Diberitakan di medsos, seorang pemedek dari Desa Beringkit Mengwi setelah mebhakti ring Pura Penataran Agung Besakih, pingsan di sisi Timur Penataran Agung dibawa oleh semeton pecalang ke Puskesmas Rendang dan kemudian meninggal. Dalam aed upakara Ida Bhatara Turun Kabeh, Pura Besakih sebut saja “kebrebehan”, “kecuntakan”.
Sebuah ironi dan bahkan tragedi pasca proyek deskralisasi Besakih dengan nilai hampir Rp.1 T. Deskralisasi Besakih dengan sejumlah argumentasi:
a.Piuning pemugaran tanpa konsultasi dan kemudian perarem serta piuning bersama pemaksan Pura Ulun Kukul. Tradisi yang lazim dilakukan oleh Gubernur Mantra dan dilanjutkan oleh Gubernur Dewa Beratha dalam upaya penuh ekstra hati-hati, “ngewangun yasa kerthi” jika “menyentuh” Besakih.
b.Kosmologi ruang Pura Besakih sebut saja “dihancurkan”, gedung parkir bertingkat simbol dari komersialisme industri pariwisata, ngungkulin Pura Titi Gonggang, dan hanya berjarak sekitar 150 meter dari Pura Manik Mas.
Jarak gedung komersial ini semestinya mengikuti uger-uger alam yang melindungi Besakih, di sisi luar Tukad Telaga Waja, Desa Rendang. Atau mengikuti ketentuan Bhisama Kesucian Pura, a peneleng agung, sekitar 5 km, sama dengan jarak alam Besakih.
c.Pura Titi Gonggang dalam tradisi keyakinan masyarakat Bali, merupakan “pengempak” Lawang menuju Sorga, yang semestinya dijaga “kepingitan” dan kesuciannya. Dalam sastra yang datang kemudian, Titi Gonggang merupakan “bentang luas kesadaran” untuk memasuki kesadaran baru rokhani mulai dari Pura: Manik Mas – Ulun Kulkul – Bangun Cakti – Goa Raja – Rambut Sadhana – Basukhian – Penataran Agung.
Besakih, baca puncaking Giri Toh Langkir, merupakan “uluning” rokhani krama Bali, menjadi “sesuduk kayun” para pemimpin dalam bentang sejarah kepemimpinan Bali. Menyebut beberapa nama: Rsi Markandya, Cri Kesari Warmadewa, Ida Dalem Waturenggong sampai Wang Bang Srikreshna Kepakisan. Kesakralan yang harus dirawat dan dijaga, untuk menjaga ketentraman dan kedamaian jagat Bali.
Ketentraman dan kedamaian tidak ada lagi di Bali, krisis sampah yang akut dan “menerjang” Niti Mandala, gumi Baline “benyah latig” dengan kerusakan alam yang nyaris tak terpulihkan, terjadi pengepingan sosial akut di masyarakat, masyarakat kehilangan panutan, terjadi “kegilaan” dalam kepemimpinan dalam jargon memalukan ” kopi plus arak”.
Memuja peradaban fisik dengan niatan tidak tulus, kontras dengan peradaban Bali otentik yang merupakan bauran dari nilai spiritualitas, kebudayaan yang kemudian diekspresikan dalam karya-karya budaya yang sebagian berbentuk fisik. Dalam kondisi Bali berada di tepi jurang kehancuran: fisik, budaya dan sistem nilai, diharapkan Gubernur Koster mengundurkan diri, karena tidak lagi punya kapasitas dan kompetensi memimpin Bali di era besar disrupsi.
Oleh : Jro Gde Sudibya, anggota MPR RI Utusan Daerah Bali 1999 – 2004, pendiri dan sekretaris Kuturan Dharma Budaya, LSM yang memasyarakatkan pemikiran Mpu Kuturan Raja Kertha.

