Balinetizen.com, Buleleng
Lovina Festival yang digelar 24-28 Juli 2026 di kawasan destinasi wisata Lovina ditampilkan berbagai atraksi. Salah satunya
color run cross country_ 8 kilometer.
Event ini sengaja diarahkan untuk promosi pariwisata Bali Utara dan mendatangkan wisatawan dari luar daerah.
“Diadakannya cross country_ 8 kilometer dengan harapan mendatangkan wisatawan dari luar daerah, dan mungkin nanti skalanya di tahun mendatang berskala internasional,” ujar salah satu pelaku pariwisata Nyoman Arya Astawa yang akrab disapa Mang Dauh didampingi Agus Widi sembari menyebut berdasarkan data sementara, hampir 85% peserta color run berasal dari luar Buleleng.
Iapun meyakini para pelari tidak akan datang di hari H saja.
“Mereka akan datang ke Lovina, dan akan tinggal beberapa hari. Tidak mungkin mereka datang pagi-pagi jam 5. Paling sedikit 1 hari sebelumnya sudah datang ke sini, malahan tak mungkin juga datang sendiri. Yang punya pacar ngajak pacar, yang punya keluarga ngajak keluarga,” jelasnya.
Efek domino dari kedatangan peserta ini diharapkan menggerakkan ekonomi lokal. Mulai dari hotel, wisata lumba-lumba, hingga UMKM di Buleleng.
“Multiplier effect yang kita timbulkan apa? Mereka tinggal di hotel, menginap beberapa hari, menikmati wisata lumba-lumba, dan UMKM yang ada di Buleleng. Jadi ini bukan sekadar mereka datang lari,” ujarnya.
Bukti awal sudah terlihat. Berdasarkan komunikasi dengan sejumlah hotel, okupansi pada hari Jumat pelaksanaan acara terpantau penuh.
“Kalau dicek per hari ini, itu booking-an hotel dari hari Jumat full. Tadi saya mau nyari hotel teman aja udah enggak ada,” katanya.
Untuk pertama kalinya, rute cross country mengambil konsep “Nyinggar Gunung”. Para pelari akan disuguhi pemandangan khas Bali Utara yang selama ini kalah populer dari Ubud.
“Kita pelari itu akan lari menyaksikan hamparan sawah, terus pemandangan bukit yang luar biasa, ending-nya di Bingin Banjah itu, di Tanjung Alam itu. Mereka lari sepanjang 200 meter di kiri kanan tuh pemandangan sawah.
Ternyata, selama ini kita bangga Ubud, Ubud, Ubud, ternyata di Bali Utara kita semua ada,” ujarnya.
Dipadukan dengan Budaya dan Kuliner Lokal
Tidak hanya berlari, peserta juga akan disambut atraksi budaya di 5 titik. Panitia telah berkoordinasi dengan Perbekel Kalibukbuk dan Kaliasem.
“Sepanjang mereka lari ini, saya kombinasikan dengan budaya juga. Akan disambut dengan atraksi beleganjur, ada atraksi tek-tekan, ada atraksi hadrah. Jadi pelari itu bukan mengejar hadiah, tapi bagaimana kita welcome mereka,” jelasnya.
Masyarakat juga dilibatkan. Truna-truni, anak SD, hingga Ibu PKK akan turun menyambut. Di setiap spot juga disediakan buah gratis untuk peserta.
“Termasuk nanti di Kaliasem, masyarakat kita turunkan. Truna-truni, anak SD, Ibu PKK, termasuk nanti di masing-masing spot itu kita suguhkan, ada buah nanti kita suguhkan. Jadi pelari juga bisa menikmati suguhan buah yang kita sediakan itu gratis. GS

