Balinetizen.com, Denpasar
Pemikir kebangsaan Sukidi dalam kolom Marginalia Majalah Tempo edisi 13 – 19 Juli 2026 menulis dengan tema di atas, mengemukakan bangsa ini sedang dihadapkan dengan fenomena politik kekuasaan Fasisme, dengan sejumlah indikasinya, “Fasisme merayap secara gradual dengan dua gaya politik: sentralisme dan militerisme.
Aktornya adalah pemimpin fasis demagog yang menopangnya perpaduan antara hiper nasionalisme dan militerisme”.
Lebih lanjut intelektual ini menulis, ” Seabad kemudian, Republik ini mempraktikkan gaya politik fasis dengan memperluas propaganda untuk membongkar intelektualisme. Fasisme memang anti intelektualisme.
Di mana, ruang penalaran intelektual kritis di universitas, organisasi kemasyarakatan, pers dan ruang publik dibungkam melalui intimidasi,represi dan teror”.
Menurut Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi politik dan kecenderungan masa depan, tantangan dari Gerakan Masyarakat Sipil dalam Merawat dan Menjaga Demokrasi.
Menurut Jro Gde Sudibya, tetap elawan anti intelektualime dengan tetap merawat nalar dan akal sehat, melawan face to face demogogi politik dari para “buzzer” yang sarat miskonsepsi, manipulasi dan bahkan memproduksikan kebohongan publik.
Dikatakan, dalam bahasa Sukidi, “Jati diri pahlawan yang layak disematkan kepada setiap warga negara yang berbudi luhur adalah keberanian dan bukan ketakutan.
” Fasisme akan tumbuh semakin kuat akibat rasa takut yang semakin meluas. Hanya keberanian yang dapat menghentikan fasisme”,” kata Jro Gde Sudibya.
Dikatakan, kemasa-bodoan sosial, social ignorance dalam kosa Svami Vivekananda, yang bisa berpangkal dari pragmatisme (karena politik uang) .
“Kehilangan harapan akan masa depan, pesimisme dan bahkan rasa putus asa harus dilawan dengan dengan tetap menyalakan lilin-lilin kecil harapan,” katanya .
Jro Gde Sudibya menegaskan dengan tamsil, “di tengah terowongan gelap, di ujung terowongan lahir secercah sinar pemberi harapan”, melalui keberanian berjuang berkelanjutan, dengan konsistensi dengan cara-cara politik yang beradab.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

