“Kisruh” Politik di Zaman Kaliyuga, Kesetiaan Sirna, Pengkhinatan Politik Terjadi

0
184

Jro Gde Sudibya, Ketua FPD (Forum Penyadaran Dharma) Denpasar

Balinetizen.com, Denpasar

Dalam susastra dinyatakan ini Zaman Kaliyuga yang secara teologi bercirikan kesadaran murni manusia tinggal 20 persen. Ciri-ciri tersebut terlihat pada pasca keputusan sidang Mahkamah Konstitusi.

Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, Ketua FPD (Forum Penyadaran Dharma) Denpasar, Senin 23 Oktober 2023 menanggapi situasi politik dan sifat sifat keserakahan, egoisme, dan hanya mau menang semdiri para politisi di Zaman Kaliyuga tersebut.

Dikatakan, ciri ciri Zaman Kaliyuga di mana kesadaran murni yang menggambarkan kesadaran Tuhan dan kemudian “membumi” dalam prilaku Satvam hanya 20 persen. Sisanya 80 persen dikuasai oleh sifat Rajas dan Tamas, yang jika tidak dikendalikan melahirkan sifat: keangkuhan, kesombongan, keserakahan, kebodohan, kemalasan. Prilaku hidup “memuja” benda, kekuasaan dan “merengkuh” kesenangan tanpa batas.

Dikatakan, Zaman Kaliyuga menurut Susastra berlangsung sekitar 265 ribu tahun, baru dijalani sekitar 5 ribu tahun. Rentang menuju Kertha Yuga, zaman kesejahterraan lahir batin masih panjang sekitar 260 ribu tahun.

Menurutnya, ciri ciri Zama Kaliyuga ini berlaku terhadap semua mahluk manusia di muka bumi. Contoh tragedi kemanusiaan di mana manusia dan lingkungan terus menjadi korban pada perang Rusia dengan Ukrania, perang Hamas dan Israel yang kini masih berlangsung. Di mana, nilau nilai kemanusiaan tidak dihargai lagi.

“Tetapi filsafat Sanatana Dharma mengingatkan, zaman boleh dan akan terus berubah, dalam tantangan TRI GUNA (Satvam, Rajas, Tamas), tetapi insan manusia harus terus merawat keutamaan dirinya, ” katanya.

Masih menurut Jro Gde Sudibya, merawat keutamaan diri manusia dengan terus menumbuhkan kesadaran ATMAN dalam dirinya, sehingga tidak menjadi bulan-bulanan dan korban sia-sia dari sikap keserakahan yang merupakan ciri melekat zaman Kaliyuga.

Baca Juga :  Ketua Pansus Made Sumerta: Retribusi Dikenakan, Pelayanan Kesehatan harus Maksimal

“Rsi Patanjali dalam ASTANGGA YOGA mengajarkan 8 tangga menuju ke kesadaran Tuhan: Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Praktiyhara, Dharana, Dhyana, Samadhi, menjadi praktek laku kehidupan untuk mengendalikan sikap destruktif Kaliyuga,” tandas Jro Gde Sudibya.

Menurut pengamat politik Jro Gde Sudibya fenomena politik di Indonesi sejak seminggu terakhir menggambarkan ciri zaman kali yuga. Dimana keserakahan dan keangkuhan akan kekuasaan, melahirkan prilaku politik menghalalkan segala cara, dan fenomena politik inj sangat berbahaya bagi perkembangan demokrasi bahkan keselamatan bangsa dan masa depannya.

” “Candu” akan nikmat kekuasaan, bisa melahirkan prilaku: lupa balas budi, ditinggalkannya kesetiaan dan bahkan penghianatan. Laku politik hina dalam sejarah kepemimpinan Bumi Nusantara selama berabad-abad. Semenjak Proklamasi 17 Agustus 1945 oleh putra terbaik bangsa Soekarno – Hatta, menjadi hamparan pulau dari Sabang sampai Merauke,” kata Jro Gde Sudibya. (Adi Putra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here