Jalur Rempah Nusantara Hanya Wacana, Jalur Sutra Modern China Jadi Program Pembangunan Mengguncang Dunia

0
238
Peta Jalur Rempah Sutra.

 

Balinetizen.com, Denpasar-

Pendiri LSM Forum Merah Putih Putu Suasta yang juga Ketua Gerakan Indonesia Bersatu mengagumi keindahan Melaka yang merupakan salah satu negara bagian di Malaysia.

Melaka memiliki lokasi geografisnya yang strategi antara Samudra Hindia dan Laut Tiongkok Selatan menjadi pusat perdagangan laut antara India dan Tiongkok.

“Salah satu yang paling penting dari semua pusat perdagangan untuk perdagangan rempah-rempah global adalah Malaka. Waktu itu Armada Portugis sering kali dengan navigator atau pilot dari Jawa berlayar setiap tahun dari Malaka untuk memuat komoditas dari kepulauan rempah-rempah itu,” ungkapnya.

Untuk itu, pihaknya mendukung penuh Pemerintah Indonesia yang ingin kembali membangun jalur rempah tersebut dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakatnya menuju Generasi Emas Indonesia 2045.

Menurut pengamat politik dan Ekonomi Jro Gde Sudibya catatan Putu Suasta ini untuk mengulik ingatan netizen akan peran besar ekonomi rempah-rempah di bumi Nusantara. Tetapi faktanya di negeri ini, wacana tentang Jalur Rempah-rempah Bumi Nusantara hanya berhenti di wacana nyaris tanpa program aksi.

Berbeda dengan China, lanjut Jro Gde Sudibya, revitalisasi Jalur Sutra Modern diwujudkan dengan nama keren mendunia BRI (Bridge, Road, Initiatives) dengan pasokan dana ratusan triliun dollar AS dalam sebut saja dalam 20 tahun terakhir. Proyek raksasa membangun jembatan, jalan raya, pelabuhan laut, bandara membentang ribuan kilometer dari Beijing sampai London, melintasi puluhan negara.

“Diperkirakan pembangunan infra struktur di negeri ini dan proses industrialisasi, dengan sebutan politik berlebih, hilirisasi industri seperti nikel dan bahan tambang lainnya, dibelanjai dengan dana BRI di atas. Karena proyek raksasa dan ambisius China ini, banyak negara iri dan ketakutan,” kata Jro Gde Sudibya.

Baca Juga :  Pemkab Tabanan Mengucapkan Selamat Idul Fitri 1445 Hijriah Tahun 2024

Secara geo politik, lanjutnya, proyek ini tampaknya sangat menguntungkan China, di Timur Tengah terjadi proses perdamaian di Yaman, perundingan Arab Saudi – Iran, pendekatan Iran – Israel, yang terang-terangan diinisiatifi China. Tantangan buat pemimpin baru negeri ini.

Dikatakan, realitas global di atas memberikan indikasi kuat, tentang semakin tingginya posisi tawar China di lingkungan geo ekonomi dan geo politik global. Pemimpin negara yang cerdas merespons perubahan ini, meminjam istilah Pak Hatta dalam kebijakan luar negeri “mendayung di antara dua karang”, mampu memanfatkan kesempatan ekonomi global berciri “turbulance”, dengan kondisi politik dalam negeri yang tetap stabil. (Adi Putra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here