Jro Gde Sudibya
Balinetizen.com, Denpasar
Pariwisata Bali, Tahun 2025 “Coreng Moreng”, Tahun 2026 Fragile (Mudah Pecah) karena Risiko Bencana dan Kepempinan yang “Gabeng”.
Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat industri pariwisata Bali lebih dari 35 tahun, Rabu 31 Desember 2025.
Menurutnya, “Coreng Moreng” karena banjir bandang 10 September 2025 dan banjir-banjir ikutannya yang mengepung banyak tempat di Bali.
Dikatakan, Tahun 2025 “Coreng Moreng, karena telah terjadi multi krisis yang lain: sampah, kemacetan, kriminalitas dan merosotnya kualitas lingkungan; pantai, pesisir pantai dan danau dan alih fungsi sawah yang tidak terkendali.
Selanjutnya telah terjadi dampak negatif krisis iklim tampak nyata di Bali, membenarkan pendapat para pakar lingkungan dunia dalam Kesepakatan Paris (2016), suhu rata-rata bumi yang naik di atas 1,5 derajat celsius, membuat masyarakat akan mengalami kesulitan melakukan adaptasi.
Di mana suhu bumi Bali dalam 70 Tahun terakhir 1950 – 2020 naik 1,9 derajat celsius, sehingga diperkirakan ke depan banjir bandang, rob, kebakaran hutan akan semakin sering “mengunjungi” Bali.
Dikatakan, karena faktor di atas, brand Bali mengalami tekanan berat, tidak pernah terjadi sebelumnya, berbarengan dengan ketidak-jelasan cetak biru kebijakan dalam merawat brand atau upaya memperbaharui brand untuk membuat pariwisata Bali lebih adaptif merespons perubahan.
Menurutnya, timbul perdebatan tentang fenomena Bali sepi turis, refleksi saja dari menurunnya brand Bali.
Berdasarkan data tahun 2025 yang akan segera berakhir diperkirakan kedatangan wisatawan melalui Bandara Ngurah Rai sekitar 7 juta orang, naik sekitar 700 ribu dibandingkan tahun 2024.
Wisatawan domestik melintas 5 tahun lalu menurut Jurnalisme Data Kompas 22 juta, tahun ini belum tersedia datanya.
Dikatakan, angka makro bisa berbeda dengan kondisi riil di lapangan, karena sejumlah faktor: pola menginap tamu yang berubah, ketatnya persaingan di industri jasa transportasi, pola belanja wisatawan yang juga berubah.
“Ini PR bagi pengambil kebijakan untuk merumuskan perubahan pola ini dalam penyusunan program pariwisata yang lebih terpadu dan berkelanjutan,” katanya.
Dikatakan, Tahun 2026 industri pariwisata Bali punya potensi fragile (mudah pecah) bisa akibat naiknya risiko bencana: banjir bandang, rob dan kebakaran hutan.
Menurut Jro Gde Sudibya Industri pariwisata sebagai “leissure industriy”, industri senang-senang, kegiatan ekonomi berbasis pengalaman -experience economy- bisa mengalami tekanan. Di kalangan Gen Z ada kecenderungan penilaian pengalaman bepergian lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan kekayaan aset fisik.
Menurutnya, Kepemimpinan dalam pengelolaan pariwisata yang “gabeng” tidak jelas dan tidak berpola, akibat dari:
a.Tidak tajamnya penentuan prioritas pendukung dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Contohnya, program pengelolaan sampah yang “kocar-kacir”.
b.Alokasi dana APBD untuk memperbaiki kualitas daerah dan tempat wisata tidak jelas polanya. Contoh, Badung dengan APBD besar yang berasal dari industri pariwisata, dana Badung “Angelus Bhuwana” tidak ditujukan untuk mengembangkan sarana dan prasarana wisata yang lebih berkualitas.
c.Koordinasi antara pemerintah dengan “stake holders”pariwisata lainnya tergolong lemah, sehingga tidak lahir program bersama yang gotong royong untuk mengembangkan ide-ide besar seperti.pengembangan pariwisata berkualitas, inovasi dalam pengembangan produk wisata.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

