Kebangkitan Agama sebagai Organisasi, Berbarengan dengan Kebangkrutan Spiritualitas

0
47
ilustrasi

Balinetizen.com, Denpasar –

 

Setuju dengan pemikiran Krishnamurti, spiritualitas melampaui agama sebagai organisasi plus dogma kaku “mematikan” intelektualitas. Dalam bahasa Krishnamurti, “spirituality beyond the religion”.

Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, Intelektual Hindu, pengamat kecenderungan masa depan, Selasa 4 Agustus 2026.

Menurut Jro Gde Sudibya, sekarang terjadi paradoks dimana-mana, kebangkitan agama sebagai organisasi berbarengan dengan kemerosotan spiritualitas.

Dikatakan, telah terjadi “spirituality paradox”, meminjam istilah Svami Vivekananda, ritual agama sebagai industri bangkit berbarengan dengan kebangkrutan spiritualitas.

Mau bukti? Menurutnya, terjadi kerusakan alam super dashyat di seluruh antero planet, kepemimpinan yang semestinya mengabdi dan melayani, menjadi pemicu dashyat dari manusia menjadi srigala ke sesamanya -homo homin lupus-.

Bukti lainnya, perang AS – Israel VS Iran, yang dimulai 28 Februari 2026, di hari pertama membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Akhmad Kamaeni, dan menurut liputan Kompas, dengan teknologi kecerdasan buatan selama 24 jam AS plus Israel menembakkan 1,000 rudal menghancurkan pangkalan militer,rumah sakit, dan sekolah.

Bukti kemerosotan moral lainnya, sejumlah anak sekolah menjadi korban. Di sisi lain, menurut pelapor PBB untuk Palestina, Albanese dalam wawancaranya dengan Majalah Tempo, dalam 2 tahun terakhir terjadi genosida di Jalur Gaza sekitar 600 ribu orang menjadi korban.

Dikatakan, terjadi krisis kemanusiaan hebat di mana-mana berbarengan dengan kebangkitan agama sebagai organisasi.

Yang mutakhir, pernyataan keras dari DGI (Dewan Gereja Indonesia) Papua, tentang perusakan alam di Papua berbarengan dengan “pengusiran” masyarakat adat.

Di Papua sedang berlangsung defrostrasi terbesar di dunia 2,2 ha di Kabupaten Merauke, di tengah “kebangkitan” agama di negeri ini. “Kebangkitan” agama atau kebangkitan kemunafikan.

“Di sini peringatan Krishnamurti menjadi sangat relevan. Gelising cerita, para pendiri negeri ini yang sebagian dekat dengan teosophi diperkirakan membaca buku-buku Krishnamurti,” kayanya.

Baca Juga :  Kasus Positif Covid-19 di Kota Denpasar Terus Menurun, Hari Ini Sebanyak 15 Orang Sembuh

Bahkan menurut penuturan Ibu Gedong, Ibu Poppy Sjahrir, istri Soetan Sjahrir, PM Pertama negeri ini dan adiknya cendikiawan ternama Dr.Sodjatmoko, penggemar berat pemikiran Krishnamurti.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here