Inspirasi dan Edukasi Reformasi dari Upacara Bumi Sudha

0
224

 

Oleh :
IDPG Rai Anom
(Pranata Humas Ahli Madya Bappeda Provinsi Bali)

Pada hari Jumat tanggal 23 Desember 2022 yang lalu, umat Hindu di seluruh Bali melaksanakan upacara yang disebut dengan bumi sudha. Penulis tidak mengetahui dengan baik apa makna dari bumi sudha. Namun, balipost.com edisi Minggu, 29 April 2018 menuliskan, tujuan dari upacara ini adalah menyucikan segala isi alam.

Selanjutnya antaranews.com edisi Minggu, 6 Desember 2010 memberitakan, Bumi sudha adalah salah satu upacara penting yang dilakukan umat Hindu Bali tat kala kondisi alam sedang ‘prawasing jagat’ atau saat alam dilanda banyak bencana, penyakit dan ketidakpastian. Upacara ini dilakukan pada Tilem sasih kanem dimana kondisi iklim, cuaca dan posisi planet-planet tata surya sedemikian rupa tidak pada porosnya. Tujuan upacara adalah memohon anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Hyang Dwa Rsi agar perputaran planet kembali pada porosnya sehingga bencana dan ketidakpastian kembali ke kondisi normal.

Upacara bumi sudha tingkat provinsi dilakukan di tiga lokasi : Pura Besakih-Karangasem, Pura Ulun Danu-Batur dan Pura Watu Klotok-Klungkung. Masing-masing mewakili unsur danau, unsur gunung, dan unsur laut. Untuk tingkat kabupaten/kota dilaksanakan tempat suci yang sudah ditentukan paruman sulinggih PHDI setempat, untuk tingkat desa dilaksanakan di masing-masing kahyangan tiga desa adat, dan tingkat rumah tangga dilaksanakan di sanggah/merajan, natar perumahan dan gerbang keluar masuk pekarangan rumah/lebuh.

Disebutkan bahwa sesuai dengan petunjuk Lontar Dewa dan Lontar Roga Sanghara Bumi, bumi sudha ditujukan kepada Hyang Dwa Rsi, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang bertugas menjaga perputaran bumi dan planet-planet lainnya agar berada dalam porosnya. Jika perputaran sudah berjalan pada porosnya, alam akan normal, dan segala bencana, penyakit dan ketidakpastian akan hilang.

Baca Juga :  Prospek Moda Transportasi Tenaga Listrik Rendah Emisi Di Indonesia

Demikianlah, upacara ini dilakukan dengan penuh kekuatan doa dan senantiasa dilakukan dari tahun ke tahun. Para pejabat teras pemerintah provinsi, kabupaten/kota, bendesa dan rumah tangga wajib hadir.
Agar pelaksanaan upacara mendatangkan hasil baik, umat manusia harus meneruskannya dengan melakukan kebaikan. Kebaikan dalam berpikir, berkata dan berbuat. Setiap umat harus melakukan perubahan pola pikir. Mengubah pola berpikir, ber dan berperilaku, dari yang rakus dan tidak ramah alam lingkungan menjadi berpikir, berkata dan berbuat ramah, sayang dan penuh cinta kasih kepada alam lingkungan. Banyak fakta peristiwa alam yang bisa dipetik untuk itu, seperti kerusakan hutan, pencemaran dan pendangkalan danau, pencemaran laut oleh sampah plastik, peningkatan banjir dan tanah longsor, perusakan bukit dengan alasan pembangunan, alih fungsi lahan pertanian dan sebagainya.

Upacara ini secara tidak langsung menyampaikan edukasi, informasi dan komunikasi, bahwa untuk kebaikan, janganlah hanya perkataan saja baik namun perilakunya jelek. Jangan hanya konsepnya saja begitu baik, tetapi pelaksanaannya merusak alam yang begitu penting demi kelangsungan jagat raya dan umat manusia generasi penerus.

Dari upacara ini memberi inspirasi terhadap delapan area reformasi birokrasi yang sedang dilakukan bangsa kita dalam rangka meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik. Sebagai orang awam, penulis berkeyakinan, nilai atau makna paling sederhana yang dapat dipetik dari penyelenggaraan upacara ini adalah, dalam penyelenggaraan pemerintahan yang penuh dinamika, aparatur negara harus senantiasa sadar diri bahwa kelangsungan hidup bangsa dan negara tidak semata-mata ditentukan oleh keinginan dan kemampuan manusia, namun harus ada kesadaran akan hukum dan kekuatan jagat raya yang maha dahsyat, yakni hukum Rta. Hukum alam.

Dengan kesadaran itu, aparatur pemerintahan dan aparatur negara, seharusnya merasa dituntun untuk senantiasa eling akan keberadaan dirinya yang tiada apa-apa dibandingkan alam, bersyukur dengan meresapi eksistensi diri sebagai bagian yang sangat kecil dari alam dan Tuhan yang menerima nikmat kehidupan, berterima kasih kepada alam dengan menghaturkan upacara sebagai wujud persembahan/pemberian atas semua yang diterima selama ini, kemudian berdoa memohon kerahayuan alam beserta isinya agar alam tak bosan memberi kenikmatan itu, dan pada akhirnya melakukan manajemen perubahan diri melalui tri kaya parisuda (pikiran, perkataan dan perbuatan).

Baca Juga :  Silaturahmi, Putu Parwata Terima Ketua Ranting PDI Perjuangan Sempidi : Kader Diminta Melayani Masyarakat

Dalam kaitan delapan area perubahan reformasi birokrasi, nilai yang terkandung dalam upacara bumi sudha ini adalah area manajemen perubahan/pola pikir tidak cukup hanya mengacu pada keinginan manusia, namun juga pada fakta alam di lapangan, dari situ dibangun tata kelola kelembagaan/pemerintahan, tata kelola sumber daya manusia aparatur, seterusnya evaluasi dan memperbaiki regulasi dan perundang-undangan yang sudah tidak cocok, dilanjutkan dengan mengembangkan pengawasan, kemudian penumbuhan budaya tanggungjawab/akuntabilitas, hingga pada akhirnya menguatkan sewaka atau pelayanan sebagai karma kepada alam dan kehidupan yang harus terus berkelanjutan.

Reformasi harus dilakukan menyeluruh. Mulai tingkat pusat, kabupaten/kota atau puri/griya, desa adat, sampai rumah tangga. Oleh karena itu, sejak dulu hingga kini, upacara bumi sudha dilaksanakan secara bertingkat. Tingkat tertinggi untuk seluruh Bali dan dunia dilaksanakan di Pura Batur, Pura Besakih dan Pura Watu Klotok, untuk tingkat kabupaten/kota dan puri dilakukan di kabupaten/kota/puri, di tingkat desa dilaksanakan di kahyangan tiga desa adat, dan keluarga dilaksanakan di pemerajan, natar rumah dan lebuh rumah tangga. Semuanya dilakukan pada hari yang sama: tilem kanem.

Begitulah, tidak berlebihan jika para pemuka agama Hindu di Bali mewajibkan para pejabat teras di Bali menghadiri upacara ini. Upacara di Pura Batur dihadiri oleh tokoh agama, adat dan budaya setempat Jro Gede Batur Duuran, dari Pemprov Bali hadir Sekda Bali, Asisten II Sekda Provinsi Bali, Staf Ahli Gubernur bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Staf Ahli Gubernur bidang Permukiman dan Sarana Prasarana Wilayah, Karo Pemerintahan dan Kesra, Karo Hukum, Karo Organisasi, Karo Pengadaan Barang/Jasa dan Perekonomian, Karo Umum dan Protokol, Kepala BRIDA, Direktur RSUD Bali Mandara dan Sekretaris KPID Bali.

Baca Juga :  FK PUSPA Gandeng PKK Kota Denpasar Gelar Talk Show Kesehatan Reproduksi dan Kecantikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here