Kerauhan, Kerauhan Massal, Fenomena Apa Ini

0
235

 

Balinetizen.com, Denpasar

Dalam perspetif ilmu sosial, fenomena kerauhan, kerauhan massal yang acap kali terjadi, karena kegagapan masyarakat merespons perubahan, dari masyarakat agraris pertanian yang bercirikan sosialisme religius ke industri jasa yang bercirikan kapiltalisme sekuler.

Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, inteletual Hindu, penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali, Sabtu 18 November 2023, menanggapi fenomena kerauhan yang terjadi belakangan ini.

Dikatakan, ciri masyarakat sosialisme religius: kebersamaan, kejujuran, respek pada alam dan juga kesucian. Sedangkan ciri umum masyarakat kapitalisme sekuler: invididu, didominasi oleh motif mencari untung, punya kecendrungan merusak alam, dengan fenomena atheis (nastika dalam bahasa Kawi), per teori percaya pada Tuhan, per praktek tidak, karena telah menyembah berhala yang bernama kekuasaan dan kekayaan.

Menurutnya dari perspektif sraddha/keiman, telah terjadi Ritual agama yang semakin hari semakin semarak, semakin boros, tidak lagi mampu mentransformasi batin “pengemponnya” untuk lebih: jujur, memegang etika dan menjaga kepantasan.

Dikatakan, fenomena kerahuan ini juga karena lahir kerapuhan karaker dalam prilaku, melanggar etika – moral, merosot tajamnya kejujuran, jauh “panggang dari api”, manusia dengan karakter kuat – Stitha Prajna – dalam Bab II Bhagavad Githa tentang Samkhya, manusia dengan kecerdasan seimbang melakukan karma yoga.

Menurut Jro Gde Sudibya, berdasarkan pengamatan dan catatan di masyarakat, majelis agama, dan birokrasi yang berhubungan dengan pembangunan karakter, siar keagamaan, kesannya tidak peduli dengan persoalan mendasar masyarakat.

Dikatakan yang muncul kepermukaan dalam fenomena kerauhan, manusia lebih sibuk sebatas mengelola kekhawatiran, ketakutan – enxiety, fair management- untuk menjaga keamanan dan kenyamanan pangkat dan jabatan dengan privelege yang melekat.

“Majelis Agama dalam hal ini Paruman Sulinggih, semestinya memberikan penjelasan terhadap fenomena kerauhan ini, sebut saja dari sastra agama Hindu Bali, tentang realitas rokhani dengan simbol Sang Hyang Rau dan Sang Hyang Ketu,” katanya.

Baca Juga :  Peringati HUT Ke-77 Kemerdekaan RI, Bupati Tabanan Serahkan Remisi Umum  

Dikatakan, realitas rokhani Sang Hyang Rau yang “ditampi” oleh umat yang batinnya tidak stabil dan juga goyah, bisa jadi melahirkan laku kerauhan yang tidak lagi proporsional. Tetapi bagi “pengayah” penganut bhakti yang tekun, dengan “subha” karma “mepekardi ayu”, realitas rokhani Sang Hyang Ketu, sebagai momen diri pendakian rokhani menuju “Jagra” sadar diri dan juga “Bhadra” Keselamatan skala – Niskala.

Menurutnya, fenomena kerauhan ini muncul dari kekurangankepercayaan diri umat/masyarakat akan dirinya. Terjadi krisis kepemimpinan yang akut, nyaris tanpa suri ketadanan, terlebih-terlebih di lingkungan pejabat publik yang haus kekuasaan.

“Sejarah sering memberikan pelajaran, rusaknya etika dan moral, penegakan hukum yang tidak lagi “metaksu” karena salah guna kuasa, dan praktek “jual beli” pasal, melahirkan kegelapan sosial dan kegelapan peradaban, ” kata Jro Gde Sudibya, inteletual Hindu, penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali. (Adi Putra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here