Pariwisata Bali Jangan Kehilangan Akar, Eka Mahardika Serukan Ngempu Alam, Manusia, dan Budaya

0
46

Balinetizen.com, Denpasar –

 

Konsep pariwisata Bali kembali diteropong dari perspektif yang berbeda. Direktur Utama Mahardhika Institute, Eka Mahardhika, menawarkan gagasan “Ngempu Bali” sebagai gerakan kultural untuk mengingatkan kembali pentingnya menjaga alam, manusia, dan kebudayaan Bali di tengah derasnya perkembangan industri pariwisata.

Eka yang selama ini aktif menyuarakan isu sosial, budaya, dan lingkungan di Bali, menggagas Ngempu Bali melalui Mahardhika Institute. Gagasan tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap kecenderungan komersialisasi pariwisata yang dinilai berlebihan dan berpotensi menjauhkan pembangunan dari masyarakat lokal sebagai pusat perubahan.

Konsep Ngempu Bali mengusung gagasan Tri Dharma Wangsa Bali, yakni Ngempu Alam, Ngempu Manusia, dan Ngempu Budaya Bali.

“Dalam bahasa Bali, ngempu memiliki makna menjaga, memelihara, dan mendidik. Istilah ini erat dengan peran seseorang yang mengasuh dan bertanggung jawab terhadap sesuatu yang menjadi kewajibannya,” ungkapnya di Acara Diskusi Publik ‘Meneropong Bali dari Sudut yang Berbeda’, yang digelar IWO Bali dalam Rangka HUT ke-14 dan HUT IWO Bali ke-1, pada Minggu 31 Agustus 2026 di Aula Dinas Pariwisata Bali, Renon, Denpasar.

Makna tersebut, imbuhnya kemudian diperluas menjadi sebuah prinsip kehidupan. Ngempu bukan hanya tindakan menjaga, tetapi juga hubungan timbal balik antara pihak yang menjaga dan sesuatu yang dijaga.

Mengapa Harus Ngempu?

Bagi Eka, ngempu merupakan bentuk keutuhan tanggung jawab seseorang atas tugas dan kewajibannya.

Ketika proses tersebut dilakukan secara sadar, maka tanggung jawab terhadap lingkungan, manusia, maupun kebudayaan tidak berhenti sebagai slogan. Sebaliknya, ia menjadi bagian dari perilaku dan tata kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks Bali, prinsip tersebut menjadi penting karena perkembangan pariwisata tidak dapat dilepaskan dari keberadaan alam, masyarakat, adat, budaya, dan spiritualitas Bali.

Baca Juga :  Bupati Suwirta Minta Rumah Sakit Umum Swasta Tingatkan Partisipasi Layanan Pasien Covid-19

Karena itu, Ngempu Bali diarahkan untuk membangun kesadaran bahwa Bali bukan semata-mata destinasi wisata, melainkan ruang hidup yang harus dijaga bersama.

Tiga Aspek Utama Ngempu

Konsep Ngempu Bali setidaknya memiliki tiga aspek utama.

Pertama, menjaga dan memelihara. Ngempu berarti menjaga segala sesuatu yang menjadi tanggung jawab agar tetap lestari dan memberikan manfaat bagi kehidupan.

Kedua, mendidik. Menjaga tidak cukup hanya dengan tindakan fisik. Dibutuhkan pendidikan moral, pengetahuan, dan kesadaran agar setiap orang memahami tanggung jawabnya.

Ketiga, interaksi timbal balik. Dalam perspektif kehidupan masyarakat Bali, hubungan manusia dengan alam maupun lingkungannya bukan hubungan satu arah. Manusia menjaga alam, sementara alam menopang kehidupan manusia.

Karena itu, ngempu juga dipandang sebagai tugas yang berlangsung sepanjang hayat.

Belajar dari Wejangan Leluhur

Gagasan tersebut memiliki keterkaitan erat dengan warisan nilai leluhur Bali. Salah satunya tercermin dalam Bhisama Lontar Batur Kelawasan, yang memberikan wejangan mengenai tata kehidupan masyarakat Bali yang menyatu dengan alam.

Pesan tersebut menekankan pentingnya menjaga kelestarian gunung dan laut sebagai bagian dari keberlangsungan kehidupan. Gunung dipandang sebagai sumber kesucian, sedangkan laut menjadi ruang untuk menghilangkan kekotoran.

Manusia juga diingatkan untuk hidup dari hasil tangannya sendiri dan tidak membangun kehidupan dengan merusak alam.

Pesan leluhur itu menjadi relevan ketika Bali menghadapi berbagai tantangan akibat pertumbuhan penduduk, pembangunan, tekanan terhadap lingkungan, serta perkembangan pariwisata yang semakin masif.

Selaras dengan Nangun Sat Kerthi Loka Bali

Konsep Ngempu Bali juga ditempatkan dalam kerangka Nangun Sat Kerthi Loka Bali, sebuah visi pembangunan yang menempatkan alam, manusia, dan kebudayaan sebagai fondasi kehidupan Bali.

Nilai tersebut diwujudkan melalui Sad Kerthi, yakni enam sumber kesejahteraan dan kebahagiaan kehidupan secara niskala-sakala: Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi, dan Jagat Kerthi.

Baca Juga :  Sidang Lanjutan Dugaan Malpraktek, Ahli Farmasi Sebut Injeksi Antrain Tepat dan Bukan Malpraktek

Dalam perspektif Ngempu Bali, keenam Kerthi tersebut diterjemahkan menjadi tanggung jawab nyata untuk menjaga kehidupan Bali.

Atma Kerthi menjadi proses ngempu spiritualitas Bali, dengan menjaga akar spiritualitas, desa adat, pura, pratima, simbol keagamaan, bahasa, aksara, sastra, serta warisan budaya Bali.

Segara Kerthi diterjemahkan sebagai ngempu laut dan pesisir, melalui upaya menjaga laut, pantai, sungai, serta membangun kesadaran masyarakat terhadap persoalan sampah dan lingkungan.

Sementara Danu Kerthi menjadi bentuk ngempu sumber mata air dan danau. Air dipandang sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga keberlanjutannya.

Selanjutnya, Wana Kerthi menjadi bentuk ngempu vegetasi dan tumbuhan. Pelestarian tanaman endemik Bali menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan alam.

Kemudian Jana Kerthi diarahkan pada ngempu sumber daya manusia Bali. Masyarakat Bali harus menjadi subjek pembangunan dengan mengoptimalkan potensi sumber daya manusia yang berakar pada kebudayaan lokal.

Sedangkan Jagat Kerthi menjadi bentuk ngempu Pulau Bali secara menyeluruh. Bali dipandang sebagai sebuah ruang kehidupan yang kompleks sehingga membutuhkan pengelolaan yang fokus, lurus, dan tulus.

Dari Konsep Menjadi Gerakan

Ngempu Bali tidak berhenti pada gagasan filosofis. Konsep tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bidang kehidupan.

Pada aspek spiritualitas, misalnya, gagasan tersebut mencakup pemuliaan desa adat, perlindungan kawasan suci, penguatan kebudayaan, serta pemajuan bahasa, aksara, dan sastra Bali.

Di sektor lingkungan, Ngempu Bali mendorong perlindungan danau, mata air, sungai, dan laut, pengurangan sampah plastik sekali pakai, pengelolaan sampah berbasis sumber, serta pelestarian tanaman endemik Bali.

Sementara dalam pembangunan manusia, gagasan ini menyentuh penguatan perekonomian adat Bali, peningkatan kualitas SDM, perlindungan pekerja migran asal Bali, pelayanan kesehatan tradisional, hingga berbagai program penguatan kebudayaan.

Baca Juga :  Gubernur Koster Minta Bupati/ Walikota Tidak Terbitkan Izin Pembangunan Hotel-Restoran dan Toko Modern Berjejaring

Pada skala Pulau Bali, konsep tersebut mencakup gagasan Bali Pulau Organik, Bali Mandiri Energi dengan Energi Bersih, kendaraan bermotor listrik berbasis baterai, Ekonomi Kerthi Bali, keseimbangan pembangunan antarwilayah, serta pariwisata budaya yang berkualitas dan bermartabat.

Termasuk pula penguatan produk lokal, perlindungan karya intelektual Bali, digitalisasi, pengembangan pusat kebudayaan, konektivitas antarwilayah, hingga pengembangan Bali sebagai pusat pariwisata maritim.

Mengembalikan Bali kepada Jati Dirinya

Pada akhirnya, Ngempu Bali menawarkan cara pandang bahwa pembangunan dan pariwisata tidak boleh hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, investasi, maupun pertumbuhan ekonomi.

Ada dimensi yang lebih mendasar, yakni apakah pembangunan mampu menjaga alam, memuliakan manusia, dan mempertahankan kebudayaan sebagai identitas Bali.

Dalam perspektif tersebut, masyarakat lokal bukan sekadar pelengkap dalam industri pariwisata. Masyarakat harus ditempatkan sebagai bagian utama sekaligus penggerak perubahan.

Ngempu Bali pun menjadi ajakan untuk melihat kembali Bali sebagai rumah bersama. Rumah yang memberikan kehidupan, tetapi juga membutuhkan penghormatan dan tanggung jawab dari seluruh penghuninya.

“Sebab, ketika alam dijaga, manusia dimuliakan, dan budaya dilestarikan, pariwisata tidak sekadar menjadi mesin ekonomi. Pariwisata dapat tumbuh sebagai bagian dari kehidupan Bali yang tetap berakar pada nilai, keseimbangan, dan jati diri,” tandas pria yang kini juga menjadi Staf Ahli Gubernur Bali ini. (Iwo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here