Ke-bali-an (Potret Bali ala A. Negri)

0
175

Memotret Bali melalui lensa pemikiran filsuf Marxis otonomis/Anarkhis Italia, Antonio Negri, (terutama konsepnya bersama Michael Hardt) dalam buku Time for Revolution, Empire, Multitude, dan Commonwealth, berarti melihat pulau ini bukan sekadar sebagai destinasi liburan, melainkan sebagai medan tempur kapitalisme global yang termediasi lewat industri pariwisata.

Dalam perspektif Negri, realitas Bali hari ini dapat dibedah ke dalam tiga pilar analisis utama, yakni:

Pertama, Bali dalam cengkeraman Empire (Kekaisaran Global).
Bagi Negri, kapitalisme kontemporer tidak lagi dikendalikan oleh satu negara imperialis (seperti AS atau Eropa secara sepihak), melainkan oleh Empire—sebuah jaringan global tanpa pusat yang melintasi batas negara, melibatkan korporasi multinasional, lembaga keuangan, digitalisasi, dan elit lokal.

Ditandai dengan komodifikasi total dan kerja imaterial. Dalam artian, pariwisata Bali bukan lagi sekadar menjual kamar hotel, melainkan menjual “pengalaman”, “spiritualitas”, “keramahtamahan”, dan “gaya hidup”, atau bahkan sekedar “menulis dan membaca”, yang nyaris tanpa aksi nyata.

Dalam istilah Negri, ini adalah bentuk immaterial labor (kerja imaterial) dan biopolitics. Kehidupan sehari-hari, ritual keagamaan, dan ruang budaya krama Bali dieksploitasi dan diserap sepenuhnya menjadi sirkulasi modal lokal, nasional dan global.

Diikuti hilangnya Otonomi Ruang, dimana kebijakan tata ruang di Bali sering kali tunduk pada arus modal Empire, yakni investor “asing-aseng” korporasi International, Jakarta, dan/atau para pengasong lokal, daripada kebutuhan riil masyarakat lokal, memicu krisis lingkungan, mulai dari sampah, krisis air, alih fungsi lahan/hutan, demi melanggengkan akumulasi kapital.

Kedua, Pariwisata sebagai komodifikasi The Commons (Milik Bersama). Salah satu fokus terbesar pemikiran Negri adalah pembelaan terhadap the commons (kekayaan bersama), baik alamiah, ilmiah, maupun kultural yang terus-menerus dirampas oleh privatisasi kapitalistik.
Di Bali, the commons berwujud sekeha, subak, atau krama, pantai publik, udara bersih, air, hingga ruang-ruang ritual adat.

Baca Juga :  Sekda Badung Hadiri Penutupan Beach Front Festival Pantai Jerman

Melalui kacamata Negri, krisis pariwisata Bali hari ini terjadi karena kapitalisme melakukan penutupan (enclosure) terhadap milik bersama tersebut. Pantai diprivatisasi oleh resor mewah, air tanah disedot habis untuk industri pariwisata, dan budaya yang awalnya bersifat komunal didegradasi menjadi sekadar komoditas komersial, atau tontonan demi keuntungan segelintir elit. Ketika rakyat/ publik bertanya, hanya dijawab: “Diam kamu!”

Ketiga, gerakan sosial di Bali sebagai Aksi Multitude. Memang analisis Negri terkesan distopik, atau “saru geremeng” (kabur), namun selalu optimis terhadap agensi perlawanan. Dengan menolak konsep tunggal “kelas pekerja” tradisional dan menggantinya dengan konsep Multitude (Massa-Banyak). Diambil dari filsafat biologi-nya Baruch Spinoza: dari Vulgus ke Multitude.

Multitude adalah jaringan agensi yang beragam, majemuk, bersifat horizontal, namun disatukan oleh penolakan yang sama terhadap penindasan kapitalisme global.
Lensa Multitude ini sangat relevan untuk melihat berbagai gerakan akar rumput di Bali. Contoh historis seperti Gerakan ForBALI (Tolak Reklamasi Teluk Benoa), aksi kolektif aliansi “Bali Tidak Diam”, atau “Aksi Kamisan” merupakan perwujudan konkret dari Multitude.

Gerakan-gerakan ini tidak dipimpin oleh satu partai tunggal atau satu komando hierarkis, melainkan gabungan dari musisi, seniman, akademisi, pemuda adat, petani, aktivis lingkungan, hingga ekspatriat yang bergerak secara otonom dan horizontal untuk merebut kembali hak atas tanah, natah dan tahta rakyat/ publik melawan hantu-hantunya.

Kesimpulan
Dalam kaca mata buram Antonio Negri, Bali tidak sedang baik-baik saja di bawah kendali kapitalisme pariwisata yang eksploitatif.

Namun, kekuatan terbesar Bali tidak terletak pada regulasi top-down dari pemerintah yang sering kali kompromistis, melainkan pada potensi otonom masyarakatnya (Multitude), dalam sekehe, krama dst, untuk mengorganisasi diri, mempertahankan ruang hidup mereka, dan merebut kembali kekayaan bersama (the commons) demi masa depan pulau yang berkelanjutan.

Baca Juga :  Sampah Bali Belum Beres, TPA Suwung Diperpanjang Sampai November 2026

Oleh : Ngurah Karyadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here