Jro Gde Sudibya : Bali Berhenti “Memuja” Pertumbuhan Ekonomi dengan Mengorbankan Alam

0
365

Balinetizen.com, Denpasar –

 

Bali Semestinya Berhenti “Memuja” Pertumbuhan Ekonomi Neo Klassik yang Mengorbankan Alam dengan Pembangunan Berkualitas Berbasis Daya Dukung Ekologi.

Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, pengamat: ekonomi, lingkungan dan kecenderungan masa depan, Senin 5 Desember 2026.

Menurut Jro Gde Sudibya pendekatan ekonomi negara klasik yang “memuja” pertumbuhan ekonomi, dengan mengorbankan lingkungan harus ditinggalkan oleh Bali, karena Bali telah mengalami darurat lingkungan, krisis lingkungan dan bahkan Bali “benyah latig”, kerusakan lingkungan yang nyaris tak dipulihkan.

Dikatakan, “Memuja” angka kedatangan turis tahun 2025 yang diperkirakan sebesar 7,1 juta wisatawan, gambaran dari pendekatan kuno ekonomi neo klasik, memuja pertumbuhan ekonomi abai kepada pelestarian Alam.

Menurut Jro Gde Sudibya, bencana Ekologi Sumatra merupakan contoh nyata yang mengerikan dari pendekatan ekonomi neo klasik.

Menurut Humas Green Peace Indonesia, bencana ekologis Sumatera telah mengakibatkan tanah mati yang nyaris tidak bisa dipulihkan, dengan risiko bencana hidrometeorologi diperkirakan 8 kali lipat dibandingkan dengan di masa lalu.

Dikatakan, dengan merujuk rekomendasi para pakar lingkungan PBB, yang menyatakan jika suhu bumi di atas rata-rata 1,5 derajat celsius, Kesepakatan Paris (2016) diperkirakan bencana hidrometeorologi akan meningkat 8 kali lipat. Risiko bencana yang mengerikan yang mengancam masa depan peradaban.

Menurutnya Bali harus segera meninggalkan pendekatan pembangunan neo klasik, yang “memuja” pertumbuhan ekonomi, dengan menganggap Alam sekadar sumber daya yang bisa dieksplorasi tokh nanti teknologi yang memulihkan.

Dikatakan, dalam kasus bencana ekologi Sumatra dan bencana ekologi lainnya di banyak belahan dunia, para pakar lingkungan dan para pakar ekonomi cum ekologi, teknologi tidak akan mampu memulihkan Alam yang telah rusak akibat pertambangan yang tidak bertanggung-jawab.

Baca Juga :  18 Siswa di Denpasar Terima Beasiswa Pendidikan dari CSR BPD Bali

“Bali semestinya memilih strategi pembangunan, tanpa pertumbuhan ekonomi neo klasik, pertumbuhan ekonomi yang merusak lingkungan, fokus ke strategi pembangunan yang berkualitas, ekonomi bertumbuh secara inklusif berkeadilan dengan jaminan kelestarian Alam terjaga,” kata Jro Gde Sudibya.

Menurutnya, TRI HITA KARANA dalam pilihan strategi pembangunan, menjadi program aksi, menjadi komitmen politik para penguasa dan masyarakat, dan dijabarkan dalam politik anggaran di DPRD Provinsi, Kabupaten dan Kota.

“Krisis ekologi telah menghampiri Bali, diperlukan terobosan kebijakan penyelamatan Alam Bali dan masa depannya,” kata Jro Gde Sudibya, pengamat: ekonomi, lingkungan dan kecenderungan masa depan.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here