![]()
Kuatnya disrupsi digital berdampak signifikan pada nasib media konvensional. Terlebih, dengan kemudahan akses yang ditawarkan oleh media digital, popularitas media konvensional kian menurun. Sementara itu, kehadiran media digital kian merebak di mana-mana. Namun, meningkatnya kuantitas media siber secara drastis ini sayangnya tak diikuti dengan peningkatan kualitasnya. Bahkan, sebagian besar media siber ini terjerumus dalam sindrom clickbait.
Hal tersebut diungkapkan oleh Bambang Harymurti, Tokoh Pers Nasional saat diskusi virtual bertajuk Wajah Pers Indonesia Tahun 2022, Senin (31/1/2022).
Menurutnya, Tantangan Dewan Pers saat ini adalah terjadi fenomena dari puluhan ribu media sekarang itu, ada yang berkualitas tapi bahkan ada yang beracun. Tantangan di 2022 ini, orang makin kesulitan membedakan mana yang media pers sungguhan dan mana yang bukan.
Ironisnya disrupsi digital kian mengikis independensi dan keandalan pers Indonesia, terutama dalam menjaga kesehatan iklim demokrasi.
Sedangkan, Pemimpin Redaksi CNNIndonesia.com Titin Rosmasari percaya bahwa media massa perlu beradaptasi dengan perkembangan digital. Kehadiran media sosial yang berpotensi menjadi ancaman bagi media massa, sejatinya bisa dimanfaatkan untuk kawan yang berjalan beriringan.
Menurutnya, Sebagian (media massa) menganggap (media sosial) sebagai kompetitor, tapi ada juga yang memanfaatkan media sosial. Sekarang ini kita berhadapan dengan pilihan ditunggangi atau menggunakan arus yang mereka (media sosial) bawa.
“Bahkan tak jarang unggahan di media sosial menjadi topik tersendiri yang sering dimanfaatkan oleh media,” tutur Titin.
Perbedaan antara media massa dengan media sosial terletak pada Regulasi atau aturan yang mengikatnya, Moralitas, Hukum dan Etika, juga dapat diperjelas dengan keberadaannya yang Berbadan Hukum, Legalitas yang lengkap, adanya Pengelola-Penanggung Jawab, Verifikasi, Kepentingan nasional menjadi salah satu parameter, Kredibilitas, Kualitas, namun untuk Posisi jurnalis dan masyarakat kini kian setara.
Lain halnya dengan Sapto Anggoro, CEO Nest Technology dan Ketua Dewan Pengawas AMSI (Asosiasi Media Sumber Indonesia) berpendapat bahwa disrupsi digital berdampak pula pada perubahan struktur operasional suatu institusi media, misalnya media online, yang dahulu hanya butuh Pimpinan Redaksi dan Redaktur serta reporter. Kini Job Desc Media Online kita mendapati posisi-posisi seperti, Search Engine Optimization (SEO), Newsroom, Data Research & Fact Check, Community & Engagement Program, Social Media Department, Digital Product Management, Multimedia & Grafis Department, Digital Strategy Associated, Digital Data Analysis, Audience Development Department, Communication, Digital Strategy, Engagement & Content Strategy, Digital Growth and Optimization.
Dan posisi keberadaan SEO atauSearch Engine Optimization sangatlah strategis dalam mengoptimalkan kinerja portal atau konten dalam situs pencarian utamanya dengan Memperhatikan Google Trend, Updating SEO bagi seluruh jajaran redaksi dan Optimalisasi platform media sosial untuk sirkulasi konten. (hd)
