Makna di Balik Peristiwa, Pembagian Sembako Presiden Joko Widodo di Depan Istana Merdeka

0
146

Makna di balik peristiwa pembagian sembako di hadapan Istana, di menjelang Pilpres 14 Februari 2024, dimana Gibran anak sulung Jokowi maju sebagai Cawapres 02 berpasangan dengan Prabowo (Menhan yang masih aktif dalam kabinet JW).

Pertama, dalam masa kampanye, dengan “social distrust” rendah pada penguasa, akibat pemihakan dalam Pilpres, publik menilai ini bentuk kampanye terselubung untuk pemenangan pasangan 02 Prabowo – Gibran. Tindakan yang bisa diartikan pelanggaran terhadap etika publik Presiden sebagai Kepala. Pemerintahan dan Kepala Negara. Kedua, Presiden dan Istana Kepresidenan sebagai simbol negara, yang semestinya menjadi identitas dan kebanggaan negara, begitu rendah diturunkan derajatnya, sebatas alat politik dinasti untuk memperpanjang kekuasaan. Ketiga, publik bisa mengartikan peristiwa ini sebagai pesan ” Aku adalah negara”, boleh melakukan apapun dengan mengabaikan: sumpah jabatan, etika publik dan bahkan konstitusi. Orang yang belajar sejarah, dapat mengingatkan jargon raja Prancis Louis ke XVI, “Aku adalah Negara”, sebagai pemicu Revolusi Perancis dengan jargonnya yang begitu terkenal “Liberte, Egalite, Fraternite”, Kebebasan, Persamaan dan Persaudaraan. Keempat, dengan menggunakan instrumen: sembako, BLT dan bansos lainnya untuk meraup suara pemilih, mungkin di bawah sadar Jokowi pembangunan yang berlangsung di hampir 10 tahun pemerintahannya, dengan totalitas hutang Rp.3,500 T, 43 persen dari total hutang pemerintah Rp.8,000 T, tidak mampu berbuat banyak mengangkat tingkat kesejahteraan jutaan warga miskin. Kelima, konsekuensi dari keadaan di butir empat di atas, “memanfaatkan” kemiskinan warga melalui aneka rupa bansos, sebagai manuver politik untuk meraup suara kaum miskin (yang sudah tentu belum tentu melek secara politik, dan atau masa bodo karena tiap hari harus bergelut untuk bisa bertahan hidup).

Baca Juga :  Soroti Ketidakpastian Global, Pemuda Hindu Yakin Presiden Mampu Hadapi Kondisi Krisis Akibat Perang

Penulis : I Gde Sudibya, ekonom, pengamat politik dan ekonomi pembangunan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here