagai warga negara secara umum, dan sebagai pemimpin di masyarakat.
Sesungguhnya, bagi Fajar sendiri ada “warisan” yang menempel hingga saat ini, yaitu nama Fajar Rohita yang diberikan oleh Bung Karno untuk dirinya. “Fajar Yang Merah”, demikian artinya, Bung Karno menuliskannya di atas secarik kertas kemudian dititipkan dengan diselipkan di dalam sepatu ibu Megawati Soekarno disaat mejenguk Bung Karno di Wima Yaso.” Walaupun sekarang kertas tersebut hilang entah kemana, namun saya akan terus berusaha menjaga amanah “Warisan” tersebut dengan secara aktif mengambil bagian dari pembangunan bangsa sesuai kapasitas dan profesi nya dengan baik;”tutupnya. (Heru Prasetyo)

