Indonesia Tahun 2026, Dalam Bayang-Bayang Negara Gagal dan Bahkan Risiko Bubar

0
893

 

Balinetizen.com, Jakarta

Indonesia Tahun 2026, dalam Bayang-Bayang Negara Gagal dan Bahkan Risiko Bubar.

Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat: ekonomi politik dan kecenderungan masa depan -trend watcher-, Kamis 25 Desember 2025.

Dikatakan, Kombinasi dari besaran bencana alam: banjir bandang, rob, kebakaran hutan dengan politik yang super rapuh: kepemimpinan, konsolidasi politik berhadapan dengan ketidakpuasan publik akibat ketidak-adilan sosial yang melewati ambang batas kesabaran sosial.

“Merujuk thesis Indonesianist Ben Anderson, negara bangsa Indonesia adalah imagined society, masyarakat yang dibayangkan, masyarakat yang dianggap, yang berlandaskan kepercayaan trust kepada pemerintah yang mewakili negara, kepercayaan ini berada di titik nadir, kalau tidak mau dikatakan runtuh, akibat korupsi kekuasaan yang massif, korupsi menjadi “budaya” mematikan harapan akan masa depan,” katanya.

Dikatakan bencana ekologis di sebagian Sumatra, menghentakkan kesadaran baru yang telah bertumbuh dalam 10 tahun terakhir, eksploitasi terhadap sumber daya alam, meluluhlantakkan alam, hasilnya dikorupsi, meminggirkan masyarakat adat dan bahkan bahkan hidup dan masa depannya.

Dikatakan, Keperihan sosial yang tidak terpanai, membersitkan bawah sadar pertanyaan apakah negara bangsa ini masih pantas dipertahankan?

Menurut Jro Gde Sudibya, saat ini hukum benar-benar tajam ke bawah dan tumpul ke atas, berbarengan hukum dijadikan alat rekayasa sosial untuk melangsungkan kekuasaan dengan melanggar etika dan hukum itu sendiri.

” Kondisi anomali ini dimanfaatkan oleh mafia peradilan yang melahirkan fenomena akut begitu rendahnya etika moral pada sebagian besar penegak hukum,” katanya.

Menurut Jro Gde Sudibya, Lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif yang menguras sumber daya negara yang besar, dengan produktivitas bagi kepentingan publik yang rendah, perannya tidak menjadi bagian dari solusi dan bahkan menjadi bagian dari persoalan.

Baca Juga :  Tes Urine Secara Tiba - Tiba, Jika Positif Sanksi Pemecatan Menanti Kader Moncong Putih Karangasem

“Sebuah ironi, negara baca pemerintah dibelanjakan dari merusak sumber daya alam, ekspor, cadangan devisa, pendapatan negara sebagian besar berasal dari komoditas primer: Sawit, Batu Bara, Nikel, hasil tambang lainnya. Raison d’etre alasan keberadaan negara dari perspektif pendanaan rapuh dari segi etika dan moralitas publik,” katanya.

Dikatakan, Meritokrasi, berbasis: kompetisi, prestasi dan rekam jejak tergantikan secara banal tanpa malu-malu, dengan mediokrasi, kualitas SDM tanggung, ketidakjelasan rekam jejak, yang merusak sistem kekuasaan dan lingkungan birokrasi, dengan hasil tanggung dan bahkan nir prestasi. Dampaknya, panggung politik dijejali para politikus (petualang) minus negarawan.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here