Balinetizen.com, Buleleng –
Bahari di Laut Bondalem bukan sekadar pesta rakyat di tepi pantai, tetapi menjadi momentum bersejarah dalam upaya pelestarian lingkungan laut Bali Utara. Kegiatan yang berlangsung di Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, Buleleng ini, menghadirkan semangat gotong royong masyarakat pesisir dalam menjaga ekosistem laut, khususnya melalui konservasi terumbu karang.
Menurut Jro Gde Sudibya, ekonom sekaligus pengamat ekonomi dan lingkungan, Festival Bahari Bondalem adalah gerakan yang keren dan bermakna mendalam di tengah krisis iklim global yang kian nyata.
“Upaya konservasi terumbu karang di tengah krisis iklim dewasa ini adalah bentuk nyata kepedulian masyarakat pencinta lingkungan. Penegakan etika lingkungan menjadi hal wajib dan penting, jika manusia tidak ingin menderita berkepanjangan dan akhirnya punah,” ujar Jro Gde Sudibya.
Ia juga menyinggung peringatan keras Sekjen PBB Antonio Guterres yang menyatakan bahwa “krisis iklim mengantar manusia menuju jalan tol neraka iklim”. Pernyataan ini, kata Jro Gde, menjadi peringatan serius bagi semua pihak agar tidak abai terhadap kelestarian alam.
Jro Gde menilai, pesan lingkungan ini sangat relevan dengan kondisi Bali pasca “September Kelabu”, mengacu pada banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah Bali pada 10 September 2025. Ia menegaskan bahwa normalisasi sungai dan pemulihan ekosistem alam harus menjadi prioritas kebijakan, bukan sekadar kegiatan pencitraan semata.
“Upaya normalisasi sungai menjadi kebutuhan mendesak, namun tampaknya belum menjadi perilaku kekuasaan yang benar-benar berpihak pada alam,” tambahnya, Rabu (22/10/2025).
Buleleng atau Den Bukit, dikenal sebagai wilayah dengan garis pantai dan perbukitan terpanjang di Bali. Menurut Jro Gde, kegiatan seperti Festival Bahari Bondalem menjadi “moment of truth” — momentum pembuktian komitmen masyarakat dalam menyelamatkan lingkungan dan mendorong ekonomi ramah lingkungan (environmental friendly eco-tourism).
“Upaya konservasi terumbu karang di Bondalem bukan hanya menjaga laut, tapi juga memperkuat arah pembangunan ekonomi berkelanjutan di Bali Utara,” jelasnya.
Selain memiliki nilai ekologis, Desa Bondalem juga menyimpan nilai sejarah dan spiritualitas yang tinggi. Nama Bondalem diyakini berasal dari kosa kata otentik “Kebon Dalem”, merujuk pada kawasan hutan pesisir di bawah Alas Metaun di bagian barat Tejakula. Tempat ini dikenal sebagai lokasi perburuan Raja Cri Aji Jayapangus, raja besar Bali pada masa Bali Mula.
Dari masa itu pula lahir sistem keyakinan yang masih lestari hingga kini, yakni pemujaan Ida Bhatari Ratu Ayu Mas Subandar, cakti Tuhan penguasa laut dan pelabuhan. Keberadaan simbol-simbol pemujaan seperti “jejer kemiri pura” masih dapat ditemui di berbagai kawasan pantai hingga pegunungan di Bali.
Warisan budaya dan spiritual ini menjadi bagian tak terpisahkan dari semangat Festival Bahari Bondalem, yang tidak hanya merayakan keindahan laut, tetapi juga menghidupkan kembali kesadaran ekologis dan nilai-nilai kearifan lokal.
Festival Bahari di Laut Bondalem membuktikan bahwa pelestarian lingkungan, sejarah, dan spiritualitas dapat berjalan beriringan. Upaya masyarakat Bondalem dalam menjaga laut bukan hanya tindakan konservatif, tetapi juga manifestasi cinta terhadap Ibu Pertiwi dan penghormatan terhadap leluhur.
Sebagaimana pesan Jro Gde Sudibya, jika manusia ingin tetap bertahan dan hidup bahagia di bumi, maka etika lingkungan harus ditegakkan, dan setiap langkah kecil menuju konservasi alam — seperti di Bondalem — patut menjadi inspirasi bagi seluruh Bali.(ist)

