Balinetizen.com, Denpasar
Pasca drama pembajakan konsitusi di MK (meminjam istilah wartawan senior cum sastrawan Goenawan Muhammad), sejumlah kalangan intelektual (antara lain GM, Ibu Komariah Nurcholish Madjid, Romo Benny dan sejumlah intelektual lainnya) “sowan” ke Gus Mus, agamawan cum sastrawan ke pesantren beliau di Rembang, Jawa Tengah.
Jro Gde Sudibya, aktivis demokrasi, pengamat ekonomi politik, Senin 13 November 2023 menyikapi hal itu sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa ini. Bahwa bangsa dan MK sedang tidak baik baik.
Seperti yang dikatakan oleh GM usai bertemu Gus Mus, bahwa kesetiaan/ loyalitas sekarang bisa dibeli. Jabatan dan kekuasaan bisa dibeli. Kalau semua bisa dibeli itu berarti tingkat kepercayaan kepada pejabat sudah berkurang. Itu artinya masyarakat tidak percaya lagi dengan kekuasaan.
Menurut Jro Gde Sudibya, setelah “sowan” ke Gus Mus, intelektual ini melakukan press release, yang menggambarkan luka hati terhadap kekumuhan politik yang sedang berlangsung di menjelang Pilpres 14 Februari 2024.
“Luka hati dari kalangan intelektual ini, akibat dari KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) yang semakin berjaya, mencapai puncaknya dalam politik dinasti yang menjadi sorotan publik,” kata Jro Gde Sudibya, aktivis demokrasi, pengamat ekonomi politik.
Menurutnya, nurani berpolitik bangsa begitu merosot, nyaris sampai ke titik nadirnya, kekuasaan bisa dibeli dan diperjual belikan, yang memerosotkan saling percaya -mutual trust- antar anak-anak bangsa, yang bisa membahayakan masa depan bangsa.
“Salah guna kekuasaan begitu nyata dipertontonkan, punya potensi besar proses Pemilu tidak berlangsung LUBER, fair dan transparan, menyumbat proses demokrasi dan mengkhinati reformasi,” kata Jro Gde Sudibya, aktivis demokrasi, pengamat ekonomi politik. (Adi Putra)

