PEM-BUSUK-AN

0
46

Ilustrasi

“Imperialism leaves behind ‘germs of rot’ which we must clinically detect and remove from our land but from our minds as well” (Frantz Fanon, Wreck of Earth, 1961).

Kutipan Fanon “Germs of rot”, (Germes de pourriture, Perancis)”.
atau Kuman Pem-busuk-an penjajahan, atau imperialisme,dan kolonialisme, sesungguhnya mestinya selesai dengan deklarasi kemerdekaan, 17/08/1945. Namun, sepertinya belum benar-benar menjadi masa lalu. Penjajahan hanya berganti bentuk: dari penjajahan fisik kini menjadi cara pandang, mentalitas, bahkan ‘nostalgia romantis’, alias rombong-an makan gratis, seperti kini tersaji dalam Ibu Korupsi Negara (IKN), Makan Bergizi Gratis (BGN/MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KopdesMP), dan seterusnya.

Hal ini searah dengan peringatan Sang Putra Fajar, Soekarno: “Perjuangan kalian lebih berat, karena berhadapan dengan bangsa sendiri”. Mengikuti Frantz Fanon, telah terjadi ‘internalisasi’, sublimasi, atau peniruan prilaku dari korban, atau menjadi seperti para penjajah, yakni:
Pertama, kebusukan/korupsi sistematis, mulai dari aras pikir, kelembagaan dan mekanisme, sampai prilaku budaya.
Kedua, pem-busuk-an mental, dalam bentuk sikap rendah diri, inferior, dan terasing.
Untuk itu, perlu upaya psikologis, atau terapi: Post Trauma Stress Disorder (PTSD), atau pun Narsistic Personalities Disorder (NPD).

Kesan itulah yang mengemuka ketika penulis membaca buku-buku, karya seperti: Ketut Tantri (Revolt in Paradise, 1960), Benedict Anderson (Imagine Community, 1983), Takhasi Shiraishi (Zaman Bergerak, 1986), atau pun Michel Maas (De Gelogen Kolonie: Naar Indonesië om Indië te vergeten, 2025). Buku-buku itu secara terang-terangan menggugat romantisme masyarakat dunia, khususnya Belanda dan Jepang terhadap Hindia Belanda/Indonesia.

Kita perlu jujur mengakui bahwa hingga hari ini, sebagian masyarakat dunia , khususnya Belanda dan Jepang, masih membayangkan Indonesia melalui lensa jajahan. Yang mereka ingat bukan penderitaan rakyat jajahan, melainkan ketertiban kota-kota jajahan, bangunan tua, kanal-kanal, perkebunan tropis, dan kehidupan eksotis di negeri jauh. Hindia Belanda dikenang sebagai “masa indah” yang tenteram dan damai. Suatu cara pandang yang sampai kini jadi slogan penguasa paska penjajahan, yang datang silih berganti.

Baca Juga :  Bupati Sanjaya Lantik Direksi PUDDS Anyar

Romantisme penjajah selalu bekerja dengan cara yang sama: menghapus suara korban dan hanya menyisakan kenangan dari sudut pandang penguasa. Dalam nostalgia penjajah, tanam/kerja paksa (Rodi dan Romusha)
lenyap dari ingatan dan catatan sejarah. Kelaparan akibat Tanam/Kerja Paksa dianggap sekadar catatan kaki sejarah, dan tanpa repatriasi korban, seperti cerita Kakek penulis suatu waktu. Kekerasan militer dilupakan. Yang tinggal hanyalah foto-foto hitam putih yang tampak indah di museum, atau kartu pos pariwisata.

Karena itu, buku-buku tersebut penting bukan hanya bagi Belanda dan Jepang selaku pelaku, tetapi juga bagi Indonesia, selaku korban. Buku-buku tersebut mengingatkan bahwa penjajahan tidak pernah dibangun demi kemajuan bangsa terjajah. Infrastruktur penjajah bukanlah hadiah. Ketertiban penjajah bukanlah kemurahan hati. Semuanya dirancang untuk melayani kepentingan politik, ekonomi dan sosial budaya kaum penjajah.

Secara sejarah, sistem Tanam/Kerja Paksa Merupakan bentuk perbudakan. Kekayaan Nusantara disedot habis-habisan demi menopang ekonomi Belanda dan Jepang. Bahkan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, kekerasan masih berlangsung ketika Belanda berusaha kembali menguasai republik ini, melalui agresi militer, maupun atas nama bantuan ekonomi melalui IGGI, CGI dan sejenisnya.

Namun persoalannya tidak berhenti pada kekerasan fisik. Yang lebih berbahaya adalah apa yang disebut Maas, dengan meminjam istilah Frantz Fanon, sebagai “Germs of rot”—kuman pembusukan, dalam berbagai kolusi, korupsi dan nepotisme . Kuman , atau dalam bahasa Iwan Fals: Tikus Kantor, tersebut sudah menjangkiti semua sendi-sendi hidup berbangsa dan bernegara, dari Hulu-isasi sampai Hilir-isasi. Sepertinya,b perlu ritual/upacara: Ngaben Tikus Kantor, mengikuti Pesta Babi/Bakar Batu-nya warga Papua.

Penjajahan meninggalkan warisan sistem dan mental yang terus hidup jauh setelah penjajah pergi. Kita melihatnya dalam birokrasi yang lebih sibuk mengontrol rakyat daripada melayani mereka. Kita melihatnya dalam politik yang menjadikan negara sebagai alat elite. Kita melihatnya dalam eksploitasi sumber daya alam atas nama pembangunan, tetapi manfaatnya hanya dinikmati segelintir orang.

Baca Juga :  Sekda Adi Arnawa Komit Dukung Gerakan Koperasi di Kabupaten Badung 

Ironisnya, kini yang menjalankan pola kolonial itu bukan lagi penjajah, melainkan sesama anak bangsa sendiri. Inilah sisi paling mengganggu dari warisan penjajah: bangsa terjajah perlahan mewarisi sistem, mulai dari aras/cara berpikir, kelembagaan dan budaya penjajah. Akibatnya, Indonesia kerap kehilangan rasa percaya diri sebagai bangsa besar. Kita lebih mudah kagum pada pengakuan asing daripada menghargai warisan sendiri. Kita lebih bangga menjadi pasar global daripada menjadi peradaban yang berdiri di atas kekuatan sendiri.

Padahal perlawanan Indonesia penuh dengan kontribusi besar bagi sejarah dunia. Mulai dari perlawanan Untung Surapati, yang seorang budak, melawan Belanda di Batavia, dan sekitar di akhir abad ke 17. Atau, Pangeran Diponegoro menunjukkan bahwa penjajahan dapat dilawan dengan visi moral dan spiritual yang kuat. Termasuk Nyai Ageng Serang, Sagung Wah, atau Cut Nyak Dien, membuktikan perempuan memiliki posisi penting dalam perjuangan anti-penjajahan.

Konferensi Asia-Afrika bahkan pernah mengubah arah politik global dengan mempertemukan bangsa-bangsa yang baru merdeka melawan dominasi dunia lama. Tetapi semua itu perlahan meredup ketika kita gagal keluar dari bayang-bayang k
penjajahan sistematis dan mental. Kini, slogan seperti Ganyang menjadi Gandeng Malaysia, Linggis menjadi Ngemis Inggris, dan Setrika menjadi SiErik Trumpet-nya Amerika.

Sehingga, ‘tantangan tanpa tentengan’ terbesar Indonesia hari ini bukan sekadar menghadapi nostalgia penjajah Belanda dan Jepang. Tantangan yang lebih mendesak adalah menghentikan reproduksi sistem dan mentalitas terjajah di dalam diri kita sendiri. Indonesia bukan museum nostalgia penjajahan. Indonesia adalah bangsa merdeka yang semestinya berani mendefinisikan dirinya sendiri—tanpa perlu terus-menerus gunakan kaca mata bekas penjajah. Untuk itu, perlu “reformasi dalam reformasi”, atau “Pem-bero(n)tak-an”, seperti kata Antonio Negri dalam “Time For Revolution” (2000).

Baca Juga :  Jamin Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak, DP3AP2KB Gelar Sosialisasi Desa/Kelurahan Layak Anak Tahun 2021

*) Ngurah Karyadi, Petani, pemburu dan peramu pengganas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here