Gugus Tugas Bali : Transmisi Lokal Meningkat, Seluruh Elemen Masyarakat Diminta Bersatu Padu Terapkan Protokol Kesehatan

0
495

Balinetizen.com, Denpasar-

 

Sekretaris Daerah Provinsi Bali yang juga Selaku Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Bali Dewa Made Indra mengingat transmisi lokal COVID-19 ada kecenderungan meningkat dalam beberapa hari terakhir, maka diminta kepada seluruh warga masyarakat, para tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh politik, dan semua elemen masyarakat untuk bersatu padu menguatkan disiplin kita semua dalam penerapan protokol pencegahan COVID-19.

Ia memohon kepada masyarakat selalu menggunakan masker, rajin mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, menjaga jarak, menghindari keramaian, melaksanakan etika batuk/bersin, melakukan penyemprotan disinfektan pada tempat yang tepat, menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh kita. Semakin kita disiplin dalam pelaksanaan pencegahan ini maka transmisi lokal penyebaran COVID-19 pasti bisa kita hentikan.

Dikatakan, untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19, pihaknya minta semua elemen masyarakat membantu dan bekerjasama dengan petugas survailans Dinas Kesehatan dalam melaksanakan tracing contact untuk menemukan siapapun yang pernah kontak dekat dengan orang yang positif COVID-19 sehingga kita bisa menangani lebih awal orang-orang yang berisiko terinfeksi COVID-19 guna mencegah penyebaran berikutnya kepada orang lain.

Ia menjelaskan perkembangan kasus Covid-19 di Bali. Kasus Covid-19 Rabu (10/6) jumlah kumulatif pasien positif 640 orang. Bertambah 32 orang dengan rincian  orang 30 orang WNI (1 orang PMI, 29 orang transmisi lokal) dan 2 orang WNA (transmisi lokal).

Sementara, jumlah pasien yang telah sembuh sebanyak 412 orang. Bertambah 3 orang yang terdiri dari 1 orang PMI, 1 orang imported case, dan 1 orang transmisi lokal. Sedangkan, jumlah pasien yang meninggal sejumlah 5 orang yang terdiri dari 3 orang WNI dan 2 orang WNA.

Jumlah pasien positif dalam perawatan (kasus aktif) 223 orang yang terdiri dari 217 orang WNI dan 6 orang WNA. Mereka dirawat di 12 rumah sakit dan dikarantina di Bapelkesmas dan BPK Pering

Baca Juga :  Uji Terbang Drone EHang 216 di Bali Tandai Dimulainya Era Baru Transportasi Udara Berbasis Digital

Dikatakan, setiap hari jumlah angka positif karena transmisi lokal terus menunjukkan peningkat yang tajam. Secara komulatif saat ini sudah berjumlah 342 orang. Hal ini berarti masih ada masyarakat yang tidak mengindahkan atau melakukan upaya-upaya pencegahan COVID-19, seperti pemakaian masker, mencuci tangan, physical distancing dan lainnya. Untuk itu, sekali lagi, dalam menekan kasus transmisi lokal maka masyarakat harus sadar dan disiplin dalam melakukan upaya pencegahan virus ini.

Sementara itu, Gubernur Bali melalui Kepala Dinas Kominfos  telah merilis penjelasan terhadap Imbauan Imbauan Gubernur Nomor : 215/Gugascovid19  /VI/2020, Tanggal  8  JUNI  2020 berkenaan  dengan  adanya  pertanyaan  terhadap  Himbauan  Gubernur  Bali  khususnya  pada  angka  10 yaitu:   “… agar  COVID-19  segera  kembali  pada  posisi  dan  fungsi  sebagaimana  mestinya.” Dapat  dijelaskan sebagai  berikut :

Menurut  sastra  dalam  lontar  Bali  Kuno  termuat  ajaran  nilai-nilai  kearifan  lokal  yang  menjadi keyakinan  kuat  masyarakat  Bali,  bahwa  wabah  penyakit  merupakan    bagian  dari  siklus  alam, yang  bisa  datang  secara  berulang  dalam  kurun  waktu  dasawarsa,  abad,  bahkan  millennium (ribuan  tahun).    Ada  tiga  jenis  wabah  penyakit,  yaitu  wabah  yang  menimpa  manusia  disebut Gering, wabah  yang menimpa  binatang  atau hewan disebut  Grubug,  dan wabah  yang  menimpa tumbuh-tumbuhan  disebut  Sasab  Merana.    Wabah  COVID-19  merupakan  salah  satu  jenis Gering,  yang  cakupan  penularannya  mendunia  dan  tingkat  infeksi  tinggi  sehingga  disebut Gering Agung  (Pandemi  COVID-19).

Munculnya  wabah  penyakit  merupakan  pertanda  adanya  ketidak-harmonisan  / ketidakseimbangan  alam  beserta  isinya  pada  tingkatan  yang  tinggi  akibat  ulah  manusia  yang tidak melaksanakan  tata  kehidupan berdasarkan nilai-nilai  kearifan lokal.

Masyarakat  Bali  memiliki  cara  sesuai  dengan  kearifan  lokal  dalam  menyikapi  munculnya wabah  penyakit  yaitu  dengan  mengembalikan  keseimbangan  alam  secara  niskala,  antara  lain melaksanakan  Upacara  Bhuta  Yadnya  (Kurban  Suci)  dan  Dewa  Yadnya  (Persembahan  Suci kepada  Hyang  Widhi  Wasa)  dengan  tingkatan  yang  mengikuti  skala  wabah.  Upacara  Bhuta Yadnya  dan  Dewa  Yadnya  merupakan  upaya  pengembalian  keseimbangan  alam  (nyomya), memerlukan proses  dan  tahapan yang  dilakukan pada  hari-hari  baik  tertentu (subha  dewasa).

Baca Juga :  Menghindar, Truk Muat Rongsokan Terguling di Pekutatan

Tujuannya  adalah  untuk  mengembalikan  wabah  pada  posisi  dan  fungsinya  sebagaimana diciptakan  oleh  Hyang  Maha  Kuasa,  karena  setiap  mahluk  ciptaanNya  memiliki  posisi  dan fungsinya  masing-masing  (Habitat)  sehingga  keseimbangan  alam  beserta  isinya  akan  normal kembali.

Oleh  karena  itu,  wabah  pandemi  COVID-19  tidak  sepatutnya  dihadapi  dengan  sikap  dan  diksi melawan  tetapi  harus  menghormati  dengan  cara  mengembalikan  kepada  posisi  dan  fungsinya masing-masing  (Habitat).  Karena  dengan  diksi  melawan,  justru  wabah  COVID-19  akan semakin sulit  dikendalikan, dan semakin ganas.

Itulah  sebabnya  penanganan  COVID-19  di  Bali  dilakukan  dengan  upaya  secara  niskala dan  sakala.

 

Editor : Whraspati Radha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here