MEM-BAGONG-KAN, “Mencintai Indonesia, karena aku turut memiliki kenangannya.”

0
45

Ngurah Karyadi

Kutipan dari Hamilton, salah satu tokoh dalam novel/film Year’s Of Living Dangerously. Mirip dengan suasana psikologis penulis akhir-akhir, ditengah berbagai ketidak pastian. Apabila dikorelasikan pada pelarangan yang terjadi di era Orde Baru sampai hari ini, maka dengan tidak memperbolehkan menghadirkan novel/film ini di Indonesia, nyanyian “Bayar, bayar, bayar”-nya Sukatani, atau kini dengan film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, karya kolaborasi Watchdog, Greenpeace, dst-nya, bukankah sama halnya membunuh sikap kritis disela kecintaan masyarakat terhadap negerinya sendiri. Oleh sebab itu, terlepas dari benar/tidaknya, baik/buruk muatan yang ada, novel, film, atau nyanyian merupakan sajian berharga untuk Indonesia.

Novel/film, yang diawali adegan pidato hari kemerdekaan 17 Agustus di lapangan Merdeka, Bapak Besar Republik Indonesia, Ir Soekarno, memberi sebutan populer untuk menandai l tahun yang sedang dihadapi masyarakat Indonesia. khususnya tahun 1960-an, Presiden menyebut tahun-tahun ini sebagai tahun “Vivere Pericoloso” (TAVIP). Vivero Pericoloso merupakan idiom yang dikutip dari bahasa Italia. Atau, “Years of living dangerously”, dan atau, “Tahun-tahun penuh bahaya”, yang dalam bahasa Gen Z: Mem-bagong-kan

Mem-bagong-kan merupakan istilah bahasa, dalam menggambarkan situasi yang membingungkan, mengejutkan, atau sulit dipercaya hingga membuat seseorang terdiam atau shock.
Istilah ini populer di media sosial (seperti Twitter, TikTok, dan Instagram) dan memiliki beberapa akar makna.
Mungkin awalnya diambil dari nama tokoh pewayangan “Bagong” yang dikenal dengan perawakannya yang bulat dan ekspresi wajah yang khas: Mata melotot, lengkap dengan asesorisnya.

Ungkapan tersebut parallel dengan gaya Presiden Bung Karno, dan Presiden RI penerusnya, dalam menciptakan istilah-istilah yang membuat rakyat selalu terpesona, selaksa mantra penggugah kenyataan lewat lontaran klise. Suatu lingkaran retorika hipnotis massa, yang kini dilihat sinis: Omon-omon, atau Hari Omong Kosong. Sederhananya, karisma orasi itulah yang pada akhirnya menciptakan suatu masyarakat negeri yang setia memegang teguh prinsip berbangsa dan bernegara

Baca Juga :  IKIP Saraswati Selenggarakan Seminar Nasional Pendidikan, Sains, Sosial Dan Humaniora

Pada tahun yang disebut dengan TAVIP tersebut, pemilik nama aseli Kusno Sosrodiharjo melihat sebagian besar ibu kota dunia sedang memainkan drama konfrontasi dan saling propaganda. Bung Karno pun begitu. Beliau memanasi egonya dengan nyala sikap “otoriter”, yang terang-terangan meniru Eropa di tahun 1930-an. Ganyang Malaysia, Inggris dilinggis, dan Amerika disetrika. Seluruh dunia Barat dan India juga diajak bersitegang. Orang kulit putih dari kekuatan yang baru muncul—New Emerging Forces (Nefos), dan kekuatan lama yang mapan—Old Established Forces (Oldefos) disebut sebagai Neo-kolonial imperalis (Nekolim).

Peci hitamnya dimiringkan dalam sikap menantang: campuran mencengangkan antara aura pengancam dan playboy. Orang-orang kadang menyebutnya Bapak, tetapi yang lebih pantas baginya adalah Bung, kakak laki-laki yang pemberani, yang melaksanakan setiap tindakan berani yang telah mereka idam-idamkan, dan menyerukan setiap makian yang terbayangkan setiap makian yang terbayangkan pada kemapanan dunia dan pada tuan-tuan kolonial tersembunyi yang mungkin mencoba untuk kembali.

Sementara, Bung Karno yang memiliki banyak sekali julukan ini (Pemimpin Besar Para Buruh, Komandan Utama Revolusi Mental, dan sebagainya) tak dapat disangkal memiliki keyakinan yang sang besar kepada negerinya. Sangat optimistik. Secara misterius, uang pinjaman yang besar digunakan untuk membeli persenjataan dan mendirikan bangunan baru. Presiden juga telah mengeluarkan ketetapan: Jakarta harus segera menjadi ibu kota dunia. Maka hadirlah: lapangan Merdeka; monumen-monumen berdiri; Kota Lama hingga Hotel Indonesia di Jakarta Baru berjejer sejumlah bank dan kantor baru yang berlapis kaca dan sebuah toko serba-ada yang besar dengan aksen barat. Dengan ini dunia memang telah diyakinkan. Artinya, ketika Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri, seluruh mata dunia pun mulai memandang dan memberi perhatian.

Terbukti, 55 negara telah menaruh perwakilan di Indonesia. Misi dari Amerika Serikat dan Uni Soviet tampil dengan mewah di negara Indonesia. Bung Karno membaca fenomena ini: oleh karena semakin kuat beliau menghina mereka (negara asing), semakin banyak yang mereka lakukan untuk menopang mimpi-mimpinya, maka Soekarno tetap angkuh pada keberadaan negara-negara luar.

Baca Juga :  BNN Kini Lengkapi Pelayanan di MPP Kota Denpasar

Soekarno dipuja-puja seluruh rakyat. Hampir semua orang mengasihinya, tak terkecuali golongan yang selalu berbeda paham. Soekarno adalah ratu adil yang menyatukan semua yang berlawanan di dalam dirinya. Menyatukan tujuh belas ribu pulau. Soekarno bukan sekadar seorang Muslim atau sosialis, bukan juga Hindu atau Kristen, melainkan pemersatu, dengan dualitas dan kontradiksinya.

Akan tetapi mendekati masa akhir kepemimpinannnya, jika diibaratkan dalam lakon pewayangan, Arjuna—Soekarno boleh dikatakan telah gagal memperhatikan nasihat Khrisna. Sebab, segalanya dikaburkan oleh nafsu; sebagaimana api oleh asap, sebagaimana cermin oleh debu. Dan dengan itulah matanya telah terbutakan oleh hal-hal besar seperti revolusi tanpa henti.

Momen-momen di kala bertemu dengan petani Marhaen, ketika itu Soekarno bersepeda di desa Cigareleng di tahun 1922 pun tak sengaja terlupakan. Amnesia ini dikentarai karena upaya memfokuskan diri pada revolusi kehidupan bangsa. Revolusi yang diproyeksikan bakal dilaksanakan sampai mati. Dan, Bung Karno alpa mengunjungi kegemarannya masa lalu yakni menghampiri Pasar Baru, menengok rakyat yang selalu bertumpu padanya. Sama-sama demi memajukan bangsa, tapi Beliau lebih memilih mengunjungi resepsi-resepsi bersama tamu kenegaraan di hotel mewah: Hotel Indonesia. Demi melanjutkan revolusi pembangunan meraih tempat utama di dunia, Bung Karno lupa bau rakyat yang paling penting; bau kretek beraroma cengkeh—rokok yang diisap orang-orang miskin. Bau tersebut bercampur bau salah makanan favorit rakyat: sate yang dipanggang di atas anglo arang.

Kebijakan politik yang tidak berlandaskan pada kepentingan masyarakat ini berimplikasi membentuk pandangan-pandangan kritis berbagai golongan. Tuntutan rakyat, pemberontakan hingga mencoba mengkudeta pemerintahan pun pernah terjadi. G30S merupakan upaya puncak dari usaha pemberontakan tersebut. Dan uniknya, keduanya, antara pemberontak ala Wayang, dengan Golongan Kiri (PKI) dan Wayang Golongan Kanan, Kantor Pusat Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) bergerak atas nama tokoh yang mereka cintai: Soekarno.

Baca Juga :  Kasus Gigitan Anjing Rabies di Jembrana Terus Meningkat

Di sini, dalam peristiwa berdarah inilah, sejarah Indonesia 1965 terlihat kabur, samar, dan sukar dinalar. Tetapi pengaburan sejarah tersebut dapat dimaknai dengan baik jika mengamati novel fiksi sejarah, The Year of Living Dangerously: Cinta di Tengah Gejolak Revolusi 1965, karya Christopher Koch.

Christopher Koch menulis The Year of Living Dangerously ini atas dasar pengalaman kakaknya, Philip Koch. Saat negara Indonesia sedang berkecamuk dahsyat, Philip Koch memang sedang berada di Indonesia sebagai reporter. Setelah melakukan serangkaian observasi, novel diselesaikan pada 1978, kemudian diadopsi dalam film Hollywoods yang berjudul sama The Year of Living Dangerously, di tahun 1982.

Novel dan film tersebut telah meraih berbagai penghargaan. Ironisnya, kendati mendapat sambutan hangat di seluruh dunia, namun karya dan film yang bercerita tentang keadaan Indonesia ini justru dilarang produksi dan beredar di negeri, yang digunakan dalam setting cerita. Larangan ini dilakukan sejak rezim orde baru. Alasannya sepele, kisah di dalamnya tidak sesuai dengan sejarah asli. Satu alasan klise, dan mengada-ada.

Timbul kecurigaan, barangkali kekuasaan, orde baru dan penerusnya, mendefinisikan “fiksi” sebagai hal yang bisa dipertanggung- jawabkan, jika dikorelasikan, atau setidaknya dihubungkan dengan realitas sesungguhnya. Sayangnya, titik singgung tersebut tidak akan bertemu jika realitas yang dikonstruksi sebagai kebenaran sesungguhnya, maksudnya adalah realitas versi penguasa, yang vis a vis dengan rakyat. Dua hal yang konyol dan tidak masuk akal hanya untuk mempertahankan kepentingan penguasa. Beruntung pada 1999, larangan tersebut dicabut. Sayangnya, dalam sekejap bebalik arah, absurd,
membingungkan,
aneh atau di luar nalar, yang bikin kaget dan WOW ooo…

*)Ngurah Karyadi, menjalin dan menganyam dari berbagai sumber.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here