Oleh : Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, bermukim di Desa Tajun, Den Bukit Bali Utara, pengamat kecenderungan masa depan.
Kamis, 11 Juni 2026 raina Sugian Jawa, Jum”at 12 Juni 2026 raina Sugian Bali, raina yang berelasi dengan persiapan menyongsong raina Galungan dan Kuningan. Raina Sugian Jawa, direlasikan dengan penyucian Bhuwana Agung, Alam Raya, Sugian Bali direlasikan dengan makna penyucian diri. Penyucian Bhuwana Agung Alam Raya, penyucian Bhuwana Alit Sang Diri, interaksi ke duanya, diharapkan dan diyakini menjadi spirit penting dalam melokoni kehidupan di dunia maya yang sementara. Spirit untuk membebaskan diri dari keterikatan Maya, bukan sebaliknya menjadi semakin tergantung, terikat dengan hal-hal sementara di dunia sementara ini.
Sugian Bali dalam perspektif sejarah Bali, direlasikan dengan kedatangan Mpu Baradah, Bhagawanta dari Raja Airlangga di Jawa Timur. Pengaruh Mpu Baradah cukup kuat dalam sosiologi agama masyarakat Bali. Ada dua Pura Kahyangan Jagat dimana Mpu Baradah di “stana” kan, Pura Merajan Kanginan di Besakih, Pura Tanjung Sari di Sila Yukti Padangbai.
KESUCIAN, Alam Raya dan Sang Diri merupakan komponen kunci dalam sistem keyakinan Hindu di Bali. Kesucian tidak sebatas wacana, dipratekkan dalam ke seharian kehidupan, menjadi tolok ukur dalam melakukan penilaian terhadap prilaku seseorang.
Demikian Kesucian Alam, Pura, Sang Diri ternodai, dinodai menjadi persoalan besar di Tanah Bali.
Tolok ukur Kesucian Alam, Pura begitu jelas, menyebut saja: Konsepi Tri Angga dalam pengaturan ruang, Konsepsi Tri Hita Karana yang telah masyhur, Bhisama Kesucian Pura oleh PHDI.
Dengan demikian Kesucian Alam dan Pura bukanlah sesuatu yang diawang-awang, Tolok ukur, “sipat siku-siku” jelas dan kongkrit. Sekarang Kesucian Alam Bali mengalami tekanan, akibat kapitalisme pariwisata yang “memuja” maksimalisasi keuntungan, abai terhadap Alam dan bahkan merusaknya. Pemerintah sebagai representasi negara cendrung permisif terhadap penyimpangan pengelolaan Alam, dalam penentuan RUTR, penegakan hukum lingkungan. Akibatnya, “gumine benyah latig” dengan kerusakan alam yang nyaris tak terpulihkan.
Perlawanan terhadap kerusakan, pengrusakan Alam yang berarti mengotori kesucian Alam selalu terjadi dari kumpulan insan-insan manusia yang sang dirinya bersih, manusia manusia Mahardika, merdeka dari jebakan “sad ripu”, “panca indria”, “sapta timira”. Mereka yang mencintai kesucian, karena terjadi interaksi, interaksi antara kesucian “Panca Maha Bhuta”dalam Diri dengan “Panca Maha Butha” di Alam Raya, melahirkan kecintaan otentik terhadap Alam Raya yang disucikan, yang identik dengan Tuhan itu sendiri. Jatuh cinta pada kesucian Alam Raya, nyaris identik dengan “rangkulan” terhadap kekuatan Tuhan itu sendiri – in loving to the universe embodied with god its self-. Kesadaran untuk mempertahankan kesucian Tanah Bali akan membesar, soal kalah menang bagi mereka tidak lagi relevan, karena mereka manusia merdeka yang telah terbebaskan.
The White numbers, “titik-titik putih” telah disampaikan, kembali ke kesadaran para penguasa pengambil kebijakan dan rakyat sebagai pemegang kedaulatan.

