Ilustrasi
Balinetizen.com, Jembrana
Ni Kadek ALDP (14), salah satu siswi SMP di Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana terpaksa putus sekolah. Ia sudah tidak bersekolah sejak enam bulan lalu ketika duduk dibangku kelas 2 dan akan naik ke kelas 3 SMP.
Keputusan itu diambil diduga ia mendapat perlakuan kurang baik sehingga merasa tidak nyaman saat bersekolah.
Didampingi Wayan W, ibunya, Senin (8/9/2025), Ni Kadek ALDP mengaku tidak mau lagi sekolah karena merasa tidak nyaman dengan tingkah laku teman-temannya.
“Saya dijelek-jelekkan, dijauhin mereka. Saya tidak disapa. Kalau saya sapa, mereka tidak menyahut. Saya merasa tertekan, tidak nyaman. Saya hanya punya satu teman yang baik pada saya,” ungkapnya.
Wayan W menuturkan, sewaktu sekolah anaknya sering sakit bahkan pernah pingsan. Ia menduga itu kemungkinan disebabkan anaknya terlalu memikirkan perlakuan teman-temannya.
“Anak saya sempat kurus. Sekarang baru mulai berisi badannya. Kami sebagai orang tua sudah mendorong supaya tetap sekolah, malah sampai ikut ke sekolah, tapi mungkin karena merasa tertekan anak saya tidak mau lagi sekolah,” ujarnya.
“Sebagai orang tua, saya ingin anak saya lebih sukses dari orang tuanya yang tidak sekolah. Tapi sebagai orang tua, saya tidak berani memaksa, nanti dia sakit lagi,” imbuhnya.
Menurutnya, anaknya sempat sakit sewaktu kelas 4 SD dan lumpuh namun sudah sembuh. Anaknya juga sempat operasi karena amandel. “Anak saya sudah berusaha bertahan tapi di kelas 2 sudah tidak tahan, terus dia ingin berhenti,” ujarnya.
Saat ingin berhenti sekolah, anaknya sudah pamitan dengan guru-guru dan kepala sekolah juga teman-temannya.
“Anak saya ingin kut kejar paket. Katanya lagi setahun baru bisa ikut. Saya tidak bisa memaksa lagi untuk sekolah. Kepala sekolah sudah berpesan kalau anak saya mau sekolah lagi, pintu sekolah selalu terbuka,” sebut Wayan W.
Ni Kadek ALDP yang ingin bekerja ke luar negeri juga tidak mau pindah sekolah karena jauh dan tidak ada yang mengantar. Selama putus sekolah ia membantu ibunya mejejahit untuk dijual.
Mewujudkan keinginan Ni Kadek ALDP berjualan es dan makanan ringan di rumah, ia mendapat bantuan dana sebagai modal awal dari relawan kemanusiaan sebesar Rp.500 ribu.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Jembrana, I Gusti Putu Anom Saputra mengatakan bahwa pihaknya sudah mengkomunikasikan permasalahan yang dialami Ni Kadek ALDP dengan kepala sekolah, pengawas dan kepala SKB terkait.
“Nanti kami akan berkunjung kesana sekaligus memberikan solusi atau alternatif-alternatif kebetulan untuk kejar paket masih bisa masuk saat ini,” ujarnya.
Kepala UPTD PPA Jembrana, Ida Ayu Sri Utami Dewi, mengatakan kalau sampe ada anak sakit atau tidak masuk sekolah berarti ada trauma luar biasa yang dirasakan. “Masukan dari saya kalau boleh nanti kita konseling psikologi anak ini sehingga dia bisa percaya diri lagi dan bersosialisasi seperti biasa,”kata Ida Ayu.
Ketua LPAI (Lembaga Perlindungan Anak Indonesia) Cabang Jembrana I Nengah Suardana mengatakan, pihaknya sempat konfirmasi langsung ke kepala sekolah tempat Ni Kadek ALDP sekolah. Dan dikatakan tidak ada yang membully di sekolah.
Namun demikian, terhadap anak korban bullying, ia menghimbau agar anak tersebut diberikan dukungan emosional dengan mendengarkan dan memvalidasi perasaannya, serta membantu membangun kepercayaan diri dengan mendorong hobi melalui kegiatan positif.
“Jika diperlukan, cari bantuan profesional seperti psikolog atau konselor untuk membantu anak memulihkan diri dari dampak bullying,” pungkasnya. (Komang Tole)

